KETEGUHAN HATI DAN KEBESARAN JIWA

Sabtu, 18 Februari 2012

P I D A T O


11 PIDATO

A. Definisi / Pengertian Pidato
Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk disampaikan kepada orang banyak. Contoh pidato yaitu seperti pidato kenegaraan, pidato menyambut hari besar, pidato pembangkit semangat, pidato sambutan acara atau event, dan lain sebagainya.
Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan publik atau umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karir yang baik.
B. Tujuan Pidato. Pidato umumnya melakukan satu atau beberapa hal berikut ini :
1. mengantarkan pada inti acara (sambutan)
2. Mempengaruhi orang lain agar mau mengikuti kemauan kita dengan suka rela.
3. Memberi suatu pemahaman atau informasi pada orang lain.
4. Membuat orang lain senang dengan pidato yang menghibur sehingga orang lain senang dan puas dengan ucapan yang kita sampaikan.
C. Berdasarkan pada sifat dari isi pidato, pidato dapat dibedakan menjadi :
1. Pidato Pembukaan, adalah pidato singkat yang dibawakan oleh pembaca acara atau mc.
2. Pidato pengarahan adalah pidato untuk mengarahkan pada suatu pertemuan.
3. Pidato Sambutan, yaitu merupakan pidato yang disampaikan pada suatu acara kegiatan atau peristiwa tertentu yang dapat dilakukan oleh beberapa orang dengan waktu yang terbatas secara bergantian untuk mengarahkan pada inti acara.
4. Pidato Peresmian, adalah pidato yang dilakukan oleh orang yang berpengaruh untuk meresmikan sesuatu.
5. Pidato Laporan, yakni pidato yang isinya adalah melaporkan suatu tugas atau kegiatan.
6. Pidato Pertanggungjawaban, adalah pidato yang berisi suatu laporan pertanggungjawaban.
D. Teknik atau metode dalam membawakan suatu pidato di depan umum :
1. Metode naskah, yaitu berpidato dengan menggunakan naskah yang telah dibuat sebelumnya dan umumnya dipakai pada pidato-pidato resmi.
2. Metode Catatan Kecil (ekstemporan), yaitu menuliskan topik-topik pokoknya yang dijabarkan dalam kerangka
3. Metode menghafal (memoriter), yaitu membuat suatu rencana pidato lalu menghapalkannya kata per kata.
4. Metode serta merta (improptu), yakni membawakan pidato tanpa persiapan dan hanya mengandalkan pengalaman dan wawasan. Biasanya dalam keadaan darurat tak terduga banyak menggunakan tehnik serta merta.
E. Persiapan Pidato. Sebelum memberikan pidato di depan umum, ada baiknya untuk melakukan persiapan berikut ini :
1. Wawasan pendengar pidato secara umum
2. Mengetahui lama waktu atau durasi pidato yang akan dibawakan
3. Menyusun kata-kata yang mudah dipahami dan dimengerti.
4. Mengetahui jenis pidato dan tema acara.
5. Menyiapkan bahan-bahan dan perlengkapan pidato, dsb.
F. Kerangka Susunan Pidato. Skema susunan suatu pidato yang baik :
1. Pembukaan dengan salam pembuka
2. Pendahuluan yang sedikit menggambarkan isi
3. Isi atau materi pidato secara sistematis : maksud, tujuan, sasaran, rencana, langkah, dll.
4. Penutup (kesimpulan, harapan, pesan, salam penutup, dll)
5.
G. Membacakan Teks Pidato
Banyak orang berpendapat bahwa berpidato dengan baik hanya dapat dilakukan oleh orang yang mempunyai bakat berpidato. Pendapat itu tidak benar karena berpidato termasuk jenis keterampilan yang dapat dilakukanoleh setiap orang yang mempunyai minat ditambah dengan keinginan untuk belajar dan berlatih. Dengan kata lain, belajar dan berlatih itulah yang menentukan, bukan bakat. Sebab, bakat itu pengaruhnya kecil sekali.
Ada pakar yang mengatakan bahwa pengaruh bakat itu hanya 10%, sedangkan sisanya 90% murni hasil belajar dan berlatih. Berpidato dapat dilakukan dengan empat macam cara, yaitu membaca teks atau naskah, menghafal, spontanitas, dan menjabarkan kerangka topik.
Naskah pidato merupakan sebuah informasi yang telah disusun dengan sistematik untuk disampaikan kepada khalayak. Pembacaannya harus memerhatikan hal-hal berikut.
1. Volume suara harus keras dan jelas. Volume suara harus dapat didengaroleh seluruh khalayak sehingga pendengar dapat menangkap dan memahami informasi yang disampaikan. Apalagi jika tidak menggunakan sarana pendukung seperti pengeras suara.
2. Gunakan intonasi dengan baik dan benar. Membaca naskah pidato harus memerhatikan intonasi dengan baik dan benar (tidak monoton). Berilah tekanan pada kalimat-kalimat yang penting, misalnya kapan harus memberikan nada tinggi dan nada melemah. Semuanya harus diatur agar pendengar tidak ikut terbawa suasana acara pada saat itu.
3. Jaga komunikasi dengan pendengar. Jaga pandangan antara penglihatan Kamu pada teks pidato dengan penglihatanmu kepada khalayak.

H. Berpidato Tanpa Teks
Penampilan seorang pembicara ketika sedang berpidato menjadi pusat perhatian pendengar. Semua yang ada pada pembicara semuanya diperhatikan, mulai dari pakaian, potongan rambut, sampai caranya berjalan menuju pdium. Bahkan cara berdirinya pun tidak luput dari pengamatan pendengar.
Pandangan mata harus dilakukan secara merata menjangkau semua pendengar baik yang di depan maupun yang di belakang, baik yang di sebelah kiri maupun yang di sebelah kanan, pandangan yang merata itu sebaiknya harus disertai dengan senyum ceria yang ikhlas. Gunanya adalah agar semua pendengar merasa diajak bicara.
Agar kegiatan pidato yang dilakukan menarik hati dan perhatian pendengar, seorang pembicara harus mampu memilih metode pidato yang baik. Pada pelajaran semester 1, kamu telah berlatih berpidato dengan menggunakan naskah.
Berpidato tanpa teks dapat dilakukan melalui dua cara, yakni dengan menghafal naskah pidato (memoriter) terlebih dahulu atau hanya menuliskan topik-topik pokoknya yang dijabarkan dalam kerangka (ekstemporan). Berpidato dengan cara menghafal hanya bisa dilakukan kalau naskahnya pendek. Hal ini dapat dipahami karena kemampuan manusia untuk menghafalkan naskah sangat terbatas.
Berpidato dengan menghafalkan naskah sebenarnya bertentangan dengan kebiasaan sehari-hari.oleh karena itu, bila sudah sangat terpaksa, berpidato dengan cara menghafalkan naskah harus kita hindari. Lebih baik naskah pidato kita baca berulang-ulang saja (tidak perlu dihafalkan). Artinya, kalimat-kalimatnya tidak perlu sama dengan naskah tetapi isinya sama. Pidato jenis ini yaitu dengan cara menuliskan pesan pidato kemudian diingat kata demi kata. Seperti manuskrip, memriter memungkinkan ungkapan yang tepat, rganisasi berencana, pemilihan bahasa yang teliti, gerak dan isyarat yang diintegrasikan dengan uraian. Tetapi karena pesan sudah tepat, maka tidak terjalin saling hubungan antara pesan dengan pendengar, kurang langsung, memerlukan banyak waktu dalam persiapan, kurang spontan, perhatian beralih dari kata-kata kepada usaha mengingat-ingat.
Bahaya besar timbul bila satu kata atau lebih hilang dari ingatan.Teknik menghafal (memoriter) mempunyai keunggulan dan kelemahan.
Keunggulannya antara lain:
1. lancar kalau benar-benar hafal;
2. tidak ada yang salah kalau benar-benar hafal; dan
3. mata pembicara dapat memandang pendengar.
Kelemahan teknik menghafal antara lain:
1. pembicara cenderung berbicara cepat tanpa penghayatan;
2. tidak dapat menyesuaikan dengan situasi dan reaksi pendengar; dan
3. kalau lupa, pidatonya gagal total.
Teknik lain yang dapat digunakan adalah dengan cara membuat catatan garis besar pidato dan menjabarkannya ke dalam kerangka (ekstemporan). Berpidato dengan cara ini sangat dianjurkan karena sifatnya sangat fleksibel. Pembicara dituntunoleh kerangka yang dibuatnya. Kerangka itu dikembangkan secara langsung dan dilihat saat diperlukan saja. Pembicara juga bebas menyesuaikan dengan reaksi dan situasi pendengar. Kalau kerangka pidato yang dibuat sudah dapat diingat pembicara dapat tampil tanpa membawa secarik kertas. Hal ini tentu lebih baik lagi, karena pembicara lebih konsentrasi meningkatkan kualitas pidatonya agar lebih menarik.
Pidato dengan teknik ekstemporan mempunyai keunggulan dan
kelemahan.
Keunggulannya antara lain:
1. pokok-pokok isi pidato tak ada yang terlupakan;
2. penyampaian isi pidato runtut;
3. kemungkinan salah dan lupa kecil; dan
4. interaksi dengan pendengar sangat komunikaif.
Kelemahannya antara lain:
1. tangan cenderung kurang bebas bergerak karena memegang kertas jika tidak hafal;
2. terkesan kurang siap karena sering melihat catatan jika tidak hafal;
3. pemakaian bahasa kurang baik.

Setiap teknik berpidato mempunyai kelebihan dan kekurangan. Untuk itu, setiap orang mungkin berbeda pilihannya dengan yang lain karena sangat bergantung pada kesiapan dan kemahiran dalam mempraktikkannya. Untuk meningkatkan keterampilan berpidato tanpa teks, pada pelajaran ini kamu akan berlatih dengan menggunakan teknik ekstemporan yakni hanya menuliskan garis besar pembicaraan. Perhatikan langkah-langkah berikut.
1. Menentukan Tema. Tentukanlah tema pembicaraan yang akan kamu sampaikan dalam pidato. Tema yang dipilih merupakan masalah yang aktual dan faktual serta mampu menarik perhatian peserta pidato.
2. Mencatat Pokok-pokok Pidato. Catatlah pokok-pokok pembicaraan yang akan disampaikan dalam pidato secara runtut, utuh, dan jelas.
3. Menyampaikan Pidato. Sekarang pikirkanlah bagaimana kamu akan menyampaikan pidato! Pikirkan bagaimana kamu akan membuka pembicaraan saat pidato, menyampaikan pidato, dan menutup pembicaraan dalam pidato! Penyampaian pidato hendaknya sistematis serta menggunakan bahasa yang baik dan komunikaif.

Ada beberapa cara yang dapat dipilih untuk membuka pidato, menyampaikan isi pidato, dan menutup pembicaraan dalam pidato. Perhatikan uraian berikut ini!
1. Cara membuka pidato
Pembukaan pidato diucapkan setelah pembicara menyampaikan salam dan sapaan kepada pendengar. Yang dilakukan pembicara adalah mengucapkan salam dan menyapa pendengar dengan sapaan yang tulus, ramah, dan bersahabat. Sapaan yang lazim digunakan antara lain: Bapak dan Ibu yang saya hormati, Saudara-saudara yang saya banggakan atau sapaan-sapaan lainnya. Jumlah yang disapa jangan terlalu banyak. Satu,dua, atau tiga sudah cukup. Kalau terlalu banyak, bisa menimbulkan kebsanan. Apalagi kalau pembicara tampil berpidato pada giliran terakhir, sedangkan pembicara-pembicara sebelumnya sudah menyebutkan sapaan-sapaan yang sama.
Dalam setiap komunikasioperanan pembuka sangat penting. Lancar tidaknya komunikasi banyak ditentukanoleh pembuka. Demikian pula dalam berpidato. Pembuka pidato yang jelek dapat menimbulkan kesan permusuhan yang menghambat kelancaran komunikasi. Sebaliknya, pembuka yang menyenangkan inilah yang mendukung kelancaran berpidato sehingga tujuan pidato mudah dicapai.
Terdapat beberapa kiat membuka pidato, diantaranya dengan menyampaikan hal-hal berikut.
a Mengucapkan rasa syukur
b Menceritakan pengalaman
c Menebar humor
d Memperkenalkan diri
e Menyampaikan gambaran umum
f Menyebutkan fakta pendengar
g Menyebutkan contoh nyata
h Menyampaikan kutipan
i Melibatkan peserta
j Menunjukan benda peraga

2. Cara menguraikan isi pidato
Pembicara dapat menyampaikan isi pidatonya dengan memerhatikan hal-hal berikut.
a Tujuan pidato, apakah tujuannya untuk memberitahukan, menghibur, atau mengajak.
b Suasana dan situasi pidato, resmi atau tidak resmi.
c Pendekatan yang digunakan, apakah menggunakan pendekatan intelektual, mral, atau emsinal. Jika menggunakan pendekatan intelektual, pembicara harus mengutamakan penalaran.
Berbagai alasan, bukti, dan contoh sangat diperlukan dalam menguraikan isi pidato. Jika menggunakan pendekatan mral, pembicara lebih mengutamakan masalah mral dan keagamaan. Jika menggunakan pendekatan emsinal, pembicara harus lebih mengutamakan emsi dapat menyentuh masalah semangatnya, kebutuhannya, lingkungannya, keramahannya, atau yang lainya, mereka mudah terhanyut dan mudah meNoerima isi pidato.
Berdasarkan uraian di atas, pembicara sangat bijaksana kalau melihat, mengamati, dan menganalisis tujuan, situasi, dan pendekatan yang akan digunakan sebelum berpidato.

3. Cara menutup pidato
Ada tiga kesalahan besar yang sering dilakukan pembicara dalam menutup pidato. Pertama, pembicara tidak tahu persis di mana harus berhenti. Kedua, ada pembicara yang sebenarnya ingin mengakhiri pidatonya, tetapi sulit berhenti deperti kendaraan tanpa rem. Ia berbicara apa saja, berputar-putar tak menentu. Ketiga, kesalahan yang paling besar seakan tak beromanfaat, pembicara menutup pidato dengan mengucapkan kalimat seperti berikut:
”Demikianlah yang bisa saya katakan pada kesempatan ini. Karena apa yang akan saya katakan sudah saya katakan semuanya, maka saya tidak akan memperpanjang lagi pidato saya. Karena itu saya akhiri sekian”.Penutupan pidato seperti itu tidak bermakna apa-apa. Cara-cara menutup pidato berikut ini dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan atau situai dan kondisi.
a Menyingkat atau menyimpulkan.
b Memuji pendengar.
c Menyampaikan kalimat-kalimat lucu.
d Meminta pendengar untuk bertindak.
e Menyampaikan ungkapan terkenal.
f Melantunkan pantun.




Sabtu, 04 Februari 2012

Tips Sederhana Naik Pesawat


Untuk bisa menikmati jasa penerbangan maskapai penerbang yang ada, sudah barang pasti kita akan memerlukan yang namanya tiket. Sebaiknya untuk membeli tiket ini jauh hari sebelum hari keberangkatan, terutama pada saat-saat liburan. Hal ini unutk menjamin kita mendapatkan tiket sesuai dengan tujuan yang kit ainginkan. Selain itu pemesanan tiket jauh hari sebelum hari keberangkatan selain menawarkan pilihan seat yang beragam, -promo, ekonomi, bisnis, eksekutif- juga memberikan harga yang lebih murah.
Memang terkadang harga tiket dadakan, yang dibeli sesaat sebelum keberangkatan lebih murah, tapi tiket tersebut biasanya adalah tiket pembatan yang tidak selalu ada.

Sudah sampai di bandara minimal dua jam sebelum keberangkatan akan memberikan waktu yang lebih baik bagi kita. Kita tidak perlu mengantre terlalu banyak saat check in, juga saat memasuki ruang tunggu. Hal ini akan berbeda jika sudah mendekati saat-saat keberangkatan, dimana antrian chek in semakin panjang, belum lagi ancamn tertinggal dan tidak bisa ikut dalam pernerbangan yang sudah dipesan, sementara tiket tidak bisa di kembalikan.
Membawa air minum dan permen dari rumah mungkin adalah suatu ide yang bagus. Saat take off dan landing, akan memberikan sedikit perbedaan tekanan. Dengan makan permen saat masa-masa itu akan mengurangi rasa sakit, terutama dalam telinga yang disebabkan dengan adanya perubahan tekanan tersebut. Sementara saat pesawat terpaksa terbang terlalu tinggi dikarenakan cuaca yang buruk, makan permen tidak akan membantu, tapi seteguk air akan lebih membantu.
Memang, sebagian maskapai memberikan permen, minuman dan bahkan makanan secara gratis di dalam pesawat. Tapi sebagian yang lain menjualnya dengan harga yang berlipat-lipat lebih mahal. Jadi tidak ada salahnya untuk menyiapkan itu kan?

Setiap orang memiliki tempat faforit. Begitu juga di dalam kabin pesawat.
Tempat favorit dalam kabin pesawat adalah kursi paling depan atau di barisan tengah. Jika dalam satu pesawat, seperti boeing 737-900 bercampur antara penumpang kelas bisnis dan ekonomi, bagian depan ini diisi oleh penumpang dengan tiket kelas bisnis. Tentu saja tempat duduk untuk tiket bisnis dengan segala fasilitas yang menyertainya. Tentu saja saat ada rejeki yang lebih  akan lebih memilih tiket ini dari pada tiket kelas ekonomi.
Sebenarnya, bukan masalah fasilitas dan tetek bengeknya. Dengan duduk di kursi paling depan, tengah atau paling belakang adalah tempat paling dekat dengan jalan keluar. Mungkin suatu yang terdengar sepele, tapi bila terjadi suatu hal yang tidak diinginkan, dengan berada pada tempat yang paling dekat dengan jalan keluar tentu akan sangat membantu untuk menyelamatkan diri. Selain itu, tempat duduk pada posisi paling depan dan tengah/samping jendela darurat biasanya memiliki ruang yang lebih longgar dari pada yang lain, jadi kaki lebih terasa leluasa.
Dan kabar baiknya adalah, saat melakukan check in, kita bisa memilih tempat duduk ini, selama tempat yang dimaksud masih kosong.

8 Kado Terindah


Aneka kado ini tidak dijual di toko. Anda bisa menghadiahkannya setiap saat, dan tak perlu membeli!

Meski begitu, delapan macam kado ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang Anda sayangi.

1. Kehadiran

Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir di hadapannya lewat surat , telepon, foto, faks, e-mail atau chatting. Namun dengan berada di sampingnya. Anda dan ia dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebahagiaan.

2. Mendengarkan

Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini, sebab kebanyakan orang lebih suka didengarkan, daripada mendengarkan. Sudah lama diketahui bahwa keharmonisan hubungan antar-manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan.

3. Diam

Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada kekuatan.
Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya, diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada
seseorang karena memberinya “ruang.”

4. Kebebasan

Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan.

Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya?
Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta.
Makna kebebasan bukanlah “Kau bebas berbuat semaumu.” Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.

5. Keindahan

Siapa yang tak bahagia jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih
ganteng atau cantik? Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado. Bahkan tak salah jika Anda mengkadokannya tiap hari!

6. Tanggapan Positif

Tanpa sadar, sering kali kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita sayangi.

Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya
pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas
dan tulus.

7. Kesediaan Mengalah

Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai menjadi cekcok yang hebat. Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini

8. Senyuman

Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa.
Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair
hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputusasaan, pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah.
Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali Anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang Anda kasihi?

Kamis, 02 Februari 2012

Berbagai catatan tentang sikap sabar, ikhlas, tawakal dan syukur


Berbagai catatan tentang sikap sabar, ikhlas,
tawakal dan syukur
Sabar (dalam menghadapi segala ujian-Nya)
»
Tiap manusia tiap saatnya pasti mendapat ujian-Nya, dan tidak seseorang manusiapun yang tidak menghadapinya (dari orang cacat sampai orang normal; dari fakir miskin sampai konglomerat; dari para nabi-Nya sampai manusia biasa; dari orang pintar sampai orang bodoh; dari berusia anak-anak sampai lansia; dsb).

Sedangkan ujian-Nya itu sendiri suatu kehendak-Nya, agar bisa diketahui-Nya, "siapa di antara umat manusia yang beriman".
Wujud dari ujian-Nya itu pada dasarnya berupa perbedaan antara berbagai keinginan batiniah, terhadap berbagai aspek lahiriahnya yang bisa terwujud. Padahal kekuasaan tiap manusia untuk bisa mengatur segala aspek lahiriahnya justru relatif sangat terbatas. Di lain pihaknya, tiap manusia memiliki kekuasaan sepenuhnya untuk mengatur keinginan batiniahnya, agar jurang perbedaan itu juga bisa menjadi berkurang. Usaha dalam mengatur keinginan batiniah ruh inilah wujud dari suatu 'kesabaran'.
Maka secara batiniah, tidak bisa dikatakan bahwa si fakir miskin hidupnya jauh lebih susah daripada si konglomerat. Bahkan si konglomerat memiliki suatu amanat (tanggung-jawab) dan resiko batiniah yang justru relatif lebih tinggi, atas kelebihan hartanya itu (tanggung-jawab pada perolehan dan pemakaian hartanya).
Dan nilai amalan sebenarnya bukan ditentukan dari 'hasil usaha dan kemampuan' lahiriah, tetapi justru dari 'proses berusahanya' yang dalam prosesnya justru diliputi oleh cobaan atau ujian-Nya.

Si fakir miskin dan si konglomerat juga pasti sama-sama diberi-Nya kesempatan, untuk mendapat pahala-Nya yang paling baik pada alam akhiratnya (Surga), dan sebaliknya keduanya bisa pula sama-sama mendapat Neraka.
Maka 'tidaklah semestinya' ada manusia yang merasa perlu lebih dikasihani daripada orang-lainnya, dalam menjalani kehidupan di dunia, semua justru menghadapi persoalannya masing-masing, yang berbeda hanya sudut pandang tiap manusianya yang relatif sangat subyektif. Padahal semua manusia justru 'sama' di mata Allah. Dan kemuliaan atau nilai dari tiap manusia di mata Allah, justru hanya tergantung kepada segala amal-perbuatannya.
Banyak disebut dalam ayat-ayat Al-Qur'an, tentang anjuran-Nya dan keutamaan dalam bersabar. Bahkan orang-orang yang paling bersabar, adalah orang-orang yang paling kuat dan tahan banting (secara batiniah), di antara seluruh umat manusia, karena mereka itu relatif paling mampu menghadapi berbagai ujian-Nya.
Ikhlas (menerima apa adanya segala kehendak-Nya)
»
Beberapa ayat di dalam Al-Qur'an, disebutkan "agar umat Islam berlaku ikhlas dalam beragama". 
Bahwa segala kejadian yang terjadi pada segala zat ciptaan-Nya (termasuk manusia), justru pasti mengikuti sunatullah, walaupun kejadian itu belum tentu berdasar keredhaan-Nya, sebagai wujud dari diberikan-Nya kebebasan kepada taip umat manusia dalam menentukan pilihan jalan hidupnya (ke arah baik ataupun buruk). Termasuk wujud dari saling bercampur-baurnya berbagai 'jalan hidup' dari segala zat ciptaan-Nya di alam semesta. Di samping sunatullah itu sendiri yang memang amat sangat luas aspeknya,
Maka semakin luas aspek yang sulit diperkirakan dan dipahami, dengan pengetahuan pada tiap manusia.
Selain memang tidak ada kekuasaan manusia sama-sekali, dalam memahami segala aturan atau rumus proses kejadian di seluruh alam semesta (sunatullah), juga ada keterbatasan manusia dalam memahami keterkaitan hubungan antar sunatullah, yang berlaku atas masing-masing zat ciptaan-Nya.

Sedang manusia justru hanya bisa 'memilih' sunatullah (secara sadar ataupun tidak), yang diinginkannya yang memang tersedia baginya tiap saatnya, sesuai keadaan dan kemampuannya.
Maka tiap manusia mestinya bisa bersikap ikhlas (menerima apa adanya), atas segala kehendak-Nya di alam semesta ini (melalui sunatullah, bersifat 'memaksa') ataupun atas segala perintah-Nya di dalam ajaran-ajaran agama-Nya (bersifat 'tidak-memaksa').

Misalnya, jika orang-orang yang dicintai meninggal dunia, maka tidak ada alasan bagi seorang manusia, untuk terlalu larut dalam kesedihan. Ia semestinya juga bisa mengikhlaskan kepergiannya, karena segala sesuatu halnya justru memang merupakan bagian dari kehendak-Nya ("tiap-tiap yang berjiwa pasti akan mati").
Selain itu, keikhlasan amatlah dibutuhkan ketika nafsu-keinginan relatif sulit terpenuhi, karena keikhlasan adalah obat yang sangat ampuh terhadap nafsu yang tidak terpenuhi ataupun berlebihan, yang justru paling sering dipakai oleh iblis dan syaitan untuk bisa menyesatkan tiap manusia (bentuk ujian-Nya secara batiniah).

Baca pula topik
 "Makhluk hidup gaib", tentang orang-orang Mukhlis, yang tidak mudah tersesatkan oleh iblis.
Bahkan dalam keadaan yang idealnya, keikhlasan yang sempurna justru bisa menghilangkan hampir sebagian besar dari persoalan manusia, yang pada umumnya memang hanya berasal dari nafsu-keinginan yang relatif berlebihan, dan telah terlalu diperturutkan (menentang kehendak-Nya ataupun perintah-Nya).
Tawakal (berserah-diri kepada-Nya)
»
Secara sederhananya, segala 'keadaan akhir' pasti bisa diketahui, jika segala 'keadaan awal' sebagai masukan bisa diketahui pula, sebelum mulai berlakunya suatu sunatullah. Keadaan awal itulah yang bisa dipilih dan diusahakan oleh tiap manusia (melalui tiap amal-perbuatannya), sesuai pengetahuan dan kemampuannya.
Persoalannya tiap manusia pada umumnya tidak bisa mengetahui berbagai 'keadaan awal' manakah yang memiliki 'keadaan akhir' terbaik sesuai harapannya (selain 'keadaan awal' dari pengaruh lingkungan). Walau ajaran agama telah memberi tuntunan-Nya secara garis besar, bahwa tiap usaha manusia untuk mensucikan 'keadaan batiniah' ruhnya, justru paling penting dan hakiki.
Maka sudah semestinya, jika tiap manusia tetaplah berserah-diri kepada-Nya (bertawakal), ataupun menyerahkan hasil akhir atas segala urusannya kepada kehendak-Nya, karena amatlah terbatas sunatullah dengan segala aspeknya (lahiriah dan batiniah), yang bisa dipahami dan dimanfaatkan oleh tiap umat manusia (bahkan termasuk para nabi-Nya sekalipun).
Hal itu juga bisa menjelaskan tentang, Allah Yang pasti "selalu" menyertai setiap perbuatan manusia, melalui sunatullah (dikawal para malaikat). Serta pasti hanyalah Allah, Yang menyelesaikan segala urusan atau amal-perbuatan manusia (walau belum tentu sesuai dengan keredhaan-Nya baginya).
Misalnya "Allah memberinya rejeki-Nya" dan "manusia mencari rejeki-Nya", adalah kalimat yang sama-sama benar, dan di dalam sesuatu proses yang sama. Perbedaannya hanyalah pada manusia yang memulai, tetapi Allah, Yang menyelesaikan. Juga kalimat "Pelaut itu menundukkan lautan" dan "Allah Yang menundukkan lautan baginya", adalah sesuatu proses yang sama, demikian pula halnya dengan segala perbuatan manusia lainnya.
Namun penting diketahui pula, bahwa Allah pasti Maha adil atau pasti setimpal di dalam menyelesaikan ataupun mewujudkan tiap perbuatan manusia (atau pasti sesuai dengan hal-hal yang telah diusahakan oleh manusianya), sekaligus untuk bisa memberikan balasan-Nya tiap saatnya, selama perbuatan itu sedang dilakukan sampai selesai.

Dan balasan-Nya yang paling utama justru bersifat batiniah, dan sesuai dengan 'proses berusahanya', bukan 'hasil usahanya'.
Syukur (menerima segala pemberian-Nya)
»
Relatif jelas dari uraian-uraian di atas, bahwa segala hasil akhir usaha manusia, adalah hasil pemberian Allah melalui sunatullah, sebagai suatu balasan-Nya (seperti: karunia, rahmat, rejeki, azab, dosa-siksa, pahala-nikmat, hikmah dan hidayah, dsb), yang pasti setimpal dengan tiap usaha atau amal-perbuatan manusianya.

Walau sebagian dari pemberian atau balasan-Nya justru memang belum tentu sesuai keredhaan-Nya bagi manusia.
'Setimpal' itu tentunya menurut penilaian Allah, karena manusia relatif amat subyektif menilai segala sesuatu hal, termasuk relatif amat sulit bisa memahami segala aspek ujian-Nya atas tiap amal-perbuatannya sendiri. Sehingga misalnya, suatu amal-perbuatan yang sama, tetapi hasilnya bisa berbeda bagi tiap manusia (secara lahiriah dan batiniah).

Dari contoh orang biasa dan orang kaya yang bersedekah dalam uraian di atas, maka maksud dari "setimpal" itu juga lebih terkait dengan hal-hal yang bersifat batiniah (jumlah pahala-Nya dan beban dosa).
Tiap manusia semestinya bersyukur atas segala pemberian Allah baginya, apapun bentuknya (langsung ataupun tertunda, lahiriah-nyata ataupun batiniah-gaib), karena Allah Maha mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya, khususnya bagi kehidupan batiniah ruhnya (kehidupan akhiratnya).
Bahkan orang yang paling banyak bersyukur adalah, orang-orang yang paling kaya secara batiniah di antara seluruh umat manusia, karena mereka selalu merasa bercukupan, atas apapun yang telah diberikan-Nya kepadanya.

Relatif jelas tampak dari masing-masing uraian di atas, bahwa sikap-sikap sabar, ikhlas, tawakal dan syukur justru amat saling terkait dan saling mendukung satu dengan lainnya. Semuanya juga bisa amat menolong atau membantu tiap manusia, dalam menjalani kehidupan di dunia fana ini, terutama lagi dalam membangun kehidupan akhiratnya (kehidupan batiniah ruhnya).

hubungan yang harmonis


Ada sebuah kepercayaan yang beredar luas di masyarakat secara turun temurun, bahwa yang menilai diri kita itu adalah orang lain. Tepat, kualitas seseorang hanya bisa dinilai oleh orang lain. Bagaimana kita bertindak setiap hari, memperlakukan orang di sekitar, menanggapi orang lain, semuanya dinilai oleh orang lain. Jangankan prilaku, tata cara kita berbicara, kemampuan kita menyampaikan apa yang kita rasakan, semuanya menjadi satu media penilai bagi orang lain.
Nah selanjutnya, jika nilai kita bagus maka apa yang akan kita dapatkan? Jawabannya adalah perhatian dari orang lain. Orang-orang biasanya tertarik memperhatikan orang dengan kualitas ekstrem, ekstrem jahatnya dan juga ekstrem baiknya. Hal ini menjadi dasar bagi mereka untuk menentukan penilaiannya terhadap kualitas diri kita, yang nantinya sangat berpengaruh terhadap hubungan di kemudian hari. Jika diri kita dinilai baik, maka secara tidak langsung orang-orang akan berbahagia berada di dekat kita. Kita memperlakukan mereka dengan baik, mereka juga akan memperlakukan kita dengan cara yang sama dan itulah yang disebut dengan hubungan harmonis, hubungan yang saling menghargai satu sama lain.
Nah, kemudian pernahkah anda berpikir bahwa kualitas diri kita bisa dilihat dari seberapa harmonis hubungan kitadengan sesama? Jika dilihat secara menyeluruh, hubungan yang harmonis baru bisa tercipta jika manusia-manusia pembentuknya sehati dan saling menyayangi. Lihat saja sebuah keluarga harmonis, antara ayah, ibu serta anak-anaknya ada keterikatan yang erat, saling menyayangi dan mempunyai pandangan yang hampir sama akan sesuatu. Mereka sehati.
Atau hubungan dengan teman-teman. Semakin banyak kita punya teman baik, maka semakin banyak orang yang menyukai kita. Itu artinya diri kita baik, kualitas kita memadai untuk membuat sebuah hubungan sempurna dengan orang lain.
Nah,untuk itu jika anda ingin mengetahui sebaik apa anda menjadi orang, sebagus apa kualitas diri anda, maka anda bisa melihat dari berapa hubungan harmonis yang anda jalin dengan orang lain. Semakin banyak, berarti anda orang yang berkualitas dan itu patut ditingkatkan. Begitu juga sebaliknya. Anda bisa bercermin hubungan itu untuk memperbaiki diri sendiri.

 
Design by Premium Blogger Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lulut Laraseta, Indonesia