Sifat 20
Sheikh
Abu Hassan ‘Ali Al-Asy’ari
Imam Abu Mansur Al-Mathuridi
|
Nafsiah
|
Salbiah
|
Ma’ani
|
Ma’nawiyah
|
|
Wujud
|
Qidam
|
Qudrat
|
Kaunuhu Qadiran
|
|
|
Baqa’
|
Iradat
|
Kaunuhu Muridan
|
|
|
Mukhalafatuhu Lilhawadith
|
Ilmu
|
Kaunuhu ‘Aliman
|
|
|
Qiyamuhu Binafsih
|
Hayat
|
Kaunuhu Hayyan
|
|
|
Wahdaniat
|
Sama’
|
Kaunuhu Sami’an
|
|
|
|
Bashar
|
Kaunuhu Bashiran
|
|
|
|
Kalam
|
Kaunuhu Mutakalliman
|
Sifat Nafsiah:
Sifat Nafsiah yaitu dari zat
itu sendiri, bukan sifat yang menumpang pada zat itu. Sifat ini dikatakan
Nafsiah karena tidak menunjukkan makna yang menumpang pada diri zat. Menurut
Jumhur Ulama’ sifat ini menunjukkan kepada zatnya, bukan menunjukkan kepada
perkara yang menumpang pada zat.
Sifat
‘Wujud’ dikatakan Sifat Nafsiah artinya, wujud itu bukan merupakan sifat yang
menumpang atau menempel pada Zat Allah Swt. akan tetapi Zat Allah Swt. itu
dengan sendirinya kewujudan Allah. Ataupun Zat Allah dengan Wujud Allah tidak
dapat dipisahkan. Berbeda dengan Sifat Ma’ani seperti Ilmu, karena sifat ini
merupakan sifat yang menempel pada Zat Allah. Artinya sifat Ilmu itu terpisah
dengan Zat Allah. Sebab Allah mengetahui sesuatu dengan Ilmu-Nya, bukan dengan
Zat-Nya. Hanya sifat ‘wujud’ saja yang termasuk dalam Sifat Nafsiah.
Sifat Salbiah:
Salbiah
maksudnya, menanggalkan, menolak ataupun menafikan. Maksud sifat Salbiah dalam
hal ini yaitu menolak sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah Swt. Umpamanya
menolak sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah seperti Baqa’ artinya kekal.
Sifat ini menafikan sifat Fana’ ataupun binasa bagi Allah Swt.
Sifat Ma’ani:
Sifat
Ma’ani ialah sifat yang Maujud atau ada yang berdiri pada Zat Allah Swt. yang
menyebabkan Zat itu bersifat dengan suatu hukum Sifat Ma’nawiyah. Umpamanya
Sifat Ma’ani seperti Ilmu, sifat ini ialah sifat yang berdiri pada Zat Allah. Artinya
Ilmu itu sifat Allah bukan Zat Allah. Allah Swt. dapat mengetahui sesuatu
dengan Ilmu-Nya bukan dengan Zat-Nya. Yang menyebabkan zat itu bersifat dengan
sifat suatu hukum Sifat Ma’nawiyah maksudnya Allah dikatakan Kaunuhu ‘Aliman
(Keadaan-Nya Berilmu). Karena Allah mempunyai sifat Sama’ maka Allah dikatakan
Kaunuhu Sami’an (Keadaan-Nya Mendengar).
Sifat Ma’nawiyah:
Sifat Ma’nawiyah yaitu suatu
perkara yang sabit atau yang tetap bagi Zat Allah Swt. bersifat dengan Sifat
Ma’ani. Di antara Sifat Ma’ani dengan Sifat Ma’nawiyah tidak terpisahkan.
Misalnya Keadaan Allah Berilmu (Kaunuhu ‘Aliman – Sifat Ma’nawiyah), ini karena
Allah mempunyai sifat Ilmu (Sifat Ma’ani). Ataupun Allah Swt. dikatakan Kaunuhu
Qadiran (Keadaan-Nya Berkuasa – Sifat Ma’nawiyah) karena Allah mempunyai sifat
Qudrat (Kuasa – Sifat Ma’ani) dan begitu seumpamanya.
Ada
beberapa sebab sifat-sifat ini dinamakan dengan Sifat Ma’nawiyah yaitu, Sifat
Ma’nawiyah merupakan cabang dari Sifat Ma’ani. Sesuatu yang bersifat dengan
‘Alim dan Qadir umpamanya tidak boleh bersifat dengan sifat-sifat itu melainkan
setelah adanya ilmu dan qudrat baginya. Sifat Ma’ani adalah sebagai ilat atau
sebagai malzum kepada Sifat Ma’nawiyah sejak Azali lagi, perhubungan antara
keduanya adalah sebagai hubungan antara ilat dengan ma’lulnya.
Sifat yang Wajib bagi ALLAH:
1. Sifat WUJUD: Ada
Allah Swt. wajib memiliki sifat
Wujud artinya Allah Swt. itu wajib ada. Allah Swt. adalah sebagai Zat yang Wajibul
Wujud artinya Zat yang wajib adanya. Wujudnya Allah Swt. tidak
diragukan lagi, kerana adanya Allah dapat dibuktikan dengan dalil Al-Quran dan
Al-Hadith (dalil naqal) dan dapat dibuktikan dengan akal (dalil aqali)
Allah
Swt. tidak ada yang menjadikan-Nya dan tidak pula Allah menjadikan diri-Nya
sendiri. Adanya Allah tidak diduhului dengan tiada dan tidak diakhiiri dengan
tiada. Dan mustahil Allah itu tiada. Wujudnya Allah s.w.t. mutlak artinya
adanya Allah Swt. itu wajib, dan mustahil jika Allah tiada ada. Kewujudan-Nya
tidak dibatasi oleh sesuatu, waktu, keadaan maupun tempat.
Wajib
pada Syara’ atas tiap-tiap mukalah mengetahui serta mengaku didalam hatinya
akan tentu sungguh ada Allah Ta’ala dan tidak terima ‘Adam (tidak ada).
Pengakuan didalam hati dengan tentu ada sungguh Allah Ta’ala itulah dinamakan
wajib pada ‘aqal. Dan pengakuan tentu tidak, tiada Allah Ta’ala itulah
dinamakan mustahil.
2. Sifat
QIDAM: Sedia
Qidam artinya ‘Sedia’, yaitu adanya Allah Swt.
tidak dengan permulaan dan mustahil bagi Allah kalau berpermulaan. Sebab jika
Allah berpermulaan berarti ada yang menjadikan dan jika sesuatu itu ada yang
menjadikan maka sudah pasti itu bukan Tuhan. Allah tidak beranak dan tidak pula
diperanakkan, kerana Allah Dia-lah yang awal dan Dia-lah yang akhir.
Qidamnya
Allah, atau Allah itu dahulu atau sedia, artinya adanya Allah itu tidak bermula
dan tidak berakhiran itu maksud tiada kesudahan bagi Allah. Adanya Allah jelas
dan nyata dan menguasai atas segala yang batin atau mengetahui segala yang
tersembunyi. Zat-Nya tidak dapat disaksikan dengan mata begitu juga akal dan
hati tidak mampu untuk mengetahui tentang-Nya.
Sifat
Qidam merupakan Sifat Salbiah, iaitu menafikan atau menolak sifat yang
berlawanan dengannya. Jika sudah terang dan nyata Allah bersifat Qidam artinya
tidak berpermulaan, berarti sifat Qidam itu sendiri menafikan sifat yang
menjadi lawan dengannya, yaitu sifat Huduts atau baru. Adanya Allah sudah tentu
semenjak dari zaman Azali lagi yaitu sebelum segala sesuatu itu ada. Setiap
insan wajib mengimani tentang kewujudan Allah itu tidak berpermulaan dan tidak
pula akan berakhir.
Wajib
pada syara’ atas tiap-tiap mukalaf itu mengetahui serta mengaku didalam hatinya
akan tentu sungguh Sedianya Allah Ta’ala dan tidak terima Huduth (baru atau
berpermulaan). Pengakuan didalam hati dengan tentu sungguh Allah Ta’ala
bersifat Sedia itulah dinamakan dai wajib pada ‘aqal, dan pengakuan didalam
hati dengan tentu tidak baru itulah dinamakan dia mustahil pada ‘aqal.
3. Sifat BAQA’: Kekal
Allah Swt. wajib
mempunyai sifat Baqa’,artinya kekal ataupun tidak berkesudahan, wujud Allah
kekal untuk selama-lamanya, tidak ada batasan waktu ataupun masa. Orang yang
beriman kepada Allah menyakini bahwa yang menciptakannya itu kekal tanpa
berkesudahan, begitu juga harus dipercayai oleh setiap insan bahwasanya
kehidupan makhluk akan berakhir dengan kebinasaan dan kehancuran, dan akan ia
kembali kepada Allah Swt. Yang Maha Kekal.
Dengan
mempercayai akan Allah mempunyai sifat Baqa’ akan menguatkan keyakinan tentang
adanya kehidupan di akhirat, sebagai meneruskan kehidupan di atas dunia yang
fana’ ini. Karena masih ada Pencipta Yang Maha Baqa’ yang mengatur tentang
kehidupan di akhirat kelak.
Wajib
pada syara’ atas tiap-tiap mukalaf mengetahui serta mengaku didalam hati akan
tentu sungguh Allah Ta’ala Kekal dan tidak menerima Fana’ (binasa). Pengakuan
didalam hati dengan tentu sungguh Allah Ta’ala bersifat Baqa’ itulah dikatakan
wajib pada ‘aqal, dan pengakuan tentu didalam hati akan binasa Allah Ta’ala itu
mustahil pada ‘aqal.
4. Sifat
MUKHALAFATUHU LILHAWADITH: Berlainan dengan sekali makhluk
Allah Swt. bersifat
Mukhalafatuhu Lilhawadith, artinya Allah berlainan dengan sekalian makhluk.
Sudah tentu mustahil bagi Allah menyerupai akan sesuatu. Sebab Allah tidak sama
dengan bentuk makhluk ciptaan-Nya, baik makhluk yang bernyawa ataupun tidak bernyawa.
Berbeda Zat Allah dengan makhluk artinya Zat-Nya tidak sama dengan makhluk.
Berbedanya sifat-sifat Allah dengan makhluk ciptaan-Nya maksudnya, sifat-sifat
Allah tidak sama dengan makhluk.
Perbedaan
Zat Allah dengan sesuatu yang baru maksudnya bahwa Zat Allah tidak sama dengan
benda lain yang diciptakan-Nya, yang memiliki zat yang baru. Berbeda sifat
Allah dengan sesuatu yang baru juga tidak sama dengan sifat segala benda selain
Allah. Begitu juga dengan perbuatan Allah, tidak sama dengan perbuatan baru
atau segala benda yang ada di alam ini.
Jika
kita bayangkan Allah itu dengan sesuatu benda yang ada di alam ini berarti kita
telah mempersekutukan Allah dengan yang lain, syirik hukumnya. Oleh sebab itu,
berhati-hatilah dalam menghayati sifat-sifat yang wajib bagi Allah ini, jangan
sampai pemikiran dan minda kita dipimpin oleh syaithan, sehingga sampai pada
peringkat mempersekutukan Allah. Na’zubillah.
Wajib
pada syara’ diatas tiap-tiap mukalaf mengetahui serta i’tiqad dan mengaku putus
didalam hati akan tentu sungguh bersalahan Allah Ta’ala bagi segala yang baru
dan tiada menyamai-Nya (Mumathalatuhu Lilhawadith). Firman Allah Ta’ala:
“Tidak
ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi
Maha Melihat.” (Asy-Syura, 11)
Dan
bersalahan Allah Ta’ala bagi segala yang baru dan juga tidak menyamai-Nya
itulah dikatakan sifat Mukhalafatuhu Ta’ala Lilhawadith dan makna bersalahan
itu tiga perkara:
1. Bersalahan pada zat dengan makna Zat Allah
Ta’ala bukannya Jirim yang bertempat walaupun dimana tempatan makhluk itu
semuanya jirim yang bertempat. Kalau begitu tidak boleh dikatakan Allah Ta’ala
itu bertempat dimana-mana tempat, maka jika didapati didalam Al-Quran atau
Hadith barang yang memberi waham menyerupai dan bertempat maka dinamakan ayat
itu ayat Mutashabihat dan Hadith Mutashabihat.
2. Dan bersalahan sifat itu ialah sifat-sifat Allah itu bukan ‘Aradh
yang bertangkap pada jirim dan bertempat bersama dengan jirim. Kalau begitu.
Tidak bolehlah dikatakan Allah Ta’ala berhajat dimana-mana hajat dan sebagainya
daripada sifat-sifat yang baru. Dan bersalahan pada perbuatan itu ialah
perbuatan Allah Ta’ala, bukan seperti perbuatan yang baru. Karena perbuatan
Allah Ta’ala menjadikan yang tiada itu ada, dan bukan pula perbuatan Allah
Ta’ala itu daripada yang baru.
3. Dan dalil bersalahan Allah Ta’ala bagi segala
yang baru dan tidak menyamai itu ialah kita fikir, jikalau Allah Ta’ala tidak bersalahan
bagi segala yang baru, niscaya adalah Ia menyamai dengan sesuatu yang baru ini,
maka jika menyamai dengan yang baru tentulah Ianya baru seperti itu juga dan ia
itu bathal karena telah terdahulu bersifat Qadim dengan dalil-dalil yang nyata
maka tetaplah Allah Ta’ala bagi segala yang baru dan tidak menyamainya itulah
pengakuan yang sebenar.
5. Sifat QIYAMUHU
BINAFSIHI: Berdiri dengan sendiriNya.
Qiyamuhu Binafsihi
maksudnya berdiri dengan sendiriNya, bahwa Allah bersifat berdiri dengan
sendiri bukan bergantung dengan selain dari-Nya. Allah tidak bergantung
terhadap yang diciptakan-Nya, sebaliknya sesuatu yang diciptakan-Nya itu setiap
saat selalu berhajat kepada Allah Swt.
Allat
Swt. tidak berhajat dan berkehendak terhadap sesuatu yang lain, tidak
memerlukan bantuan kepada makhluk-makhluk-Nya. Allah bersifat Qiyamuhu Binafsihi,
mustahil jika Allah berhajat dan meminta pertolongan dengan alam yang akan
binasa.
Allah
Maha Berkuasa memiliki segala apa yang ada di langit dan bumi. Kemudian tidak
sukar bagi Allah untuk mengurusi segala sesuatu yang ada di alam ini. Dia Maha
Perkasa tidak pula Ia memerlukan bantuan dalam mengurusi segala ciptaan-Nya
yang banyak itu.
Wajib
pada atas tiap-tiap mukalaf mengetahui serta mengaku didalam hati akan tentu
sungguh berdirinya Allah Ta’ala dengan sendirinya (Qiyamuhu Binafsihi), dan
tidak berkehendak kepada yang menjadi dan tidak berkehendak kepada zat
(Muhtajun Ila Ghairih).
6. Sifat WAHDANIYAH:
Allah Maha Esa (Ke-Esa-an)
Wahdaniyah
artinya Allah Maha Esa, tidak berbilang-bilang jumlahnya. Esa Allah Ta’ala itu
ialah pada Zat-Nya, Sifat-Nya dan Af’al-Nya. Allah itu Esa, maka janganlah
sekali-kali kita membayangkan atau memikirkan bahwa ada tuhan yang lain selain
daripada Allah. Beriman kepada ke-Esa-an Allah, memudahkan bagi kita untuk
beribadah dan berharap kepada Yang Satu.
Disamping
kita percaya bahwa Zat Allah Swt. itu Esa, kita juga harus yakini bahwa
sifat-sifat Allah itu mempunyai nilai yang tidak mengenal batas. Jika dikatakan
Allah itu Maha Pemurah, maka pemurahnya Allah itu tidak mengenal batas. Jika
Allah itu bersifat Maha Pengampun, maka ampunan Allah itu tidak mengenal batas.
Walau betapa besar dosa dan kesalahan seseorang itu, jika Allah menghendaki
keampunan-Nya, maka dosa-dosa orang tersebut akan diampuni Allah Swt.
Dan
makna Esa pada Zat Allah itu ialah Zat Allah yang tidak bersusun daripada
beberapa Zat yang boleh dibilangkan dengan sekurang-kurangnya bilangan dengan
baru, boleh dikerat, dibelah dan dipotong seperti bagi zat yang baru.
|
Kam-mutashil
|
Zat
|
Berbilangan yang berhubungan dengan Zat
Allah Ta’ala
|
|
|
Sifat
|
Berbilangan yang berhubungan dengan Sifat
Allah Ta’ala
|
|
|
Perbuatan
|
Berbilangan yang berhubungan dengan
Perbuatan Allah Ta’ala
|
|
|
|
|
|
Kam-munfashil
|
Zat
|
Bilangan yang berasing-asing pada Zat Allah
Ta’ala
|
|
|
Sifat
|
Bilangan yang berasing-asing pada Sifat
Allah Ta’ala
|
|
|
Perbuatan
|
Bilangan yang berasing-asing pada Perbuatan
Allah Ta’ala
|
Wajib
pada atas tiap-tiap mukalaf mengetahui serta mengaku putus dalam hatinya akan
tentu sungguh Allah Ta’ala itu Esa pada Zat-Nya, Sifat-Nya dan Af’al-Nya. Dan
tidak Ta’addud (berbilang-bilangan).
7. Sifat QUDRAT: Allah
Maha Kuasa (Pekuasa)
Qudrat
artinya Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Hanya Allah yang berkuasa,
sedangkan selain Allah sebenarnya tidak mempunyai kekuatan dan kekuasaan.
Kekuasaan Allah mutlak milik-Nya. Kekuasaan Allah itu bukan datangnya kemudian,
tetapi sudah ada semenjak zaman Azali lagi, yaitu sebelum adanya sesuatu selain
daripada Alah Swt.
Allah
Swt. menjadikan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Firman Allah s.w.t.:
“Sesungguhnya
keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:
“Jadilah”, maka jadilah ia.” (Yassin: 82)
Pada
sifat Qudrat, Allah Ta’ala Maha Kuasa mengadakan dan meniadakan sesuatu mungkin,
dan bagi Qudrat itu beberapa takluq (menuntut sifat akan satu pekerjaan lain
daripada menuntut di Zat-Nya), iaini beberapa tugas.
Wajib
pada syara’ diatas tiap-tiap mukalaf mengetahui serta mengaku didalam hatinya
akan tentu sungguh ada Tuhan Pekuasa, yaitu Allah Maha Kuasa, dan tidak
sekali-kali ‘Ajzun (lemah).
8. Sifat IRADAT:
Berkehendak
Allah Swt. mempunyai sifat
Iradat, yaitu berkehendak, maksudnya bahwa Allah Swt. dalam menciptakan segala
sesuatu berpedoman kepada kehendak-Nya. Begitulah alam semesta ini terjadi,
kerana Kudrat dan Iradat Allah, diatas Kekuasaan dan Kehendak Allah s.w.t. dan
tidak ada batasannya dan tidak dapat dilukiskan melalui fikiran manusia tentang
keinginan Allah.
Dan
Iradat itu ialah satu sifat yang sedia kala pada Zat Allah. Dengan sifat
Iradat, Allah Ta’ala mengkehendaki dan menentukan mungkin dengan setengah-setengah
barang yang harus atas mungkin.
Wajib
pada syara’ atas tiap-tiap mukalaf mengetahui serta mengaku akan tentu sungguh
didalam hatinya ada Allah Ta’ala itu bersifat Iradat, dan tidak menerima
Karahah (terpaksa).
9. Sifat ILMU: Allah
Maha Mengetahui
Allah bersifat ilmu, artinya
bahwa Allah Maha Mengetahui. Allah memiliki pengetahuan dan mengetahui akan
segala sesuatu, yang sudah berlaku, yang sedang berlaku dan yang akan berlaku,
baik di langit, dibumi maupun yang diantaranya, dan segala sesuatu yang
diciptakan-Nya.
Dan
Ilmu itu ialah sifat yang ada di Zat Allah Ta’ala, yang nyata segala perkara
yang wajib dan yang mustahil dan yang harus itu dengan Ilmu yakni dengan
pengetahuan tidak jahil. Dan makna mengetahui akan segala perkara yang wajib
itu mengetahui dengan sungguhnya dan mengetahui segala yang mustahil itu
mengetahui dengan tidaknya, dan mengetahui perkara yang harus itu mengetahui
akan ada atau tiada atau akan tiadanya.
Wajib
atas syara’ atas tiap-tiap mukalaf mengetahui serta mengaku didalam hati akan
tentu sungguh ada di Zat Allah Ta’ala itu Ilmu, dan tidak menerima akan Allah
itu Jahlun (jahil).
10. Sifat HAYAT: Hidup
Allah Swt. wajib
mempunyai sifat Hayat yaitu hidup, dan mustahil bagi-Nya mempunyai sifat binasa
yang sama dengan makhluk. Sifat hidup Allah ini tidak sama sebagaimana dengan
kehidupan alam, seperti manusia, malaikat, hewan dan makhluk-makhluk yang
lainnya. Allah hidup tidak berhajat terhadap sesuatu, seperti pada makhluk yang
menghajatkan dan memerlukan nyawa, nafas, makan dan minum. Kehidupan makhluk
merupakan hasil daripada pemberian Allah, maka pada saat yang dikehendaki-Nya,
kehidupan makhluk itu dapat berakhir.
Wajib
diatas tiap-tiap mukalaf mengetahui serta mengaku akan tentu sungguh didalam
hatinya Allah mempunyai sifat Hayat, satu sifat yang ada pada Zat Allah dan
dengan sifat Hayat ini Allah Ta’ala hidup, dan tidak akan menerima akan Maut.
11. Sifat SAMA’: Allah Maha
Mendengar
Sama’ artinya
Mendengar dan Allah bersifat Sama’ bahawa Allah Maha Mendengar segala sesuatu
yang diperkatakan oleh makhluk-makhluk-Nya. Allah Maha Mendengar baik yang kuat
maupun perkara yang dibisikkan oleh makhluk-Nya. Walaupun begitu pendengaran
yang ada pada Allah tidak berhajat pada sesuatu yang ada pada makhluk-Nya.
Wajib
pada syara’ atas tiap-tiap mukalaf itu mengetahui serta mengaku akan tentu
sungguh pada hatinya akan sifat Sama’ ini yang ada pada Allah Ta’ala, dan tidak
sekali-kali Allah menerima sifat Shomam (tuli).
12. Sifat BASYAR: Allah Maha
Melihat
Allah
bersifat Basyar, artinya bahwa Allah Maha Melihat apa saja yang ada di alam
ini. Allah dapat melihat segala gerak gerik makhluk-Nya. Namun Penglihatan
Allah itu tidaklah sama dengan penglihatan makhluk ciptaan-Nya. Allah tidak
berhajat seperti makhluk-Nya untuk melihat.
Wajib
pada syara’ atas tiap-tiap mukalaf itu mengetahui serta mengaku didalam hatinya
akan tentu sungguh ada pada Allah Ta’ala itu sifat Basyar, dan iaitu satu sifat
yang ada di Zat Allah. Tidak Allah sekali-kali menerima akan sifat ‘Umyun
(buta).
13. Sifat KALAM: Allah
Berkata-kata
Allah mempunyai sifat Kalam
atau berkata-kata, dan mustahil bagi Allah Yang Maha Agung itu bersifat
berlawanan dengan sifat Kalam. Walau bagaimanapun Kalam Allah tidak seperti
yang dihajatkan oleh makhluk-Nya. Kalam Allah itu dinamakan Wahyu yang
diberikan kepada makhluk-Nya sebagai mendatangkan kebenaran-Nya.
Wajib
diatas tiap-tiap mukalaf itu mengetahui serta mengaku akan tentu sungguh pada
hatinya akan Allah mempunyai sifat Kalam. yaitu satu sifat yang sedia kala di
Zat AllahTa’ala. Dengan adanya sifat inilah Allah tidak akan sekali-kali
menerima sifat Bukmun (bisu)
14. Sifat KAUNUHU QADIRAN:
Allah tetap selalu dalam keadaan Berkuasa
15. Sifat KAUNUHU MURIDAN:
Allah tetap dalam keadaan Menghendaki
16. Sifat KAUNUHU ALIMAN:
Allah tetap dalam keadaan Mengetahui
17. Sifat KAUNUHU HAYYAN:
Allah tetap dalam keadaan Hidup
18. Sifat KAUNUHU SAMI’AN:
Allah tetap dalam keadaan Mendengar
19. Sifat KAUNUHU BASIRAN:
Allah tetap dalam keadaan Melihat
20. Sifat KAUNUHU
MUTAKALLIMAN: Allah tetap dalam keadaan Berkata-kata
Rumusan daripada: Al-Misbahul Munir
Abdul Aziz Bin Ismail Al-Fatani
Abdul Aziz Bin Ismail Al-Fatani



15.23
LULUT ARA'S *BLOG
0 komentar:
Posting Komentar