Sabtu, 16 November 2013

Sifat 20



Sifat 20
Sheikh Abu Hassan ‘Ali Al-Asy’ari
Imam Abu Mansur Al-Mathuridi
Nafsiah
Salbiah
Ma’ani
Ma’nawiyah




Wujud
Qidam
Qudrat
Kaunuhu Qadiran

Baqa’
Iradat
Kaunuhu Muridan

Mukhalafatuhu Lilhawadith
Ilmu
Kaunuhu ‘Aliman

Qiyamuhu Binafsih
Hayat
Kaunuhu Hayyan

Wahdaniat
Sama’
Kaunuhu Sami’an


Bashar
Kaunuhu Bashiran


Kalam
Kaunuhu Mutakalliman
 Sifat Nafsiah:
            Sifat Nafsiah yaitu dari zat itu sendiri, bukan sifat yang menumpang pada zat itu. Sifat ini dikatakan Nafsiah karena tidak menunjukkan makna yang menumpang pada diri zat. Menurut Jumhur Ulama’ sifat ini menunjukkan kepada zatnya, bukan menunjukkan kepada perkara yang menumpang pada zat.
            Sifat ‘Wujud’ dikatakan Sifat Nafsiah artinya, wujud itu bukan merupakan sifat yang menumpang atau menempel pada Zat Allah Swt. akan tetapi Zat Allah Swt. itu dengan sendirinya kewujudan Allah. Ataupun Zat Allah dengan Wujud Allah tidak dapat dipisahkan. Berbeda dengan Sifat Ma’ani seperti Ilmu, karena sifat ini merupakan sifat yang menempel pada Zat Allah. Artinya sifat Ilmu itu terpisah dengan Zat Allah. Sebab Allah mengetahui sesuatu dengan Ilmu-Nya, bukan dengan Zat-Nya. Hanya sifat ‘wujud’ saja yang termasuk dalam Sifat Nafsiah.  
Sifat Salbiah:
            Salbiah maksudnya, menanggalkan, menolak ataupun menafikan. Maksud sifat Salbiah dalam hal ini yaitu menolak sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah Swt. Umpamanya menolak sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah seperti Baqa’ artinya kekal. Sifat ini menafikan sifat Fana’ ataupun binasa bagi Allah Swt.
Sifat Ma’ani:
             Sifat Ma’ani ialah sifat yang Maujud atau ada yang berdiri pada Zat Allah Swt. yang menyebabkan Zat itu bersifat dengan suatu hukum Sifat Ma’nawiyah. Umpamanya Sifat Ma’ani seperti Ilmu, sifat ini ialah sifat yang berdiri pada Zat Allah. Artinya Ilmu itu sifat Allah bukan Zat Allah. Allah Swt. dapat mengetahui sesuatu dengan Ilmu-Nya bukan dengan Zat-Nya. Yang menyebabkan zat itu bersifat dengan sifat suatu hukum Sifat Ma’nawiyah maksudnya Allah dikatakan Kaunuhu ‘Aliman (Keadaan-Nya Berilmu). Karena Allah mempunyai sifat Sama’ maka Allah dikatakan Kaunuhu Sami’an (Keadaan-Nya Mendengar).
Sifat Ma’nawiyah:
            Sifat Ma’nawiyah yaitu suatu perkara yang sabit atau yang tetap bagi Zat Allah Swt. bersifat dengan Sifat Ma’ani. Di antara Sifat Ma’ani dengan Sifat Ma’nawiyah tidak terpisahkan. Misalnya Keadaan Allah Berilmu (Kaunuhu ‘Aliman – Sifat Ma’nawiyah), ini karena Allah mempunyai sifat Ilmu (Sifat Ma’ani). Ataupun Allah Swt. dikatakan Kaunuhu Qadiran (Keadaan-Nya Berkuasa – Sifat Ma’nawiyah) karena Allah mempunyai sifat Qudrat (Kuasa – Sifat Ma’ani) dan begitu seumpamanya.
            Ada beberapa sebab sifat-sifat ini dinamakan dengan Sifat Ma’nawiyah yaitu, Sifat Ma’nawiyah merupakan cabang dari Sifat Ma’ani. Sesuatu yang bersifat dengan ‘Alim dan Qadir umpamanya tidak boleh bersifat dengan sifat-sifat itu melainkan setelah adanya ilmu dan qudrat baginya. Sifat Ma’ani adalah sebagai ilat atau sebagai malzum kepada Sifat Ma’nawiyah sejak Azali lagi, perhubungan antara keduanya adalah sebagai hubungan antara ilat dengan ma’lulnya.
Sifat yang Wajib bagi ALLAH:
  1.    Sifat WUJUD: Ada
             Allah Swt. wajib memiliki sifat Wujud artinya Allah Swt. itu wajib ada. Allah Swt. adalah sebagai Zat yang Wajibul Wujud artinya Zat yang wajib adanya. Wujudnya Allah Swt. tidak diragukan lagi, kerana adanya Allah dapat dibuktikan dengan dalil Al-Quran dan Al-Hadith (dalil naqal) dan dapat dibuktikan dengan akal (dalil aqali)
            Allah Swt. tidak ada yang menjadikan-Nya dan tidak pula Allah menjadikan diri-Nya sendiri. Adanya Allah tidak diduhului dengan tiada dan tidak diakhiiri dengan tiada. Dan mustahil Allah itu tiada. Wujudnya Allah s.w.t. mutlak artinya adanya Allah Swt. itu wajib, dan mustahil jika Allah tiada ada. Kewujudan-Nya tidak dibatasi oleh sesuatu, waktu, keadaan maupun tempat.
            Wajib pada Syara’ atas tiap-tiap mukalah mengetahui serta mengaku didalam hatinya akan tentu sungguh ada Allah Ta’ala dan tidak terima ‘Adam (tidak ada). Pengakuan didalam hati dengan tentu ada sungguh Allah Ta’ala itulah dinamakan wajib pada ‘aqal. Dan pengakuan tentu tidak, tiada Allah Ta’ala itulah dinamakan mustahil.
  2.    Sifat QIDAM: Sedia
Qidam artinya ‘Sedia’, yaitu adanya Allah Swt. tidak dengan permulaan dan mustahil bagi Allah kalau berpermulaan. Sebab jika Allah berpermulaan berarti ada yang menjadikan dan jika sesuatu itu ada yang menjadikan maka sudah pasti itu bukan Tuhan. Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, kerana Allah Dia-lah yang awal dan Dia-lah yang akhir.
            Qidamnya Allah, atau Allah itu dahulu atau sedia, artinya adanya Allah itu tidak bermula dan tidak berakhiran itu maksud tiada kesudahan bagi Allah. Adanya Allah jelas dan nyata dan menguasai atas segala yang batin atau mengetahui segala yang tersembunyi. Zat-Nya tidak dapat disaksikan dengan mata begitu juga akal dan hati tidak mampu untuk mengetahui tentang-Nya.
            Sifat Qidam merupakan Sifat Salbiah, iaitu menafikan atau menolak sifat yang berlawanan dengannya. Jika sudah terang dan nyata Allah bersifat Qidam artinya tidak berpermulaan, berarti sifat Qidam itu sendiri menafikan sifat yang menjadi lawan dengannya, yaitu sifat Huduts atau baru. Adanya Allah sudah tentu semenjak dari zaman Azali lagi yaitu sebelum segala sesuatu itu ada. Setiap insan wajib mengimani tentang kewujudan Allah itu tidak berpermulaan dan tidak pula akan berakhir.
            Wajib pada syara’ atas tiap-tiap mukalaf itu mengetahui serta mengaku didalam hatinya akan tentu sungguh Sedianya Allah Ta’ala dan tidak terima Huduth (baru atau berpermulaan). Pengakuan didalam hati dengan tentu sungguh Allah Ta’ala bersifat Sedia itulah dinamakan dai wajib pada ‘aqal, dan pengakuan didalam hati dengan tentu tidak baru itulah dinamakan dia mustahil pada ‘aqal.
3.    Sifat BAQA’: Kekal
              Allah Swt. wajib mempunyai sifat Baqa’,artinya kekal ataupun tidak berkesudahan, wujud Allah kekal untuk selama-lamanya, tidak ada batasan waktu ataupun masa. Orang yang beriman kepada Allah menyakini bahwa yang menciptakannya itu kekal tanpa berkesudahan, begitu juga harus dipercayai oleh setiap insan bahwasanya kehidupan makhluk akan berakhir dengan kebinasaan dan kehancuran, dan akan ia kembali kepada Allah Swt. Yang Maha Kekal.
            Dengan mempercayai akan Allah mempunyai sifat Baqa’ akan menguatkan keyakinan tentang adanya kehidupan di akhirat, sebagai meneruskan kehidupan di atas dunia yang fana’ ini. Karena masih ada Pencipta Yang Maha Baqa’ yang mengatur tentang kehidupan di akhirat kelak.
            Wajib pada syara’ atas tiap-tiap mukalaf mengetahui serta mengaku didalam hati akan tentu sungguh Allah Ta’ala Kekal dan tidak menerima Fana’ (binasa). Pengakuan didalam hati dengan tentu sungguh Allah Ta’ala bersifat Baqa’ itulah dikatakan wajib pada ‘aqal, dan pengakuan tentu didalam hati akan binasa Allah Ta’ala itu mustahil pada ‘aqal.
  4.    Sifat MUKHALAFATUHU LILHAWADITH: Berlainan dengan sekali makhluk
           Allah Swt. bersifat Mukhalafatuhu Lilhawadith, artinya Allah berlainan dengan sekalian makhluk. Sudah tentu mustahil bagi Allah menyerupai akan sesuatu. Sebab Allah tidak sama dengan bentuk makhluk ciptaan-Nya, baik makhluk yang bernyawa ataupun tidak bernyawa. Berbeda Zat Allah dengan makhluk artinya Zat-Nya tidak sama dengan makhluk. Berbedanya sifat-sifat Allah dengan makhluk ciptaan-Nya maksudnya, sifat-sifat Allah tidak sama dengan makhluk.
            Perbedaan Zat Allah dengan sesuatu yang baru maksudnya bahwa Zat Allah tidak sama dengan benda lain yang diciptakan-Nya, yang memiliki zat yang baru. Berbeda sifat Allah dengan sesuatu yang baru juga tidak sama dengan sifat segala benda selain Allah. Begitu juga dengan perbuatan Allah, tidak sama dengan perbuatan baru atau segala benda yang ada di alam ini.
            Jika kita bayangkan Allah itu dengan sesuatu benda yang ada di alam ini berarti kita telah mempersekutukan Allah dengan yang lain, syirik hukumnya. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dalam menghayati sifat-sifat yang wajib bagi Allah ini, jangan sampai pemikiran dan minda kita dipimpin oleh syaithan, sehingga sampai pada peringkat mempersekutukan Allah. Na’zubillah.
            Wajib pada syara’ diatas tiap-tiap mukalaf mengetahui serta i’tiqad dan mengaku putus didalam hati akan tentu sungguh bersalahan Allah Ta’ala bagi segala yang baru dan tiada menyamai-Nya (Mumathalatuhu Lilhawadith). Firman Allah Ta’ala:
            “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura, 11)
            Dan bersalahan Allah Ta’ala bagi segala yang baru dan juga tidak menyamai-Nya itulah dikatakan sifat Mukhalafatuhu Ta’ala Lilhawadith dan makna bersalahan itu tiga perkara:
1.  Bersalahan pada zat dengan makna Zat Allah Ta’ala bukannya Jirim yang bertempat walaupun dimana tempatan makhluk itu semuanya jirim yang bertempat. Kalau begitu tidak boleh dikatakan Allah Ta’ala itu bertempat dimana-mana tempat, maka jika didapati didalam Al-Quran atau Hadith barang yang memberi waham menyerupai dan bertempat maka dinamakan ayat itu ayat Mutashabihat dan Hadith Mutashabihat.
2. Dan bersalahan sifat  itu ialah sifat-sifat Allah itu bukan ‘Aradh yang bertangkap pada jirim dan bertempat bersama dengan jirim. Kalau begitu. Tidak bolehlah dikatakan Allah Ta’ala berhajat dimana-mana hajat dan sebagainya daripada sifat-sifat yang baru. Dan bersalahan pada perbuatan itu ialah perbuatan Allah Ta’ala, bukan seperti perbuatan yang baru. Karena perbuatan Allah Ta’ala menjadikan yang tiada itu ada, dan bukan pula perbuatan Allah Ta’ala itu daripada yang baru.
3.  Dan dalil bersalahan Allah Ta’ala bagi segala yang baru dan tidak menyamai itu ialah kita fikir, jikalau Allah Ta’ala tidak bersalahan bagi segala yang baru, niscaya adalah Ia menyamai dengan sesuatu yang baru ini, maka jika menyamai dengan yang baru tentulah Ianya baru seperti itu juga dan ia itu bathal karena telah terdahulu bersifat Qadim dengan dalil-dalil yang nyata maka tetaplah Allah Ta’ala bagi segala yang baru dan tidak menyamainya itulah pengakuan yang sebenar.

  5.    Sifat QIYAMUHU BINAFSIHI: Berdiri dengan sendiriNya.
             Qiyamuhu Binafsihi maksudnya berdiri dengan sendiriNya, bahwa Allah bersifat berdiri dengan sendiri bukan bergantung dengan selain dari-Nya. Allah tidak bergantung terhadap yang diciptakan-Nya, sebaliknya sesuatu yang diciptakan-Nya itu setiap saat selalu berhajat kepada Allah Swt.
            Allat Swt. tidak berhajat dan berkehendak terhadap sesuatu yang lain, tidak memerlukan bantuan kepada makhluk-makhluk-Nya. Allah bersifat Qiyamuhu Binafsihi, mustahil jika Allah berhajat dan meminta pertolongan dengan alam yang akan binasa.
            Allah Maha Berkuasa memiliki segala apa yang ada di langit dan bumi. Kemudian tidak sukar bagi Allah untuk mengurusi segala sesuatu yang ada di alam ini. Dia Maha Perkasa tidak pula Ia memerlukan bantuan dalam mengurusi segala ciptaan-Nya yang banyak itu.
            Wajib pada atas tiap-tiap mukalaf mengetahui serta mengaku didalam hati akan tentu sungguh berdirinya Allah Ta’ala dengan sendirinya (Qiyamuhu Binafsihi), dan tidak berkehendak kepada yang menjadi dan tidak berkehendak kepada zat (Muhtajun Ila Ghairih).

6.    Sifat WAHDANIYAH: Allah Maha Esa (Ke-Esa-an)
            Wahdaniyah artinya Allah Maha Esa, tidak berbilang-bilang jumlahnya. Esa Allah Ta’ala itu ialah pada Zat-Nya, Sifat-Nya dan Af’al-Nya. Allah itu Esa, maka janganlah sekali-kali kita membayangkan atau memikirkan bahwa ada tuhan yang lain selain daripada Allah. Beriman kepada ke-Esa-an Allah, memudahkan bagi kita untuk beribadah dan berharap kepada Yang Satu.
            Disamping kita percaya bahwa Zat Allah Swt. itu Esa, kita juga harus yakini bahwa sifat-sifat Allah itu mempunyai nilai yang tidak mengenal batas. Jika dikatakan Allah itu Maha Pemurah, maka pemurahnya Allah itu tidak mengenal batas. Jika Allah itu bersifat Maha Pengampun, maka ampunan Allah itu tidak mengenal batas. Walau betapa besar dosa dan kesalahan seseorang itu, jika Allah menghendaki keampunan-Nya, maka dosa-dosa orang tersebut akan diampuni Allah Swt.
            Dan makna Esa pada Zat Allah itu ialah Zat Allah yang tidak bersusun daripada beberapa Zat yang boleh dibilangkan dengan sekurang-kurangnya bilangan dengan baru, boleh dikerat, dibelah dan dipotong seperti bagi zat yang baru.
Kam-mutashil
Zat
Berbilangan yang berhubungan dengan Zat Allah Ta’ala

Sifat
Berbilangan yang berhubungan dengan Sifat Allah Ta’ala

Perbuatan
Berbilangan yang berhubungan dengan Perbuatan Allah Ta’ala



Kam-munfashil
Zat
Bilangan yang berasing-asing pada Zat Allah Ta’ala

Sifat
Bilangan yang berasing-asing pada Sifat Allah Ta’ala

Perbuatan
Bilangan yang berasing-asing pada Perbuatan Allah Ta’ala
            Wajib pada atas tiap-tiap mukalaf mengetahui serta mengaku putus dalam hatinya akan tentu sungguh Allah Ta’ala itu Esa pada Zat-Nya, Sifat-Nya dan Af’al-Nya. Dan tidak Ta’addud (berbilang-bilangan).
  7.    Sifat QUDRAT: Allah Maha Kuasa (Pekuasa)
             Qudrat artinya Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Hanya Allah yang berkuasa, sedangkan selain Allah sebenarnya tidak mempunyai kekuatan dan kekuasaan. Kekuasaan Allah mutlak milik-Nya. Kekuasaan Allah itu bukan datangnya kemudian, tetapi sudah ada semenjak zaman Azali lagi, yaitu sebelum adanya sesuatu selain daripada Alah Swt.
            Allah Swt. menjadikan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Firman Allah s.w.t.:
           “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.” (Yassin: 82)
            Pada sifat Qudrat, Allah Ta’ala Maha Kuasa mengadakan dan meniadakan sesuatu mungkin, dan bagi Qudrat itu beberapa takluq (menuntut sifat akan satu pekerjaan lain daripada menuntut di Zat-Nya), iaini beberapa tugas.
            Wajib pada syara’ diatas tiap-tiap mukalaf mengetahui serta mengaku didalam hatinya akan tentu sungguh ada Tuhan Pekuasa, yaitu Allah Maha Kuasa, dan tidak sekali-kali ‘Ajzun (lemah).
  8.    Sifat IRADAT: Berkehendak
           Allah Swt. mempunyai sifat Iradat, yaitu berkehendak, maksudnya bahwa Allah Swt. dalam menciptakan segala sesuatu berpedoman kepada kehendak-Nya. Begitulah alam semesta ini terjadi, kerana Kudrat dan Iradat Allah, diatas Kekuasaan dan Kehendak Allah s.w.t. dan tidak ada batasannya dan tidak dapat dilukiskan melalui fikiran manusia tentang keinginan Allah.
            Dan Iradat itu ialah satu sifat yang sedia kala pada Zat Allah. Dengan sifat Iradat, Allah Ta’ala mengkehendaki dan menentukan mungkin dengan setengah-setengah barang yang harus atas mungkin.
            Wajib pada syara’ atas tiap-tiap mukalaf mengetahui serta mengaku akan tentu sungguh didalam hatinya ada Allah Ta’ala itu bersifat Iradat, dan tidak menerima Karahah (terpaksa).

9.    Sifat ILMU: Allah Maha Mengetahui
            Allah bersifat ilmu, artinya bahwa Allah Maha Mengetahui. Allah memiliki pengetahuan dan mengetahui akan segala sesuatu, yang sudah berlaku, yang sedang berlaku dan yang akan berlaku, baik di langit, dibumi maupun yang diantaranya, dan segala sesuatu yang diciptakan-Nya.
            Dan Ilmu itu ialah sifat yang ada di Zat Allah Ta’ala, yang nyata segala perkara yang wajib dan yang mustahil dan yang harus itu dengan Ilmu yakni dengan pengetahuan tidak jahil. Dan makna mengetahui akan segala perkara yang wajib itu mengetahui dengan sungguhnya dan mengetahui segala yang mustahil itu mengetahui dengan tidaknya, dan mengetahui perkara yang harus itu mengetahui akan ada atau tiada atau akan tiadanya.
            Wajib atas syara’ atas tiap-tiap mukalaf mengetahui serta mengaku didalam hati akan tentu sungguh ada di Zat Allah Ta’ala itu Ilmu, dan tidak menerima akan Allah itu Jahlun (jahil).

10.   Sifat HAYAT: Hidup
             Allah Swt. wajib mempunyai sifat Hayat yaitu hidup, dan mustahil bagi-Nya mempunyai sifat binasa yang sama dengan makhluk. Sifat hidup Allah ini tidak sama sebagaimana dengan kehidupan alam, seperti manusia, malaikat, hewan dan makhluk-makhluk yang lainnya. Allah hidup tidak berhajat terhadap sesuatu, seperti pada makhluk yang menghajatkan dan memerlukan nyawa, nafas, makan dan minum. Kehidupan makhluk merupakan hasil daripada pemberian Allah, maka pada saat yang dikehendaki-Nya, kehidupan makhluk itu dapat berakhir.
            Wajib diatas tiap-tiap mukalaf mengetahui serta mengaku akan tentu sungguh didalam hatinya Allah mempunyai sifat Hayat, satu sifat yang ada pada Zat Allah dan dengan sifat Hayat ini Allah Ta’ala hidup, dan tidak akan menerima akan Maut.


11.   Sifat SAMA’: Allah Maha Mendengar
           Sama’ artinya Mendengar dan Allah bersifat Sama’ bahawa Allah Maha Mendengar segala sesuatu yang diperkatakan oleh makhluk-makhluk-Nya. Allah Maha Mendengar baik yang kuat maupun perkara yang dibisikkan oleh makhluk-Nya. Walaupun begitu pendengaran yang ada pada Allah tidak berhajat pada sesuatu yang ada pada makhluk-Nya.
            Wajib pada syara’ atas tiap-tiap mukalaf itu mengetahui serta mengaku akan tentu sungguh pada hatinya akan sifat Sama’ ini yang ada pada Allah Ta’ala, dan tidak sekali-kali Allah menerima sifat Shomam (tuli).
12.   Sifat BASYAR: Allah Maha Melihat
            Allah bersifat Basyar, artinya bahwa Allah Maha Melihat apa saja yang ada di alam ini. Allah dapat melihat segala gerak gerik makhluk-Nya. Namun Penglihatan Allah itu tidaklah sama dengan penglihatan makhluk ciptaan-Nya. Allah tidak berhajat seperti makhluk-Nya untuk melihat.
            Wajib pada syara’ atas tiap-tiap mukalaf itu mengetahui serta mengaku didalam hatinya akan tentu sungguh ada pada Allah Ta’ala itu sifat Basyar, dan iaitu satu sifat yang ada di Zat Allah. Tidak Allah sekali-kali menerima akan sifat ‘Umyun (buta).
13.   Sifat KALAM: Allah Berkata-kata
            Allah mempunyai sifat Kalam atau berkata-kata, dan mustahil bagi Allah Yang Maha Agung itu bersifat berlawanan dengan sifat Kalam. Walau bagaimanapun Kalam Allah tidak seperti yang dihajatkan oleh makhluk-Nya. Kalam Allah itu dinamakan Wahyu yang diberikan kepada makhluk-Nya sebagai mendatangkan kebenaran-Nya.
            Wajib diatas tiap-tiap mukalaf itu mengetahui serta mengaku akan tentu sungguh pada hatinya akan Allah mempunyai sifat Kalam. yaitu satu sifat yang sedia kala di Zat AllahTa’ala. Dengan adanya sifat inilah Allah tidak akan sekali-kali menerima sifat Bukmun (bisu)
14.   Sifat KAUNUHU QADIRAN: Allah tetap selalu dalam keadaan Berkuasa  
15.   Sifat KAUNUHU MURIDAN: Allah tetap dalam keadaan Menghendaki
16.   Sifat KAUNUHU ALIMAN: Allah tetap dalam keadaan Mengetahui
17.   Sifat KAUNUHU HAYYAN: Allah tetap dalam keadaan Hidup
18.   Sifat KAUNUHU SAMI’AN: Allah tetap dalam keadaan Mendengar
19.   Sifat KAUNUHU BASIRAN: Allah tetap dalam keadaan Melihat
20.   Sifat KAUNUHU MUTAKALLIMAN: Allah tetap dalam keadaan Berkata-kata  
Rumusan daripada: Al-Misbahul Munir 
Abdul Aziz Bin Ismail Al-Fatani

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Premium Blogger Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lulut Laraseta, Indonesia