BAB I
RAGAM BAHASA
Kompetensi Dasar
Pada akhir perkuliahan ini, diharapkan mahasiswa dapat
a. menjelaskan fungsi bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan alat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan;
b. menjelaskan ragam bahasa keilmuan;
c. memperbaiki sikap dan pemakaian bahasa Indonesia dalam bahasa tulis.
1.1 Pendahuluan
Pada umumnya kita dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia baik lisan maupun tulis. Dalam berdialog, membaca buku, mungkin Anda tidak mengalami kesulitan dalam memahami dialog atau bacaan tersebut. Akan tetapi, tingkat kemampuan Anda berbeda baik dalam pemakaian dan penggunaan bahasa Indonesia dalam bahasa tulis.
Pekerjaan atau jabatan yang akan dipangku oleh Anda sesudah menamatkan studi, jelas menuntut penguasaan bahasa Indonesia dengan baik. Anda, sebagai calon pemegang pekerjaan pada berbagai perusahaan atau instansi, harus memiliki penguasaan bahasa Indonesia yang memadai. Di samping itu, Anda sebagai mahasiswa dituntut untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam tulisan. Mata kuliah Bahasa Indonesia sangat diperlukan agar Anda dapat menuangkan gagasan dengan baik dan memiliki tingkat penguasaan yang memadai, sebagaimana yang dipersyaratkan oleh pekerjaan atau jabatan yang dipangkunya kelak setelah menamatkan studi.
1.2 Aspek-aspek Penguasaan Bahasa
Kemampuan berbahasa Indonesia sangat diperlukan agar kita dapat memahami tuturan lawan berbicara atau isi buku yang ditulis dalam bahasa yang bersangkutan. Kita dapat berbicara atau menulis dalam bahasa Indonesia, bila kita menguasai bahasa tersebut dengan baik.
Kemampuan bahasa dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kemampuan memahami pembicaraan atau tulisan orang lain dan kemampuan menggunakan bahasa dalam berbicara atau menulis. Kemampuan memahami pembicaraan orang lain disebut penguasaan reseptif, sedangkan kemampuan berbicara dan menulis disebut penguasaan produktif. Dengan demikian, kemampuan berbahasa meliputi kemampuan a) mendengarkan, b) membaca, c) berbicara, dan d) menulis.
Pada dasarnya, kemampuan reseptif seseorang lebih tinggi daripada kemampuan produktif. Berbicara dalam arti berpidato, memberikan sambutan, presentasi, atau memberikan penyuluhan dalam pertemuan resmi, memerlukan penguasaan bahasa yang cukup tinggi, begitu pula menulis dalam arti mengungkapkan ide-ide dalam suatu laporan.
Penguasaan bahasa Indonesia secara produktif lebih ditekankan. Hal ini disebabkan penguasaan bahasa Indonesia secara produktif tulis tersebut erat kaitannya dengan penguasaan produktif lisan, maka penguasaan produktif tulis perlu lebih banyak mendapat perhatian baik dalam penyusunan laporan maupun dalam pelaksanaan tugaskelak bila Anda bekerja.
1.3 Fungsi Bahasa Indonesia
Sejak dikumandangkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, resmilah bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional. Sebagai bahasa nasional bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang kebanggaan nasional, lambang identitas nasional, alat pemersatu bangsa, atau alat perhubungan antardaerah dan budaya.
Selain berkedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia juga berkedudukan sebagai bahasa negara sesuai dengan UUD 1945, Bab XV, Pasal 36. Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan, alat perhubungan pada tingkat nasional, dan alat pengembangan kebudayaan, dan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Widjono Hs (2005:11-18) menyebutkan bahasa Indonesia berfungsi sebagai sarana berikut, yaitu sarana komunikasi, integrasi dan adaptasi, kontrol sosial, memahami diri, ekspresi diri, mmahami orang lain, mengamati lingkungan sekitar, berpikir logis, sarana membangun kecerdasan, membangun karakter, mengembangkan profesi, dan menciptakan kreativitas .
1.4 Ragam Bahasa
Ragam bahasa Indonesia tim bul dikarenakan perbedaan ”tujuan dan hal” yang disampaikan. Gagasan yang disampaikan dalam surat, makalah, koran, laporan, pidato, atau karya sastra, menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Pada dasarnya, ragam bahasa dibedakan berdasarkan media dan berdasarkan pesan komunikasi. Berdasarkan media, ragam bahasa Indonesia terdiri dari ragam bahasa lisan dan tulis, sedangkan bila ditinjau dari pesan komunikasi ragam bahasa Indonesia dibedakan menjadi ragam bahasa ilmiah, jurnalistik, jabatan , dan sastra.
1.4.1 Ragam Bahasa Lisan
Ragam bahasa lisan digunakan dalam berpidato, berdiskusi, atau berkomunikasi lewat telepon. Dalam kegiatan tersebut penutur bahasa menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kebutuhan dan situasi. Dalam bahasa lisan sering digunakan kosa kata tidak baku, cenderung tidak menggunakan imbuhan, atau struktur kalimat yang tidak lengkap terutama dalam bahasa lisan seperti dalam pentas seni, ular-ular, atau rapat akbar. Akan tetapi, bahasa lisan dalam seminar, rapat kerja, atau kongres cenderung menaati kaidah bahasa Indonesia yang berlaku karena peserta mempunyai kemampuan berbahasa yang tidak jauh berbeda.
1.4.2 Ragam Bahasa Tulis
Ragam bahasa ini lebih menekankan penggunaan kaidah bahasa secara cermat dalam tulisan, seperti surat, artikel, laporan, makalah, atau laporan kegiatan. Dalam tulisan tersebut disarankan menggunakan kosa kata baku, bentuk kata berimbuhan, struktur kalimat lengkap, dan paragraf saling berhubungan.
Ragam bahasa tulis disampaikan dalam situasi resmi untuk keperluan ilmiah (keilmuan) sehingga bahasa Indonesia itu harus memenuhi kriteria berikut.
a. Logis, artinya penggunaan bahasa mencerminkan penalaran sesuai dengan kondisi sebenarnya.
b. Lugas, artinya penggunaan bahasa disesuaikan dengan bidang ilmu pengetahuan yang bersangkutan.
c. Bermakna tunggal, artinya bahasa yang digunakan tidak menimbulkan persepsi berbeda-beda.
d. Denotatif, artinya kosa kata yang digunakan mempunyai makna sebenarnya sesuai dengan konteks kalimat.
e. Baku, artinya penggunaan bahasa secara cermat sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku dan kelaziman.
f. Konsisten, artinya penggunaan kosa kata atau istilah secara ajeg pada kata yang memiliki makna yang sama.
g. Runtun, artinya bahasa yang diungkapkan sistematis.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional menghimbau agar kita berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Berbahasa Indonesia dengan baik (efektif) artinya berbahasa Indonesia sesuai dengan situasi pemakaiannya. Dalam situasi resmi, kita menggunakan bahasa Indonesia baku, sedangkan situasi santai kita menggunakan bahasa Indonesia tak baku. Penggunaan bahasa Indonesia dengan benar (efisien) berarti penggunaan bahasa Indonesia mengikuti kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Jadi, penggunaan bahasa Indonesia yang baik berkaitan dengan situasi pemakaian, sedangkan bahasa Indonesia yang benar berkaitan dengan kaidah bahasa.
Fungsi bahasa Indonesia baku dipergunakan
a. dalam wacana tulis, seperti laporan atau tugas akhir,
b. sebagai alat komunikasi resmi, seperti pengumuman, surat-surat resmi, atau undang¬-undang,
c. dalam pembicaraan yang bersifat keilmuan, seperti ceramah, diskusi, atau pelatihan, atau
d. dalam pembicaraan dengan orang-orang yang dihormati seperti atasan atau orang¬orang yang belum dikenal.
Bahasa Indonesia baku mengikuti kaidah bahasa Indonesia yang berlaku seperti berikut.
a. Tertib penulisannya mengikuti Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD)
b. Tertib pembentukan istilah berpedoman pada Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI).
c. Kosa kata yang tidak digunakan dipengaruhi oleh bentuk kosa kata daerah/dialek. Sebagai acuan dapat digunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
d. Kalimat mengikuti struktur kalimat efektif sesuai dengan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
e. Lafal yang relatif bebas diwarnai oleh lafal daerah atau dialek setempat.
1.5 Rangkuman
Kemampuan berbahasa terdiri dari mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis. Kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sangat diperlukan dalam penyusunan formulir, surat, artikel, makalah, laporan atau pertemuan resmi, seperti seminar, lokakarya, penyuluhan, atau ceramah. Dengan demikian, bahasa Indonesia yang digunakan dalam tulisan atau kegiatan ilmiah tersebut harus mengikuti kaidah bahasa baku.
Penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar sebagai perwujudan fungsi bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara.
BAB 2
PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA
Kompetensi Dasar
Pada akhir perkuliahan ini, diharapkan mahasiswa mampu
a. menjelaskan unsur-unsur yang terdapat dalam kaidah ejaan;
b. membetulkan kesalahan penulisan huruf, kata, dan penggunaan tanda baca dalam laporan;
c. menerapkan ejaan dengan benar.
2.1 Pendahuluan
Seorang penulis harus menguasi bahasa dengan baik dan benar. Artinya, penulis dapat memanfaatkan keterampilan berbahasa berikut sesuai dengan kaidah baku.
a. Penggunaan ejaan dalam bahasa tulis akan membentuk kalimat menjadi efektif.
b. Pilihan kata perlu memerhatikan ketepatan (kaidah) dan kesesuaian (suasana).
c. Kalimat efektif didukung dengan kriteria kesatuan gagasan (minimal ada subjek dan predikat dalam setiap kalimat), koherensi (kepaduan antarkata dalam kalimat), kelogisan, kehematan, kesejajaran (misalnya dalam penyajian rincian langkah kerja, atau prosedur), dan kavariasian bentuk kalimat.
d. Paragraf yang baik selalu menunjukkan kepaduan dan .
2.2 Ejaan
Ejaan bahasa Indonesia dipergunakan sebagai acuan dalam penulisan kata dan penggunaan tanda baca, bila kita menulis laporan. Penggunaan ejaan yang tepat akan mempermudah pembaca dalam memahami makna kata. Selain itu, laporan yang dihasilkan lebih tertib sehingga dapat mencerminkan tulisan yang baik.
Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan dengan langkah berikut.
a. Jika di tengah kata ada vokal yang berutuan, pemenggalan itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu, misalnya: da – ur dan lu – as.
Huruf diftong ai, au, dan oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu.
Misalnya : pan - tai bukan pan - ta - i
su - ngai bukan su - nga - i
b. Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan huruf konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan, misalnya: ko-lam, te-bing, ja-lan, ku-bus.
c. Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Gabungan-huruf konsonan tidak pernah diceraikan, misalnya: swas - ta, si - lin - der, ik - lim, pab - rik, gam – bar.
d. Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua, misalnya: kon - trak, kon - struk - si, in - stan - si, in - stru – men.
e. Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris, misalnya: pen - cam - pur - an, pem - bo - rong, me - la - ku - kan
Catatan : Bentuk dasar pada kata turunan sedapat-dapatnya tidak dipenggal.
Akhiran -i tidak dipenggal (lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, ayat 1).
f. Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalan dapat dilakukan di antara unsur-unsur itu atau pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah 1a, 1b, 1c, dan ld di atas, misalnya: bio-da-ta, bi-o-da-ta, intro-speksi, in-tro-spek-si, kilo-gram, ki-lo-gram, kilo-meter, ki-lo-me-ter
Keterangan :
Nama orang, badan hukum, dan nama diri yang lain disesuaikan dengan ejaan, kecuali jika ada pertimbangan khusus.
2.2.1 Pemakaian Huruf Besar
Huruf besar (huruf kapital) dipakai sebagai huruf pertama seperti dalam tabel berikut.
a. Huruf pertama pada awal kalimat
b. Huruf pertama petikan langsung
c. Huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan
d. Huruf perama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang
e. Huruf pertama unsur jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau
yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
f. Huruf pertama unsur nama orang, kecuali nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
g. Huruf perama, nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
h. Huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah
i. Huruf pertama nama geografi
j. Huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah, dan ketatanegaraan serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan
k. Huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama gedung, lembaga pemerintah, dan ketatanegaraan serta dokumen resmi
l. Huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti ke, di, atau dan
m. Huruf pertama unsur singkatan namagelar, pangkat, dan sifat
n. Huruf pertama kata petunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, dan adik yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan
o. Huruf pertama kata ganti Anda
2.2.2 Pemakaian Huruf Miring
Huruf miring dipakai untuk menuliskan atau menegaskan kata-kata yang terdapat dalam pernyatan berikut, yaitu:
a. menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan;
b. menegaskan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata;
c. menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Catatan : Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf dan kata yang dicetak miring diberi satu garis di bawahnya.
2.2.3 Penulisan Kata
Penulisan kata meliputi kata dasar, kata berimbuhan, kata ulang, gabungan kata, kata ganti, kata depan, parikel, singkatan dan akronim, angka dan lambang bilangan, serta penulisan kata Si dan Sang.
a. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan, miisalnya: Laporan itu sangat baik.
b. Kata Berimbuhan
1) Imbuhan ditulis serangkai dengan kata dasarnya, misalnya: penyelisikan, mengecor, dan berdiskusi
2) Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serang dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya, misalnya: sebar luaskan dan tumbuh kembangkan
3) Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai,misalnya: menyebarluaskan, menumbuhkembangkan, dan menggarisbawahi
4) Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai, misalnya: politeknik, kilometer, mahakuasa kecuali non–Indonesia, Tuhan Yang Maha Esa.
c. Kata Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung, misalnya: konstruksi kuda – kuda, terus – menerus, dan perundang – udangan.
d. Gabungan Kata
1) Gabungan kata (kata majemuk) termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah, misalnya: kerja praktik, persegi panjang, jadwal kerja, dan benda uji.
2) Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menugaskan pertalian unsur yang bersangkutan, misalnya: dua-kotak obat atau dua kotak-obat
3) Gagungan kata yang sudah dianggap sebagai suatu kata ditulis serangkai, misalnya: daripada, segitiga, dan padahal.
e. Kata Ganti
Kata ganti ku, kau, mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mengikuti dan mendahuluinya, misalnya: Laporannya tersimpan di perpustakaan jurusan.
f. Kata Depan
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada. Misalnya, di dalam, di sekitar gedung, di atas, ke depan, ke rumah, ke atas, dari kota
kecuali Ia masuk lalu keluar lag dan Kesampingkan saja.
g. Kata Si dan Sang
Kata Si dan Sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, misalnya: Surat itu dikembalikan kepada si pengirimnya.
h. Partikel
1) Pertikel-lah, kah, dan tak ditulis serangkai dengan kata yang mendahulinya, misalnya: apakah, sudahkah, dan jelaslah
2) Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya, misalnya: Praktik kerja pun sangat bermanfaat kecuali adapun, maupun, atau biarpun
3) Partikel per yang berarti mulai, demi, dan tiap ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya, misalnya: satu per satu dan realisasi anggaran APBD per 1 April
i. Singkatan dan Akronim
1) Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
a) Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik, misalnya: M. Yamin, M. Pd. atau atas perhatian Bapak, …
b) Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf besar dan tidak diikuti tanda titik, misalnya: RS Kariadi.
c) Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik, misalnya: Yth. (yang terhormat), kecuali a.n. (atas nama).
d) Lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik, misalnya: kg, km, Rp, atau cm.
2) Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlukan sebagai kata.
a) Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf besar, misalnya: LAN (Lembaga Administrasi Negara) dan ISO (International System Organization).
b) Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf besar, misalnya: Puskesmas dan Depkes.
c) Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil, misalnya: raker (rapat kerja)
j. Angka dan Lambang Bilangan
Angka dan lambang bilangan dipakai untuk menyatakan hal-hal berikut.
1) Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor
2) Angka dipakai untuk menyatakan 1) ukuran panjang, berat, luas, dan isi, 2) satuan waktu, 3) nilai uang, dan 4) kuantitas
3) Angka dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
4) Angka dipakai untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
5) Lambang bilangan dinyatakan dengan huruf.
6) Lambang bilangan tingkat ditulis dengan cara berikut.
7) Lambang bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti cara berikut.
8) Lambang bilangan dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali bila beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan seperti dalam perincian dan pemaparan
9) Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf bila susunan kalimat perlu diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
10) Angka yang menunjukkan bilangan untuk yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.
11) Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks, kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta di kontrak.
12) Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf penulisannya harus tepat.
2.2.4 Tanda Baca
Tanda baca ini dipakai dalam persyaratan-persyaratan berikut.
a. Tanda titik ( . )
Tanda titik
1) dipakai pada akhir kalimat;
2) dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar atau daftar;
3) dipakai untuk memisahkan angka jam, menit dan detik yang menunjukkan waktu;
4) dipakai diantara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanga dan tanda seru, serta tempat terbit dalam daftar pustaka;
5) dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan dan kelipatannya;
6) tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah;
7) tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebaganya;
8) tidak dipakai di belakang a) alamat pengirim dan tanggal surat, b) nama dan alamat penerima surat.
b. Tanda Koma ( , )
Tanda koma dipakai pada pernyataan-pernyataan berikut, yaitu:
1) dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan;
2) dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan;
3) dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat bila anak kalimat mendahului induk kalimat;
4) dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, akan tetapi;
5) dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, dan kasihan;
6) dipakai untuk memasukkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat;
7) dipakai di antara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tanggal, serta nama tempat dan wilayah;
8) dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka;
9) dipakai di antara nama dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan atau marga
10) dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka;
11) dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi;
12) tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
c. Tanda Titik Koma ( ; )
Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Tanda titik koma digunakan juga untuk memisahkan kalimat-kalimat dalam suatu
perincian.
Dalam surat keputusan tanda titik koma banyak digunakan untuk membatasi kalimat¬kalimat yang merupakan bagian dari konsiderans dan bagian-bagian dari isi putusan itu sendiri.
Misalnya : Mengingat : 1 ............................... ;
2 ............................... ;
Memutuskan : 1 ............................... ;
2 ............................... ;
d. Tanta Titik Dua ( : )
Tanda titik dua :
1) dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian;
dipakai untuk pemerian yang berbentuk formula, misalnya pemerian suatu organisasi;
2) dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan penerimaan;
3) dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan;
4) dipakai a) di antara jilid atau nomor dan halaman, b) di antara bab dan ayat dal kitab suci, c) di antara judul dan anak judul suatu karangan, dan d) nama kota dan penerbit buku acuan karangan;
e. Tanda Hubung ( - )
Tanda hubung digunakan pada pernyataan-pernyataan berikut.
1) manyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pengertian garis;
2) menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata didepannya pada pergantian garis;
3) menyambung unsur kata ulang;
4) menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal;
5) boleh dipakai untuk memperjelas hubungan bagian kata atau ungkapan dan penghilangan bagian kelompok kata;
6) merangkaikan a) se - dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, b) ke - dengan angka, c) angka dengan - an, d) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata 1 dan e) nama jabatan rangkap;
7) merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
f. Tanda Pisah
Tanda pisah dipakai
1) membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bagian kalimat;
2) menegaskan adanya keterangan oposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi jelas;
3) memisahkan di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti sampai ke atau sampai dengan
g. Tanda Elepsis ( ... )
1) Tanda elepsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.
2) Tanda elepsi menunjukkan bahan dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.
h. Tanda Tanya ( ? )
Tanda tanya
1) dipakai pada akhir kalimat;
2) dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang diragukan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya;
i. Tanda Seru ( ! )
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang mengkabarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.
j. Tanda Kurung ( )
1) Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
2) Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan merupakan bagian integral pokok pembicaraan.
3) Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu serf keterangan. Angka atau huruf itu dapat juga diikuti oleh kurung tutup, saja.
k. Tanda Kurung Siku ( [ ... ] )
1) Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu jadi isyarat bahwa kesalahan itu memang terdapat di dalam naskah asal.
2) Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
l. Tanda Petik (“ ... “)
Ada lima hal yang perlu kita perhatikan mengenai pemakaian tanda petik.
1) Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Kedua pasang tanda petik ini ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.
2) Tanda petik mengapit judul syair, karangan, dan bab buku, apabila dipakai dalam kalimat.
3) Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
4) Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda, petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus.
m. Tanda Petik Tunggal ( ‘...’)
1) Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
2) Tanda petik tunggal mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
n. Tanda Ulang (angka 2 biasa) ( ... 2)
Tanda ulang yang berupa angka 2 biasa dapat dipakai dalam tulisan cepat dan notula untuk menyatakan pengulangan kata.
o. Tanda Garis Miring ( / )
1) Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat.
2) Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, per, atau nomor alamat.
p. Tanda Penyingkat atau Apostrof ( ’ )
Tanda apostrof menunjukkan penghilangan bagian kata.
2.3 Pilihan Kata
Kata merupakan bentuk istilah yang bermakna leksikal dan gramatikal, seperti gambar, desain, struktur, atau proyek. Selain itu, ada kata yang bermakna gramatikal, seperti akan, yang, telah, adalah, dan tetap (biasa disebut juga kata tugas).
Istilah merupakan kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan suatu konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. Istilah dibedakan menjadi istilah khusus dan istilah umum. Kata elektromagnet, mekatronik, dan gelombang (ilmu fisika) termasuk istilah khusus, sedangkan istilah umum terdapat pada kata manajemen, proyek, atau solusi.
Ungkapan kata, seperti meja hijau, unjuk gigi, atau rumah singgah, termasuk kata karena terdiri atas kata-kata. Pada umumnya, ungkapan memiliki makna kias. Hal ini dapat dilihat pada makna kata meja hijau. Kata meja hijau bukan berarti meja berwarna hijau, melainkan pengadilan, begitu pula ungkapan yang lain.
2.3.1 Kata dan Makna
Dalam bahasa ilmu pengetahuan, kata-kata yang digunakan adalah kata-kata baku. Artinya, kata yang tidak dipengaruhi oleh bahasa sehari-hari. Misalnya, hipotesis metode, dan kualitas termasuk kata baku, sedangkan hipotesa, metoda, dan kwalitas termasuk kata takbaku.
Kata-kata yang digunakan dalam laporan harus bermakna denotatif, yaitu makna pokok, makna objektif, makna yang ditunjuk langsung oleh kata itu.
2.3.2 Penggunaan Istilah
Istilah asing yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia mengikuti kaidah bahasa Indonesia karena istilah tersebut sudah menjadi milik kosa kata bahasa Indonesia, misalnya teknologi komputer ( Inggris : computer technology)
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni di Indonesia istilah-istilah dapat dibentuk dengan mempergunakan cara-cara berikut, yaitu:
a. menciptakan istilah yang baru sama sekali;
b. mengambil kata atau gabungan kata biasa dan memberinya makna atau definisi yang tetap dan tertentu;
c. menerjermahkan istilah asing;
d. meminjam istilah dari bahasa lain;
e. mengadaptasi istilah asing menurut kaidah-kaidah bahasa Indonesia.
Kata-kata asing dapat digunakan dalam kalimat-kalimat bahasa Indonesia bila memenuhi hal-hal seperti berikut.
a. Kata asing yang disajikan belum mempunyai padanan kata dalam bahasa Indonesia,
b. Kata asing yang digunakan tidak dapat diterjemahkan secara tapaadan praktis,
c. Kata asing itu tidak dapat diserap ke dalam bahasa Indonesia.
2.3.3 Penulisan Kata Asing (bukan bahasa Latin)
Penulisan kata-kata asing (bukan dari bahasa Latin) seperti dari bahasa Inggris, Belanda, atau Arab, dalam kalimat-kalimat bahasa Indonesia ditulis dengan huruf miring, kecuali berada di antara tanda kurung, seperti contoh berikut.
a. Setelah layout-nya selesai kita susun, barulah kita melangkah pada kegiatan
berikutnya.
b. Setelah tata letaknya (layout-nya) selesai kita susun, barulah kita melangkah pada kegiatan
berikutnyadigunakan oleh para guru untuk memperjelas bahan yang diajarkan.
2.3.4 Kata Abstrak dan Kongkret
Kata abstrak merupakan kata yang mempunyai referen berupa konsep, seperti kata multimedia, rekayasa, bahasa pemrograman, atau banyak data. Kata-kata seperti luas ruang 10 m2, mendesain, atau mikroprosesor termasuk kata kongkret karena kata tersebut berupa referen berupa objek yang dapat diamati. Penggunaan kata abstrak dan kongkret bergantung pada jenis dan tujuan penulisan. Laporan yang berupa deskripsi fakta sering menggunakan kata kongkret, seperti catu daya, unjuk kerja komparator, dan modulator, sedangkan laporan yang berupa generalisasi sebuah konsep menggunakan kata-kata abstrak, seperti studi kelayakan dan bahasa pemrograman.
2.3.5 Kata Khusus dan Umum
Kata umum dibedakan dari kata khusus berdasarkan ruang lingkupnya. Makin luas ruang lingkup suatu kata, makin umum sifatnya. Sebaliknya, makna kata menjadi sempit lingkupnya makin khusus sifatnya. Dalam tulisan, makin umum suatu kata kemungkinan terjadi penafsiran yang berbeda, sebaliknya makin khusus suatu kata makin sempit sifatnya kemungkinan sedikit terjadi perbedaan penafsiran Dengan demikian, semakin khusus makna kata yang dipakai, pilihan kata semakin tepat, seperti membuat (kata umum) dan merancang (kata khusus).
2.3.6 Bentuk Kata
Bentuk kata menyangkut kata yang berimbuhan. Kata berimbuhan mengikuti kaidah pembentuk kata ke bahasa Indonesia, seperti merubah (salah) dan mengubah (benar).
2.3.7 Pilihan Kata
Kata-kata, yang dikategorikan sebagai kata umum, kata khusus, istilah, kata abstrak, kata atau kongkret, dapat dirangkaikan menjadi kelompok kata dan kalimat sehingga mempunyai gagasan yang tepat sesuai dengan maksud tulisan. Dengan demikian, kalimat yang dihasilkan harus memenuhi ketepatan dan kesesuaian baik makna maupun bentuk.
Ketepatan berarti kata-kata yang dipilih harus secara tepat mengungkapkan maksud yang diinginkan sesuai dengan makna dan aspek logika kata. Ketepatan ini ditandai dengan beberapa hal, antara lain: a) mengunakan kaidah bahasa secara tepat, b) menghasilkan gagasan yang tidak menimbulkan perbedaan penafsiran, c) menghasilkan respon pembaca atau pendengar sesuai dengan harapan penulis atau pembicara, dan d) menghasilkan target komunikasi yang diharapkan.
Kesesuaian berarti kecocokan antarkata yang dipakai sesuai dengan situasi dan keadaan pembaca sesuai dengan aspek sosial kata-kata. Misalnya, penggunaan bahasa baku dalam laporan, sedangkan takbaku digunakan dalam situasi tidak resmi, seperti waktu istirahat. Jadi, kesesuaian selalu berkaitan dengan penggunaan ragam bahasa pada bidang ilmu masing-masing, yang pembedanya terletak pada istilah-istilah yang digunakan bukan panjang-pendeknya kalimat atau paragraf.
2.4 Kalimat Efektif
Sebuah kalimat yang telah memenuhi persyaratan gramatikal mungkin belum efektif karena keefektifan kalimat menghendaki persyaratan yang lebih dari persyaratan gramatikal. Kefektifan kalimat menghendaki persyaratan pemakaian kelaziman berbahasa yang sudah mapan. Kalimat efektif tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga meliputi peristiwa dan situasi ke dalam suatu pikiran yang utuh.
Sebuah laporan dikatakan efektif, bila penulisannya ditata dengan baik sehingga pembaca mengerti dengan baik pesan yang disampaikan oleh penulis dan tergerak oleh pesan yang disampaikan untuk mengetahui lebih jauh. Untuk mengetahui derajat penulisan itu, seorang penulis hendaknya memperhatikan penerapan ejaan, pemilihan kata, penataan kalimat, dan penyusunan paragraf.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat. Untuk dapat menghasilkan kalimat efektif perlu didukung oleh adanya kesatuan gagasan, koherensi, kelogisan, kesejajaran, kehematan, atau kevariasian.
Pemilihan kata pembentukan kata atau pembuatan kalimat yang tidak cermat mengakibatkan makna yang terkandung dalam kalimat terganggu. Hal ini seharusnya dihindari agar informasi yang disampaikan dapat diterima dengan tepat. Oleh karena itu, Anda perlu memperhatikan pengefektifan kalimat berikut.
a. Kalimat efektif mengandung kesatuan gagasan, yaitu selalu diupayakan subjek dan predikat eksplisif (artinya setiap kalimat minimal memiliki subjek dan predikat).
b. Kalimat efektif mewujudkan koherensi yang kompak. Untuk itu, hendaknya penulis kritis terhadap bentuk kata.
c. Kalimat efektif merupakan komunikasi yang logis, artinya dapat diterima oleh akal sehat.
d. Kalimat efektif memperhatikan kesejajaran. Kesejajaran merupakan penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sama fungsi (misalnya dalam penyebutan rincian, langkah kerja, atau prosedur).
e. Kalimat efektif dibantu penerapan ejaan dengan tepat sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
2.5 Paragraf
Berbicara tentang paragraf berhubungan erat dengan wacana. Tulisan yang baik harus akurat, jelas, dan layak. Oleh karena itu, memmbangun paragraf dengan baik akan mempermudah pembaca dalam memahami isi wacana.
Paragraf (alinea)amerupakan suatu pernyataan atau rangkaian kalimat yang mempunyai gagasan pokok. Gagasan pokok tersebut dikatakan sebagai kalimat topik. Paragraf ditandai dengan beberapa hal berikut.
a. Penulisan baris pertama menjorok ke dalam atau penulisan baris pertama menggunakan bentuk lurus.
b. Paragraf mempunyai satu gagasan yang berupa kalimat topik (kalimat utama).
c. Paragraf dapat terdiri dari kalimat atau rangkaian kalimat.
2.5.1 Ciri-ciri Paragraf
Untuk membangun alinea yang baik perlu diperhatikan ciri-ciri berikut.
a. Kesatuan gagasan, yaitu seluruh uraian dalam paragraf terpusat pada satu gagasan pokok.
b. Koherensi, yaitu seluruh uraian dalam paragraf berhubungan dengan teratur dan bermakna.
c. Perkembangan paragraf, yaitu paragraf mempunyai pernyataan (kalimat) yang memadai untuk menjelaskan pokok bahasan atau adanya kalimat (gagasan) utama dan penjelas.
d. Ketepatan, yaitu berkaitan dengan ketaatasasan dalam penggunaan bahasa dan penyajian.
Untuk menghasilkan gagasan yang runtut, Anda dapat melakukan cara-cara berikut, antara lain :
a. mengulang kata-kata kunci berupa kata yang menduduki subjek, predikat, atau objek;
b. menggunakan kata ganti atau kata bersinonim dengan kata kunci.
2.5.2 Penyusunan Paragraf
Dalam laporan paragraf disusun dengan memperhatikan peraturan antaraparagraf dalam wacana. Paragraf pembuka, penghubung, dan penutup merupakan paragraf¬paragraf terpadu sehingga dapat menghasilkan wacana yang mudah dipahami pembaca. Dengan demikian, paragraf-paragraf itu benar-benar mencerminkan komposisi tulisan yang baik.
2.6 Wacana
Untuk menyusun laporan, seorang penulis perlu merumuskan topik ke dalam judul dan mengembangkan topik itu dengan kalimat-kalimat yang ditata ke dalam satuan-satuan yang merupakan pengembangan sub-subtopik masing-masing. Hasil penataan kalimat yang tercakup dalam setiap subtopik itu disebut paragraf. Dalam laporan yang lebih kompleks beberapa paragraf tertentu tertata di dalam satu satuan bagian laporan yang tercakup dalam satu subtopik yang bersama-sama dengan pengembangan subtopik lain yang sederajat membangun sebuah laporan yang topiknya dirumuskan dalam judul laporan. Dalam laporan yang lebih kompleks, pengembangan topik dilakukan setingkat lebih luas sehingga subtopik yang teratas teralisasi sebagai judul bab, sedangkan pengembangannya menjadi sebuah bab. Keseluruhan bab itu merupakan sebuah laporan.
Untuk menyampaikan topik beserta uraiannya itu digunakan sebuah atau sederetan kalimat yang tertata sebagai suatu kesatuan oleh adanya satu topik dan konteks. Satuan tuturan baik lisan maupun tulis yang mengemukakan sebuah topik, yang dijabarkan dalam sebuah atau sederetan kalimat yang tertata sebagai satu kesatuan karena dilatarbelakangi oleh sebuah topik dan konteks tertentu disebut wacana (Ekowardono, 2006:4).
Dalam wacana tulis segala sesuatunya ditulis dengan jelas baik paragraf, kalimat, maupun pilihan kata sehingga membentuk wacana yang baik, yaitu terpadu dan menyatu serta cermat. Jadi, hakikat wacana adalah satuan bahasa yang lebih luas daripada kalimat dan mengandung amanat yang lengkap dan utuh.. Terpadu berkaitan dengan kesatuan gagasan yang diungkapkan, menyatu berkaitan dengan hubungan antarparagraf, antarkalimat, dan antarkata sehingga membentuk maksud yang jelas, sedangkan cermat berkaitan dengan ketepatan dan kesesuaian kata serta ketepatan pemakaian ejaan.
Secara esensi wacana a) terdiri dari rentetan kalimat yang saling berkaitan membentuk satu kesatuan, b) merupakan satuan bahasa terlengkap dan tetinggi di atas kalimat atau klausa, c) mempunyai kohesi dan koherensi, d) mempunyai awal dan akhir yang nyata, dan e) dapat disampaikan secara lisan maupun tulis. Kohesi berarti kepaduan bentuk yang secara struktural membentuk suatu ikatan sintaksis sehingga menjadi wacana yang baik dan utuh. Koherensi diartikan sebagai kapaduan makna antarkalimat atau antarparagraf sehingga membentuk wacana yang apik dan benar (Mulyana, 2005). Oktavianus (2006:30) menyebutkan teks tidak dapat dimaknai secara lengkap jika tidak diperlakukan sebagai wacana.
Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Moeliono, et. al.,1988:334) dinyatakan bahwa wacana ialah rentetan kalimat yang berkaitan sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat itu. Sebagai wacana, tugas akhir sudah seharusnya menggunakan bahasa resmi yang sesuai dengan kaidah yang baku.
2.5 Rangkuman
Dalam penyusunan laporan kita perlu memperhatikan tertib menulis, yaitu penerapan kaidah ejaan, pemilihan kata, penggunaan kalimat, penyajian paragraf, dan wacana. Ejaan yang digunakan berpedoman pada Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) yaitu pemakaian huruf, penulisan kata, dan penggunaan tanda baca. Penggunaan ejaan dengan benar akan dapat mencerminkan laporan yang tertib. Penggunaan istilah berpedoman pada Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI). Penyusunan kalimat berorientasi pada keefektifan kalimat dan penyajian paragraf yang berkembang sangat disarankan dalam suatu laporan agar maksud yang disampaikan lebih jelas sehingga membentuk wacana yang baik.
2.6 Perlatihan
Kerjakan soal berikut dengan cermat!
1. Laporan harus disusun dengan kalimat yang efektif agar dihasilkan wacana yang baik. Jelakan maksudnya dengan contoh!
2. Jelaskan cara menyajikan paragraf yang baik sehingga antarparagraf selalu berkaitan!
3. Perbaikilah wacana terlampir sehingga menjadi tulisan yang baik.
4. Buatlah wacana yang tentang penjabaran sebuah alat kerja yang berkaitan dengan pekerjaan Saudara!
BAB 3.
MEMBACA KRITIS
Kompetensi Dasar
Pada akhir perkuliahan ini, diharapkan mahasiswa dapat
d. menjelaskan membaca kritis untuk tulisan;
3.1 Pendahuluan
Membaca kritis dimaksudkan untuk mendapatkan informasi atau gagasan yang terdapat dalam tulisan. Hasil membaca kritis ini disajikan lisan maupun tertulis. Penyajian lisan disampaikan dalam forum resmi, seperti disktusi, pelatihan, atau penyluhan. Penyajian tertulisn diuangkapkan dalam bentuk kutipan, rangkuman, atau gagasan pokok. Membaca kritis dilakukan secara efektif.
3.2 Membaca Kritis
Kegiatan membaca kritis untuk menulis adalah kegiatan membaca untuk mendapatkan informasi yang relevan dan diperlukan untuk tulisan yang dikembangkan. Dengan demikian, kita selalu berpikir skeptis, bertanya terus, dan berusaha mencari bukti untuk menguji kebenaran informasi. Berdasarkan ragamnya, membaca kritis bertujuan untuk mencari topik, informasi khusus, dan informasi rinci.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca kritis tulisan ilmiah (seperti makalah, tugas akhir, atau hasil penelitian) adalah
a. mengenali tesis (pernyataan masalah);
b. meringkas butir-butir penting;
c. menyitir konsep-konsep penting;
d. menentukan bagian yang dikutip;
e. menentukan implikasi dari sumber yang dikutip;
f. menentukan posisi penulis sebagai pengutip.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca kritis buku ilmiah (seperti buku atau modul) adalah memanfaatkan indeks untuk menemukan konsep penting, menemukan konsep-konsep penting untuk bahan menulis, menemukan dan menandai bagian-bagian buku yang dikutip, menentukan implikasi dari sumber yang dikutip, dan menentukan posisi penulis sebagai pengutip.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca kritis tulisan populer (seperti koran atau majalah)adalah mengenali persoalan utama atau isu yang dibahas, menemukan signifikansi atau relevansi isu dengan tulisan yang akan dihasilkan, memanfaatkan isu tulisan populer untuk bahan atau inspirasi dalam menulis, dan membedakan isi tulisan populer dan ilmiah.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca kritis bahan-bahan yang tersaji dalam internet untuk menulis adalah kiat praktis untuk menemukan bahan-bahan dalam jaringan internet, memilih dan mengevaluasi bahan-bahan dalam jaringan internet, menemukan isi atau gagasan penting dalam bahan-bahan yang tersedia, dan memanfaatkan kritis bahan-bahan dalam jaringan internet.
Proses membaca kritis dapat dilakukan dengan langkah berikut.
a. mengerti isi bacaan, artinya mengerti benmar ide pokoknya, mengetahui fakta dan detail pentingnya, dan dapat membuat simpulan dan interpretasi dari ide-ide itu;
b. menguji sumber penulis, misalnya apakah dapat dipercaya atau kompeten?
c. membandingkan gagasan penulis dan pembaca;
d. menerima atau menolak.
Jadi, jangan berkesimpulan bahwa sesuatu yang tercetak itu benar, mesti lengkap, dan dapat dipercaya. Sebagai pembaca yang baik, Anda dapat memberikan penilaian untuk diri sendiri (dalam bentuk interpretasi) dengan syarat terbuka terhadap gagasan orang lain.
3.3 Penyajian Lisan
Penyajian lisan berkaitan dengan dengan kegiatan pidato. Pidato adalah suatu gagasan yang disampaikan secara lisan dalam acara tertentu. Berpidato adalah kegiatan menyampaikan gagasan secara lisan dengan menggunakan penalaran yang tepat serta memanfaatkan aspek-aspek nonkebahasan yang mendukung efisiensi dan efektivitas pengungkapan gagasan kepada orang banyak dalam suatu acara tertentu. Berpidato bisa dilakukan dalam acara seminar, lokakarya, rapat, peresmian (misalnya peresmian gedung), peringatan (misalnya Sumpah Pemuda), dan sebagainya.
3.3.1 Jenis Penyajian Lisan
Penyajian lisan dilakukan dengan beberapa cara berikut.
a. Metode serta merta (impromptu)
Penyajian lisan dilakukan oleh seseorang secara serta merta, artinya gagasan yang disampaikan tanpa persiapan (spontanitas). Hal ini disampaikan oleh seseorang yang sudah terbiasa dengan keseharian, seperti pejabat atau pemimpin dalam memberikan sambutan dalam acara rapat atau acara seremonial yang lain.
b. Metode Menghafal
Penyajian lisan ini dilakukan dengan menghafal naskah yang sudah disusun. Hal ini disampaikan oleh pemula berpidato. Kelemahan metode ini adalah jika terdapat bagian yang terlupakan akan mengganggu gagasan berikutnya sehingga gagasan yang disampaikan tidak utuh. Oleh karena itu, metode ini hendaknya dihindari terutama di kalangan mahasiswa dan dewasa.
c. Metode Naskah
Penyajian lisan ini dilakukan dengan membaca naskah yang sudah disusun secara sistematis sehingga gagasan yang disampaikan dibaca secara lengkap atau bahkan dapat pula mengembangkan gagasan tertentu dengan ilustrasi atau contoh yang terkait.
d. Metode ekstemporan (catatan singkat)
Penyajian lisan ini dilakukan dengan cara menyiapkan catatan singkat gagasan yang akan disampaikan (pointer) sehingga gagasan (catatan singkat) diungkapkan dengan bahasa lisan sesuai dengan kemampuan seseorang.
Metode tersebut dapat dimanfaatkan oleh seseorang yang akan menyampaikan gagasan secara lisan.
3.3.2 Hakikat Penyajian Lisan
Hakikat menulis naskah pidato adalah menuangkan gagasan ke dalam bentuk bahasa tulis yang siap untuk dilisankan melalui berpidato. Menyunting naskah pidato dilakukan terhadap isi, bahasa, dan penalaran. Menyampaikan pidato berarti melisankan naskah pidato yang telah disiapkan dengan cara menghidupkan suasana dan menciptakan interaksi yang hangat dengan audience.
Penyajian lisan memenuhi kriteria berikut, yaitu isinya sesuai dengan kegiatan yang sedang berlangung, isinya menggugah, membangun optimism, dan bermanfaat bagi pendengar, isinya tidak menimbulkan pertentangan (sara), isinya benar dan objektif, bahasa yang digunakan mudah dipahami, dan disampaikan secara santun, terbuka, jujur, dan bersahabat.
Langkah yang dilakukan dalam penyajian lisan adalah
a. Pembukaan,
b. pembukaan berisi sapaan kepada pihak-pihak yang hadir,
c. sajian isi,
d. sajian isi berupa penjabaran gagasan pokok sesuai dengan waktu yang disediakan, dan
e. penutup berupa penegasan kembali gagasa pokok yang dijabarkan, harapan, dan ucapan terima kasih.
3.4 Presentasi Lisan
Presentasi lisan dilakukan dalam situasi resmi, seperti seminar atau pelatihan. Presentasi dilakukan dengan memperhatikan langkah berikut, yaitu
a. mempersiapkan materi, artinya memcari bahan atau informasi yang terkait dengan topik yang akan disampaikan;
b. menyampaikan presentasi dengan langkah 1) membuka presentasi dan merebut perhatian, 2) menjelaskan ide-ide yang dituangkan dalam tulisan dengan menggunakan alat bantu visual,
c. menjawab pertanyaan atau menanggapi atau memepertimbangkan masukan/saran, dan
d. mendayagunakan suara dan bahasa tubuh.
3.5 Rangkuman
Membaca kritis untuk menulis dilakukan untuk menpatkan gagasan pokok atau hal yang penting untuk dijadikan sebagai kutipan langsung maupun tidak langsung dalam tulisan atau laporan pembaca. Dalam pengutipan tersebut disebutkan sumber identitasnya (nama penulis buku, tahun : halaman). Hal membaca kritis digunakan sebagai bentuk pertanggungjawaban pengutip terhadap argumen yang dikemukakan baik dalam pidato atau diskusi.
BAB 4
MENULIS AKADEMIK
Kompetensi Dasar
Pada akhir perkuliahan ini, diharapkan mahasiswa dapat
a. menjelaskan pengertian menulis akademik;
b. menjelaskan tahap-tahap penulisan akademik;
c. membuat tulisan akademik.
4.1 Pengertian
Pengembangan kemahiran menulis akademik tentang bidang studi dengan konteks Indonesia memiliki peran penting dalam pengembangan kepribadian mahasiswa sebagai insan Indonesia yang terpelajar. Terkait dengan keyakinan ini, mahasiswa dilibatkan dalam berbagai kegiatan yang membantu mereka untuk.mencapai pengalaman yang mantap tentang pengertian tulisan akademik dengan kriterianya, dan ragam tulisan akademik, seperti makalah, artikel, dan laporan. Proses tersebut melibatkan penyusunan, penyuntingan, dan perbaikan.
Menulis akademik (academic wriiting) bukan pekerjaan yang sulit, tetapi juga tidak mudah. Ketika memulai menulis secara ilmiah, setiap penulis tidak perlu menunggu menjadi seorang penulis yang terampil. Belajar teori menulis itu mudah, tetapi untuk mempraktikkannya tidak cukup sekali atau dua kali saja. Frekuensi dan kontinuitas latihan menulis akan menjadikan seseorang terampil dalam bidang tulis-menulis.
Tidak ada waktu yang tidak tepat untuk memulai menulis. Artinya, kapan pun seseorang dapat melakukannya. Ketakutan akan gagal bukanlah penyebab yang harus dipertahankan. Itulah salah satu kiat yang ditawarkan oleh Dayid Nunan (1991). Dia menawarkan konsep pengembangan keterampilan menulis yang meliputi (1) perbedaan antara bahasa lisan dan bahasa tulis, (2) menulis sebagai proses dan menulis sebagai produk, (3) struktur generik wacana tulis, (4) perbedaan antara penulis terampil dan penulis tidak terampil, dan (5) penerapan keterampilan menulis dalam pembelajaran.
Perbedaan antara bahasa lisan dan bahasa tulis tampak pada fungsi dan karakteristik yang dimiliki oleh keduanya. Namun, yang patut diperhatikan adalah kedua bahasa itu (lisan dan tulis) harus memiliki fungsi komunikasi. Dari sudut pandang inilah dapat diketahui bagaimana hubungan antara bahasa lisan dan bahasa tulis sehingga dapat diaplikasikan dalam pembelajaran dan perlatihan keterampilan menulis.
Pendekatan lain dalam mcngembangkan keterampilan menulis adalah adanya pandangan tentang menulis sebagai suatu proses dan menulis sebagai suatu produk. Pendekatan yang berorientasi pada proses lebih memfokuskan pada aktivitas belajar (menulis), sedangkan pendekatan yang berorientasi pada produk lebih memfokuskan pada hasil belajar (tugas akhir). Adapun struktur generik wacana dari masing-masing jenis karangan atau tulisan tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok. Hanya, pada jenis karangan narasi menunjukkan struktur yang lengkap, yang terdiri atas orientasi, komplikasi, dan resolusi. Hal inilah yang menjadi ciri khas atau karakteristik jenis karangan narasi.
Untuk menambah wawasan tentang menulis, kita perlu mengetahui antara penulis yang terampil dan penulis yang tidak terampil agar dapat mengambil manfaat dari keduanya. Kita dapat mengetahui kesulitan yang dialami oleh penulis pemula (penulis tidak terampil). Salah satu kesulitan yang dihadapinya adalah ia kurang mampu mengantisipasi masalah yang ada pada pembaca. Adapun penulis yang terampil, ia mampu mengatasi masalah tersebut ataupun masalah lainnya. Masalah lain berkenaan dengan proses menulis itu sendiri.
Menulis adalah kegiatan menyusun dan merangkaikan kalimat dengan cermat agar pesan, informasi, dan maksud yang terkandung dalam pikiran, gagasan, dan pendapat penulis dapat disampaikan dengan baik. Untuk itu, setiap kalimat digusun sesuai dengan kaidah gramatika sehingga mampu mcndukung pcngertian baik dalam taraf significance maupun dalam taraf value. Kalimat yang demikian itu diwujudkan di atas kertas dengan menggunakan media visual menurut grafologi tertentu. Penguasaan terhadap sistem grafologi ini, yaitu sistem yang digunakan dalam suatu bahasa merupakan kemampuan prasarana yang harus dikuasai oleh seorang penulis.
Ada tiga tahap proses menulis sebagaimana ditawarkan oleh David Nunan, yaitu (1) tahap prapenulisan, (2) tahap penulisan, dan (3) tahap revisi atau penyempurnaan. Untuk menerapkan ketiga tahap tersebut, dalam pendidikan bahasa, khususnya keterampilan menulis diperlukan keterpaduan antara proses dan produk menulis di dalam kelas. Hal ini amat bergantung pada minat pembelajar dalam menulis, kerja sama antarpembelajar, kesempatan ataupun penetapan model pengajaran dan pembelajaran menulis.
Berdasarkan uraian dan pernyataan tersebut, dapatlah dikatakan bahwa menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini, seorang penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata (Tarigan, 1983:4). Sehubungan dengan hal ini, keterampilan menulis digunakan untuk mcncatat atau merekam, meyakinkan, melaporkan atau memberitahukan, dan mempengaruhi sikap pembaca. Maksud dan tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh orang yang dapat menyusun pikirannya dan mengutarakannya dengan jelas ke dalam bentuk atau wujud tulisan. Kejelasan ini bergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian dan pemilihan tepat makna dan struktur kalimat.
Bahasa tulis tidak dapat mewujudkan sejumlah aspek bahasa lisan secara sempurna. Walaupun dalam bahasa tulis telah diupayakan berbagai macam tanda baca, seperti tanda tanya, tanda seru, tanda koma,dan tanda titik, yang dapat mewujudkan aspek bahasa lisan, namun bahasa tulis tetap belum dapat mewujudkan keseluruhan aspek bahasa lisan. Tekanan, nada, lagu kalimat sering dinyatakan dalam tulisan (Samsuri, 1987:20).
Di samping kekurangan bahasa tulis, bahasa tulis juga mempunyai kelebihan. Pertama, bentuk grafis kata yang dirangkaikan dalam kalimat secara gramatikal terlihat sebagai sesuatu yang tetap dan stabil. Dibandingkan dengan bunyi, bentuk grafis itu lebih cocok untuk menerangkan kesatuan bahasa sepanjang masa. Walaupun bentuk grafis itu benar¬-benar menciptakan kesatuan yang bersifat fiktif, namun ikatan tulisan yang bersifat dangkal (superficial) itu lebih mudah ditanggap daripada ikatan bahasa yang berupa ikatan bunyi. Sebagian besar orang lebih tertarik kepada kesan visual daripada kesan pandangan, sebab kesan visual lebih tegas dan tahan lama (De Saussure, 1959:25).
Kedua, pemakaian bentuk-bentuk bahasa pada tingkat morfologis, sintaksis, serta semantis dalam bahasa tulis dapat lebih cermat dikontrol oleh penulis, sehingga pemakaian bentuk-bentuk bahasa tersebut sesuai dengan kaidah gramatika. Hal ini dapat dilakukan berkat adanya waktu dan kesempatan untuk membaca kembali kalimat-¬kalimat serta membetulkannya jika terdapat kesalahan atau kekeliruan. Berkat adanya waktu dan kesempatan ini pula penyampaian pesan komunikasi dalam bahasa tulis dapat dilakukan secara lebih sistematis. Hal yang demikian ini berbeda dengan pemakaian bahasa lisan yang lebih bersifat spontan (Syafie, 1984: 45).
4.2 Menulis sebagai Proses Kreatif
Menulis merupakan suatu proses kreatif yang banyak melibatkan cara berpikir divergen (menyebar) daripada konvergen (memusat) (Supriadi, 1997). Menulis tidak ubahnya dengan melukis. Penulis memiliki banyak ide, gagasan, pendapat, pikiran, perasaan, dan obsesi yang akan dituliskannya. Kendatipun secara teknis ada kriteria yang dapat diikutinya, tetapi wujud yang akan dihasilkan itu sangat bergantung pada kepiawaian, imajinasi, dan kreativitas penulis dalam mengungkapkan gagasan.
Banyak orang menipunyai ide bagus di benaknya sebagai basil dari perenungan. pengamatan, diskusi, penelitian, atau membaca. Akan tetapi, begitu ide tersebut dilaporkan secara tertulis, laporan atau tulisan itu terasa amat kering, kurang menggigit, dan membosankan. Fokus dan arah tulisannya tidak jelas, gaya bahasa yang digunakan (apalagi dalam menulis akadenlik sebagai tuntutan i1muwan) monoton, pilihan katanya (diksi) kurang tepat, dan variasi kata serta kalimatnya kering. Tulisan yang baik dapat diibaratkan sebagai makanan yang bergizi, enak dimakan, danl menyehatkan. Oleh karena itu, seorang penulis dituntut kreatif dalam merumuskan masalah, merencanakan, mengembangkan tulisan, dan mengakhiri tulisan. Untuk itu, diperlukan penguasaan dan kemampuan bahasa tulis sesuai dengan bidang ilmu masing-masing.
Sebagai proses kreatif yang berlangsung secara kgnitif, penulisan karya i1miah dan penyuntingan laporan tulisan i1miah memuat empat tahap, yaitu (1) tahap persiapan (prapenulisan), (2) tahap inkubasi, (3) tahap i1uminasi, dan (4) tahap verifikasi/evaluasi. Keempat proses kreatif ini kadang-kadang tidak disadari oleh setiap orang yang mengalaminya. Namun, jika dilacak lebih jauh lagi, hampir semua proses menulis (karya ilmiah/akademik, artistik, sosial-budaya, ekonomi, kesehatan, politik, dan lain-lain) melalui keempat tahap ini. Perlu diingat, bahwa proses kreatif tidak identik dengan proses urutan kegiatan, atau langkah-langkah mengembangkan laporan tetapi lebih banyak merupakan proses kognitif atau bernalar.
Tahap pertama dalam proses kreatif adalah ketika seseorang merencanakan, menyiapkan diri, mengumpulkan dan mencari, mengamati, melakukan survai, dan lain-lain yang akan memperkaya masukan kognitifnya untuk diproses pada tahap selanjutnya.
Kedua, inkubasi adalah ketika seseorang memproses informasi yang telah dimilikinya dengan cermat sehingga mengantarkannya pada ditemukannya pemecahan masalah, jalan keluar/solusi yang dicarinya. Proses inkubasi ini analog dengan ayam yang mengerami telurnya sampai telur menetas menjadi anak ayam. Proses ini sering terjadi secara tidak disengaja atau tidak disadari dan memang berlangsung dalam kawasan bawah sadar (subconcious), yang pada dasarnya melibatkan proses perluasan pikiran.
Selain itu, proses inkubasi dapat berlangsung beberapa detik sampai bertahun-¬tahun. Biasanya, ketika seorang penulis melalui proses ini seakan-akan dia mengalami kebingungan dan tidak tahu apa yang akan dan harus dilakukan. Oleh karena itu, tidak jarang seorang penulis yang tidak sabar mengalami frustrasi karena tidak menemukan pemecahan atau jalan keluar atas masalah yang dipikirkannya. Seakan-akan kita melupakan apa yang ada di dalam benak kita. Kita pergi berjalan-jalan atau berekreasi dengan anggota keluarga kita, melaksanakan kegiatan rutin atau pekerjaan lain, atau hanya duduk termangu saja di kursi malas. Kendatipun demikian, sesungguhnya di bawah sadar kita sedang berlangsung proses pengeraman (inkubasi) yang menanti saatnya untuk segera "menetas" berupa gagasan-gagasan yang siap dituliskan.
Ketiga, iluminasi adalah ketika datangnya inspirasi atau ilham, yaitu gagasan datang seakan-akan tiba-tiba dan berloncatan dari pikriran kita. Pada saat ini, apa yang telah lama kita pikirkan menentukan pemecahan atau jalan keluarnya. Iluminasi tidak mengenal waktu dan tempat. Iluminasi bisa datang ketika kita sedang duduk di kursi, sedang mengendarai mobil, sedang berbelanja di pasar atau supermarket, sedang makan, sedang mandi, atau sedang salat sekalipun manakala pikiran kita sedang semrawut.
Jika proses iluminasi itu terjadi, sebaiknya gagasan yang muncul secara tiba-tiba dan amat dinantikan itu segera dicatat, jangan dibiarkan berlarut-larut, apalagi sampai hilang kembali, sebhab momentum itu biasanya tidak berlangsung lama. Tentu saja, untuk peristiwa atau kejadian tertentu, kita dapat menuliskannya setelah peristiwa atau kejadian itu selesai dikerjakan.Jangan sampai kctika kita sedang salat, kemudian kita berhenti sejenak hanya untuk menuliskan gagasan tadi, yang pada akhirnya salat kita tidak khusyuk. Agar gagasan tidak menguap begitu saja, seorang penulis yang baik selalu menyediakan alat tulis.
Ada orang yang berpandangan bahwa iluminasi ini dianggap sebagai ilham. Padahal sesungguhnya ia telah lama atau pernah memikirkannya. Secara kognitif apa yang dikatakan tidak lebih dari proses berpikir kreatif. llham tidak datang dari kevakuman, tetapi dari usaha, ikhtiar, dan ada masukan sebeluninva terhadap referensi kognifif seseorang.
Keempat, verifikasi/evaluasi, yaitu apa yang dituliskan sebagai hasil dari tahap iluminasi itu diperiksa kembali, diseleksi, dan disusun sesuai dengan fokus laporan/tulisan yang diinginkan. Mungkin ada bagian yang tidak perlu dituliskan, atau ada hal-hal yang perlu ditambahkan, dikembangkan, disempurnakan, dan lain-lain. Mungkin juga ada bagian-bagian yang mengandung hal-hal yang peka, sehingga perlu dipilih kata-kata, istilah, konsep-konsep atau kalimat yang lebih sesuai tanpa menghilangkan esensi dari tulisan yang kita kehendaki itu. Jadi, dalam tahap keempat ini kita menguji dan menghadapkan apa yang kita tulis itu sesuai atau tidak dengan realita sosial, budaya, nilai-nilai, norma-norma, serta aturan-aturan yang berlaku dalam kchidupan masyarakat yang bersangkutan. Di, sini seorang penulis dituntut kepiawaian, kecerdasan, ketelitian, dan kekreatifannya dalam berkarya tulis.
4.3 Langkah-langkah Menulis Akademik I
Proses penulisan memang berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Namun, banyak penulis yang menggambarkan proses penulisan yang mereka lakukan memiliki langkah-langkah yang relatif sama, yaitu (1) merencanakan, (2) menulis, (3) merefIeksikan, dan (4) merevisi.
4.3.1 Merencanakan
Sebagai kegiatan yang bersifat kompleks, menulis membutuhkan perencanaan yang memadai. Dalam proses perencanaan, kegiatan-kegiatan berikut sangat penting diperhatikan oleh setiap penulis.
a. Mengumpulkan bahan
Hampir seinua penulis mengumpulkan segala sesuatu yang diperlukan berupa data, informasi, bacaan sebelum memulai menulis. Tahap seperti inilah yang pada hakikatnya sebagai tahap pengumpulan bahan untuk menulis. Sebagaimana orang yang akan mendirikan sebuah gedung, ia harus menyiapkan bahan-bahan dan alat-alat untuk membangun gedung itu secukupnya.
b. Menentukan tujuan dan bentuk
Dalam penulisan ilmiah, tujuan dan bentuk yang dipilih sering ditentukan oleh situasi. Misalnya, dalam membuat laporan penelitian, format dan tujuan laporan mungkin sudah ditentukan oleh sponsor atau pemberi dana penelitian. Segala usaha lain untuk memperluas tujuan yang telah ditentukan itu pada umumnya cukup bermanfaat. Menyisihkan waktu untuk menentukan bentuk karangan/tulisan ilmiah yang tepat, bahkan mempelajari tulisan yang sama yang ditulis oleh orang lain atau lembaga lain dapat menghemat waktu dan tenaga yang cukup besar dalam mengerjakan suatu laporan penelitian bahkan sampai mempublikasikannya.
c. Menentukan pembaca
Pembaca yang berbeda akan memerlukan bacaan yang berbeda pula. Oleh karena itu, penulis perlu mengetahui keadaan pembaca sebaik-baiknya. Apakah pembaca tulisan kita nanti itu memiliki pengetahuan cukup banyak atau sedikit tentang bidang yang kita tulis, dan apa yang diharapkan/diinginkan pembaca dari informasi yang disampaikan oleh penulis. Penulis perlu mengetahui apa yang diinginkan, yang diperlukan, atau yang diharapkan oleh pembaca.
4.3.2 Menulis
Bagi kebanyakan penulis yang sudah profesional, biasanya situasi memaksa mereka untuk menulis sebelum benar-benar siap. Penulis yang belum berpengalaman sering kurang tepat dalam memperkirakan waktu yang diperlukan untuk mengembangkan ide menjadi kata-kata tidak diperhitungkan. Dalam penulisan ilmiah, karena kompleksnya isi dan adanya batas waktu yang sudah pasti, lebih baik mulai menulis seawal mungkin, lebih-lebih penulis sudah mempersiapkan bahan sebagai bahan dasar penulisan dan paling akhir sedikit menyusun draf untuk mencapai hasil akhir.
4.3.3 Merefleksikan
Teknik yang sering digunakan oleh penulis sebelum merangkum karangannya, mereka merefleksikan apa yang sudah ditulis. Kesempatan ini memungkinkan penulis memperoleh perspektif yang segar tentang kata-kata yang pada mulanya tampak sangat betul, tetapi kemudian terasa salah.
Penulis perlu bertanya kepada diri sendiri dengan pertanyaan, misalnya, apakah tulisan yang dihasilkan benar-benar memenuhi tujuannya? Apakah tulisan tersebut cocok dengan pembacanya? Apakah tulisan tersebut sudah menginformasikan pcsan secara cermat? Pertanyaan-pertanyaan terscbut dapat dijawab dengan sungguh-sungguh dan penuh dengan pertimbangan-pertimbangan selihigga diperoleh jawaban dan perspcktif yang lebih baik,
4.3.4 Merevisi
Mengerjakan revisi merupakan langkah .yang sangat penting untuk menghasilkan tulisan yang baik. Akan tetapi, hal ini sering kurang mendapatkan perhatian dibandingkan dengan langkah-langkah yang lain. Revisi, perbaikan, dan penyempurnaan tulisan yang dilaksanakan secara berhati-hati dan seksama dapat menghasilkan tulisan yang jelas, terarah, terfokus, dan sesuai dengan keinginan penulis dan pembaca. Penulis perlu mencoba merasakan masalah yang mungkin muncul dan menuntut perbaikan dari diri penulisnya sendiri sehingga tulisan yang dihasilkan menjadi lebih baik dan layak baca.
Penulis perlu meneliti secara cermat, apakah bukti-bukti yang disampaikan mendukung pernyataan-pernyataan yang diutarakan dan seberapa banyak waktu yang harus digunakan oleh pembaca untuk memahaminya? Segala sesuatu yang diperkirakan menimbulkan salah paham agar dihindari dan dihilangkan dari suatu tulisan ilmiah.
Tulisan ilmiah selalu membawa nama penulisnya. Oleh karena itu, penulis sebaiknya tidak terlalu cepat puas dengan apa yang pernah ditulisnya. Upayakan, jangan sampai para pembaca tidak dapat memahaminya, atau salah interpretasi serta menafsirkan tulisannya karena tidak jelas arah, fokus, dan tujuannya.
4.4 Menulis Makalah
Dalam konteks perkuliahan, seminar, simposium, dan kehidupan ilmiah lainnya, seseorang sering diminta pandangannya atau dituntut untuk menunjukkan kinerja akademiknya melalui sebuah paparan yang berkaitan dengan keahliannya. Agar paparan itu memberikan dampak yang luas, penyaji diminta menulis.makalah (kertas kerja) atau laporan singkat.
Anda hendaknya memiliki kemampuan menyiapkan dan menyajikan makalah/laporan siongkat/artikel sejak dini agar pihak lain mengetahui bahwa dirinya memiliki kemampuan dan keahliann tertentu. Sebelum seseorang bekerja atau melanjutkan studi, pihak perusahaan atau lembaga lazim meminta kepadanya untuk melampirkan karya terbaiknya atau memaparkan keahliannya di depan sekelompok orang. Bagaimana mungkin orang lain mengetahui bahwa seseorang itu ahli, jika dia tidak mampu menunjukkan keahliannya, baik secara tertulis maupun lisan. Di sinilah letak urgensi keterampilan menulis makalah.
Menulis makalah merupakan tahapan lanjutan dari kegiatan menulis artikel ilmiah. Jika seseorang telah terbiasa menulis artikel atau karangan nonfiksi lainnya dalam bentuk sederhana, maka dia tidak akan menjumpai kesulitan berarti dalam menyusun bahasan yang lebili lua seperti makalah.
4.4.1 Pengertian Makalah
Makalah adalah karya tulis ilmiah mengenai suatu topik tertentu yang tercakup dalam ruang lingkup suatu perkulihan atau yang berkaitan dengan suatu acara seminar, simposium, atau kegiatan ilmiah lainnya.
Makalah, sering juga disebut paper (kertas kerja) ialah jenis karya tulis yang memerlukan studi baik secara langsung, misalnya, melalui observasi lapangan ataupun secara tidak langsung (studi kepustakaan) (Parcra, 1982:, 25). Makalah ilmiah dapat dibaca dan dibahas dalam pertemuan ilmiah (lokakarya, seminar, simposium, konferensi, konvensi, dan kegiatan ilmiah lainnya). Makalah ditulis untuk bcrbagai fungsi, di antaranya untuk memenuhi tugas yang dipersyaratkan dalam mata kuliah tertentu., berfungsi menjelaskan suatu kebijakan dan berfungsi menginformasikan suatu temuan.
Makalah menilliki karateristik berikut, yaitu:
a. merupakan hasil kajian literatur dan atau laporan pelaksanaan suatu kegiatan lapangan yang sesuai dengan cakupan permasalahan suatu perkuliahan;
b. mendemonstrasikan penilaian mahasiswa tentang permasalahan teoritik yang dikaji atau kemampuan mahasiswa dalam menerapkan suatu prosedur, prinsip, atau teori yang berhubungan dengan perkuliahan;
c. menunjukkan kemampuan terhadap isi dari berbagai sumber yang digunakan;
d. mendemonstrasikan kemampuan meramu berbagai sumber informas dalam satu kesatuan sintesis yang utuh.
4.4.2 Jenis Makalah
Secara umum dikenal dua jenis makalah, yaitu makalah biasa (common paper) dan makalah posisi (position paper). Makalah biasa dibuat seorang mahasiswa untuk menunjukkan pemahamannya terhadap permasalahan yang dibahas. Dalam makalah ini secara deskriptif, dikemukakan berbagai pandangan tentang masalah yang dikaji.
Makalah biasa juga dapat ditulis seseorang untuk mendeskripsikan suatu kebijakan, gagasannya kepada khalayak. Sebagai contoh, seorang aktivis dapat mengemukakan gagasannya tentang metode pengolahan sampah atau seorang pejabat memaparkan tentang kebijakannya dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar di daerahnya.
Dalam makalah posisi, mahasiswa dituntut untuk menunjukkan posisi teoretisnya dalam suatu kajian. Untuk makalah jenis ini, tidak hanya diminta menunjukkan untuk penguasaan mengenai suatu teori atau pandangan tertentu, tetapi juga dipersyaratkan menunjukkan di pihak mana dia berdiri beserta alasannya yang didukung oleh teori-teori atau data yang relevan. Untuk dapat membuat makalah posisi, Anda tidak hanya dituntut untuk mempelajari sumber tentang pandangan tertentu, tetapi berbagai sumber atau aliran yang pandangannya berbeda-beda dan bahkan mungkin sangat bertentangan. Dari bahasan tersebut mungkin saja mahasiswa memihak salah satu aliran, tetapi mungkin pula dia membuat suatu sintesis dari berbagai pendapat yang ada. Jadi, kemampuan analisis, sintesis, dan evaluasi sangat diperlukan untuk membuat makalah posisi.
Pada umumnya, makalah biasa diwajibkan kepada mahasiswa D3 atau D4/S-1, sedangkan makalah posisi diwajibkan kepada mahasiswa pascasarjana. Di samping itu, makalah posisi juga ditulis untuk didiskusikan dalam sebuah forum seminar yang menyoroti gagasan, kebijakan, atau temuan seseorang.
4.4.3 Sistematika Makalah
Makalah biasanya disusun dengan sistematika berikut, yaitu (1) judul, (2) abstrak, (3) pendahuluan, (4) isi dan pembahasan, (5) simpulan, dan (6) daftar pustaka. Makalah ilmiah yang sering disusun oleh mahasiswa disebut dengan istilah term paper, biasanya disingkat paper. Paper ini merupakan jenis tugas tertulis dalam suatu mata kuliah, berupa hasil pembahasan buku atau tulisan tentang isu-isu atau suatu permasalahan yang sedang aktual di masyarakat.
a. Judul
Judul dapat dipandang sebagai tanda pengenal karangan dan sekaligus juga kunci utama untuk mengetahui isi karangan. Oleh karena itu, judul harus dapat mencerminkan seluruh isi karangan dan dapat menunjukkan fokus serta permasalahan pokok karangan. Judul juga harus disusun secara singkat, artinya judul tidak boleh disajikan dalam bentuk kalimat atau frasa yang panjang tetapi cukup dalam bentuk ungkapan yang singkat dan padat(dalam artikel ilmiah tidak lebih dari 14 kata). Jika tidak dapat dihindari judul yang panjang, Keraf (1984: 129) menyarankan untuk membuat judul utama yang singkat kemudian diberi judul tambahan yang panjang. Judul yang terlalu panjang juga dapat dipecah menjadi judul utama dan anak judul.
b. Abstrak
Abstrak atau ringkasan biasanya berisi intisari keseluruhan tulisan, ditulis secara naratif, dan diketik satu spasi serta paling banyak tiga paragraf atau sekitar 150-200 kata. Abstrak memuat latar belakang masalah, tujuan, metode, dan hasil (simpulan) yang ditulis secara padat (artikel ilmiah satu paragraph).
c. Pendahuluan
Bagian pendahuluan terdiri atas latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan yang disusun dalam alur pikir yang logis, yang menunjukkan kesenjangan antara situasi yang ada dengan situasi yang diharapkan(das sollen dan das sein).
Permasalahan merupakan kesulitan yang ingin dipecah¬kan atau suatu kenyataan yang tidak sesuai de¬ngan keinginan. Permasalahan dalam suatu makalah perlu mengikuti kriteria berikut.
1) Apakah masalah tersebut berguna untuk dipecah¬kan?
2) Apakah penulis memiliki kemampuan untuk memecahkan?
3) Apakah permasalahan tersebut menarik untuk dipecahkan?
4) Apakah permasalahan tersebut memberikan sesuatu yang baru apabila dipecahkan?
5) Untuk memecahkan permasalahan tersebut apakah cukup data yang tersedia?
d. Pembahasan
Bagian ini merupakan inti makalah. Pada bagian ini hendaknya dikemukakan deskripsi tentang subjek studi, analisis permasalahan, dan solusi pemecahannya. Pada bagian ini aspek-aspek yang dipersoalkan pada bagian pendahuluan dikaji dan dianalisis satu demi satu, sehingga masalah yang dipersoalkan itu menjadi jelas kedudukannya dan pemecahannya. Untuk memperkuat daya analisnya, penulis hendaknya menggunakan teori, data, atau pandangan ahli.
e. Simpulan
Secara umum, kesimpulan berisi hasil dari seluruh pembahasan dan setidak-tidaknya berisi jawaban atas semua permasalahan yang dikemukakan dalam pendahuluan.
f. Daftar pustaka
Bagian ini memuat pustaka atau rujukan yang diacu dalam makalah. Rujukan ini disusun ke bawah menurut abjad nama akhir penulis pertama. Buku dan majalah tidak dibedakan, kecuali penyusunannya dari kiri ke kanan. Untuk buku, teknik penulisan daftar pustaka sebagai berikut: nama penulis, tahun terbit, judut buku, jilid (jika ada), terbitan ke-, nama kota, dan nama penerbitnya.
Contoh:
Rifai, Mien A. (1997). Pegangan Gaya Penulisan, Penyunfingan dan Nnerbilan Karya 11miah Indonesia. Cetakan kedua. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sebelum menulis makalah, sebaiknya dibuat jejaring ide. Inti kegiatan ini ialah mengidentifikasi ide-ide pokok dan ide-ide penunjangnya. Jejaring ide bukan hanya berguna bagi penulis, tetapi juga bagi pembaca. Melalui jejaring ide, pembaca dapat mengikuti jalan pikiran penulis sehingga dapat menilai tulisan secara kritis. Alwasilah (2005: 96) mengemukakan beberapa langkah membuat jejaring ide berikut, yaitu:
a. menyiapkan kertas dan alat tulis;
b. memikirkan ide-ide pokok yang paling penting untuk ditulis;
c. membatasi maksimal lima ide pokok;
d. menulis ide pokok itu sesingkat mungkin dalam lingkaran-lingkaran;
e. menghubungkan lingkaran-lingkaran itu dengan garis searah atau dua arah sesuai dengan pemikiran Anda.
f. menggunakan pula garis patah-patah untuk menunjukkan hubungan tidak langsung;
g. menarasikan hubungan antara berbagai lingkaran itu.
2.5 Rangkuman
Menulis akademik merupakan proses menulis yang berkaitan dengan pengetahuan tertentu. Menulis ini dapat berupa tugas akhir, laporan PKL, Kerja Proyek, makalah, atau skripsi. Menulis akademik yang baik memperhatikan tahap penulisan berikut, yaitu tahap perencanaan, penulisan, perefleksian, dan perevisian dengan tata tulis yang cermat.
4. PENYAJIAN ILUSTRASI
Kompetensi Dasar
Pada akhir perkuliahan ini, diharapkan mahasiswa dapat
a. menjelaskan menjelaskan pengertian ilustrasi;
b. menjelskan kriteria ilustrasi yang baik;
c. membuat ilustrasi yang baik dalam laporan proyek.
4.1 Pengertian
Ilustrasi banyak digunakan dalam berbagai laporan. Ilustrasi dapat disajikan dengan tabel, grafik, denah, peta, bagan, atau potret. Penyajian ilustrasi ini akan dapat memperjelas uraian yang dikemukakan dalam laporan. Ilustrasi tersebut akan dapat mendukung uraian dengan kongkret dan jelas.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:325) ilustrasi berarti gambar (potret, lukisan) untuk membantu memperjelas isi buku. Gambar tersebut dapat berupa potret, tabel, bagan, peta, denah, grafik, atau jenis gambar lain. Gambar yang disajikan sangat berkaitan dengan sebelum atau sesudah teks. Dengan demikian, penyajian ilustrasi dapat mencerminkan gambaran yang kongkret atas gagasan yang dimaksud penulis.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa ilustrasi adalah suatu gambar yang dapat memperjelas isi laporan sehingga lebih kongkret dan menarik.
Ilustrasi menyangkut penyajian gambar yang dapat memperjelas isi laporan. Artinya, ilustrasi ini menekankan penyajian gambar dalam tugas akhir. Ilustrasi tersebut sering digunakan dalam mendeskripsi data. Misalnya,
1.1 Analisis Kebijaksanaan
Langkah kebijaksanaan adalah satu mata rantai dari satu siklus yang saling berkaitan dan tidak ada titik akhirnya.
Gambar 1. Analisis kebijaksanaan dalam masa perencanaan dan masa konstruksi
Pengembangan kebijaksanaan ini (Gambar 1) berjalan terus sebagai satu jembatan yang memperdekat jarak antara das sollen dan das sein, antara apa yang seharusnya dan apa faktanya.
Langkah ini dipilih didasarkan pada satu pertimbangan yang akan dapat mengatasi berbagai permasalahan untuk mencapai sasaran yang diharapkan, yaitu sasaran memperoleh satu produk akhir yang sebaik mungkin. Siklus di dalam mencari kebijaksanaan terbaik ini merupakan satu analisis kebijaksanaan yang selalu dimulai dengan
a. pendataan dan informasi,
b. sistem administrasi yang baik,
c. perumusan permasalahan,
d. penataan masalah,
e. studi alternatif dilihat dari berbagai kriteria, yaitu ilmu murni, politis, profesional, legal, khusus, dan lain-lain.
Analisis kebijaksanaan ini diakhiri dengan rekomendasi kebijaksanaan atas alternatif yang paling menguntungkan dengan modifikasi yang diperlukan.
Ilustrasi disajikan dalam bentuk tabel, gambar, grafik, denah, peta, potret, atau diagram, yang berfungsi untuk mendukung uraian tersebut. Uraian tersebut memperjelas maksud komponen data yang terdapat dalam gambar yang disajikan. Selain itu, pernyataan hubungan antara teks dan gambar ditulis secara eksplisit.
Judul gambar (seperti bagan, grafik, peta, dan foto), ditulis dengan huruf kecil kecuali huruf awal setiap kata yang bukan kata tugas dan diletakkan simetris di bawah gambar dan tidak diakhiri dengan titik. Ukuran gambar (lebar dan tinggi) diusahakan layak baca, khusus skala pada grafik harus dibuat agar mudah dipakai untuk mengadakan interpolasi atau eksplorasi. Letak gambar diatur supaya simetris. Bahkan, adakalanya terdapat penyajian gambar tanpa teks, seperti contoh berikut.
3.2.2 Data Hasil Pengujian
Tabel 5.1 Pengujian Alat Berdasarkan Jarak Pancar
Jarak (m) Diterima / Tidak Diterima Letak, Pancar dan Penerima
1 Diterima Lab TKB
3 Diterima
_ Lab TKB
6 Diterima
Lab TKB
9 Diterima
Beda Ruangan Lab TKB dan TKO
12 Diterima Lab TKT
15 Diterima Beda Ruangan(LabTKB dengan ruang foto kopi EE)
18 Diterima Beda Ruangan(LabTKBdan Gedung ,S13)
21 Diterima Tempat Parkir
24
27 Diterima
_ Tempat Parkir
Diterima Tempat Parkir
30 Diterima Tempat Parkir
Tabel tersebut perlu dilengkapi dengan penjelasan atau penafsiran yang didasarkan data-data empiris tersebut sehingga tabel itu benar-benar berfungsi memperjelas isi laporan atau teks. Agar menjadi sebuah ilustrasi yang baik, penyajiannya perlu dilakukan dengan cara berikut, yaitu menambahkan pernyataan yang berkaitan dengan data-data tersebut. Misalnya,
3.2.2 Data Hasil Pengujian
Pengujian alat berdasarkan jarak pancar antara pemancar dan penerima dapat diperlihatkan dalam Tabel 5.1. Berdasarkan data hasil pengujian tersebut disimpulkan bahwa rugi jalur transmisi pada sistem gelombang mikro 2,4 GHz dipengaruhi oleh beda ruang dan jarak. Letak antara pemancar dan penerima jauh, maka daya rugi jalur. Semakin banyak penghalang transmisinya, maka daya rugi jalur semakin besar.
Tabel 5.1 Pengujian Alat Berdasarkan Jarak Pancar
Jarak (m) Diterima / Tidak Diterima Letak Pemancar dan
Penerima
1 Diterima Lab TKB
3 Diterima
_ Lab TKB
6 Diterima
Lab TKB
9 Diterima
Beda Ruangan Lab TKB dan TKO
12 Diterima Lab TKT
15 Diterima Beda Ruangan(LabTKB dengan ruang fotokopi EE)
18 Diterima Beda Ruangan(LabTKBdan Gedung , S 13)
21 Diterima Tempat Parkir
24
27 Diterima
_ Tempat Parkir
Diterima Tempat Parkir
30 Diterima Tempat Parkir
Judul tabel diletakkan di atas tabel ditulis dengan huruf kecil kecuali huruf awal setiap kata yang bukan kata tugas (seperti yang, dan, atau dari) dan tidak diakhiri dengan titik. Nomor ditulis di depan judul dengan angka Arab, di bawah tabel disebutkan sumber data misalnya (Arifin,2000:33) bila berupa kutipan, sedangkan sumber langsung dari hasil perancangan atau pengujian sumber data tidak perlu dicantumkan. Kalau tabel (berupa daftar) yang lebih dari dua halaman atau yang harus dilipat ditempatkan pada lampiran.
Sebenarnya, dalam penyajian ilustrasi lebih diutamakan penjelasan data hasil pengujian atau penafsirannya sehingga dapat disimpulkan berdasarkan data-data tersebut. Hal ini dikarenakan gambar berfungsi memperjelas teks sehingga ilustrasi menjadi lebih kongkret. Jadi, pernyataan yang bersifat argumentatif dari data empiris itulah yang dapat mencerminkan ilustrasi yang baik.
Dalam tugas akhir dapat digunakan ilustrasi sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, ilustrasi harus digunakan dengan cermat sehingga lebih memberikan gambaran yang lebih kongkret. Hal ini dikarenakan ilustrasi merupakan gambar atau lukisan yang langsung mendukung isi laporan. Ilustrasi bukan merupakan tempelan (mozaik) gambar yang bersifat menarik, melainkan suatu bentuk gambar atau lukisan yang mempunyai hubungan dengan isinya. Dengan kata lain, ilustrasi merupakan bagian yang utuh dari keseluruhan isi laporan.
Berdasarkan paparan penyajian ilustrasi di atas dapat disimpulkan bahwa gambar yang disajikan harus utuh sebagai wacana. Artinya, gambar harus memperjelas isi laporan (teks) atau teks yang diperjelas dengan gambar sehingga penyajian ilustrasi lebih jelas dan kongkret. Hubungan teks dan gambar perlu disajikan secara eksplisit dengan penambahan keterangan penunjukan gambar.
4.2 Tujuan Penyajian Ilustrasi
Penyajian ilustrasi dimaksudkan memperjelas informasi yang disampaikan oleh penulis. Secara umum penyajian ilustrasi bertujuan
a. menunjukkan detail data yang tidak dapat diuraikan dengan kata-kata;
b. menerangkan komponen data dalam suatu bentuk yang singkat dan padat;
c. menjelaskan isi laporan menjadi lebih kongkret dan jelas.
Ilustrasi digunakan sesuai dengan kebutuhan dan harus diungkapkan secara cermat agar lebih menggambarkan yang lebih kongkret. Hal ini disebabkan gambar itu mendukung secara langsung terhadap teks dalam laporan. Dengan demikian, ilustrasi bukan merupakan tempelan (mozaik) gambar yang bersifat menarik, melainkan gambar yang mempunyai hubungan dengan isinya. Oleh karena itu, ilustrasi merupakan bagian utuh dari keseluruhan isi laporan.
4.3 Bentuk Ilustrasi
Pada umnumnya ilustrasi terdiri dari bentuk-bentuk berikut, yaitu:
a. grafik;
b. tabel;
c. potret;
d. bagan;
e. peta;
f. denah;
g. gambar yang tidak standar.
Gambar-gambar itu dapat memperjelas uraian yang diungkapkan sehingga pembaca dapat memiliki gambaran yang tepat.
4.4 Ciri-ciri Ilustrasi
Ilustrasi yang baik harus mencerminkan detail isi laporan. Misalnya, bila hasil pengolahan data berupa statistik yang akan diuraiakan, maka data-data perlu disampaikan dalam bentuk tabel. Tabel tersebut menampilkan berbagai data yang tersusun dengan sistematis sehingga terlihat komponen data dengan jelas. Dengan demikian, tabel ini akan mendukung uraian data statistik tersebut.
Untuk memenuhi ilustrasi yang baik,perlu diperhatikan hal-hal berikut.
a. Ilustrasi harus berguna, artinya dapat mendukung atau memperkuat isi laporan.
b. Pengungkapan ilustrasi harus tepat, artinya menentukan bentuk ilustrasi seuai dengan kebutuhan isi laporan.
c. Pengungkapan ilustrasi disesuaikan dengan keserasian, artinya besar kecilnya atau tata letak ilustrasi disesuaikan dengan ruang yang tersedia dalam isi laporan.
d. Ilustrasi hendaknya mudah diingat dan dipahami.
Perencanaan penyajian ilustrasi benar-benar memperhatikan pertimbangan tersebut agar dihasilkan ilustrasi yang efektif.
Ciri-ciri ilustrasi yang baik adalah sebagai berikut.
a. Informasi gambar ijelas.
b. Gambar harus dinarasikan sehingga maksud gambar kongkret.
c. Adanya judul utama (gambar) beserta nomor urut gambar (jika lebih dari satu).
d. Adanya hubungan antara gambar dan teks yang berupa kalimat penghubung.
Untuk menghasilkan ilustrasi yang baik dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut, yaitu:
a. menentukan judul utama dan judul kolom atau judul lajur (jika perlu);
b. menetapkan bentuk ilustrasi dengan tepat;
c. menyajikan data dengan benar dan jelas ;
d. menghubungkan gambar dan teks;
e. menggunakan garis-garis yang tegas dan tidak berlebihan.
Ilustrasi merupkan gambar yang dapat memperjelas isi laporan berupa grafik, tabel, peta, bagan, denah, atau potret. Ilustrasi hendaknya mendukung isi laporan secara langsung. Hal ini bertujuan menggambarkan detail data yang terangkum dalam gambar agar lebih memperkuat isi lapioran.
Ditinjau dari segi wacana, jelaslah bahwa penyajian ilustrasi yang tidak lengkap tersebut belum mencerminkan sebuah laporan yang baik, karena informasi yang terkandung dalam gambar, misalnya data hasil pengujian atau perhitungan, belum dideskripsi dalam tugas akhir sehingga informasi lengkap mengenai hal itu tidak tersampaikan kepada pembaca. Oleh karena itu, ilustrasi harus disajikan secara utuh dan lengkap sebagai wacana, yaitu adanya pernyataan-pernyataan yang menjelaskan data hasil pengujian atau perhitungan yang terdapat dalam gambar. Selain itu, penyajian ilustrasi didukung dengan adanya hubungan eksplisit antara teks dan gambar.
Untuk menghubungkan teks dan gambar secara eksplisit dapat dilakukan dengan menyebutkan penyataan penghubung seperti berikut (cetak tebal).
a. Tipe alkali komposisi larutan sdan kondisi operasi dapat dilihat dalam Tabel 3.2.
b. Gambar 4.2 di atas menunjukkan hubungan ....
c. Langkah-langkah pengoperasian alat tersebut dapat dilihat dalam diagram alir berikut.
d. Model pemotong pelat dan stempel menggunakan siustem peneumatik dengan tiga silinder (Gambar 2.2).
Penyajian ilustrasi harus ditulis utuh dan lengkap, yaitu ditunjukkan dengan adanya teks yang diperjelas dengan gambar atau gambar yang diikuti dengan penjelasan atau penafsiran berdasarkan data-data yang tertuang dalam gambar. Di samping itu, agar hubunganya eksplisit diberikan pernyataan penghubung sehingga teks dan gambar menjadi satu kesatuan wacana (tidak berdiri sendiri).
4.5 Rangkuman
Ilustrasi adalah suatu gambar yang dapat memperjelas isi laporan sehingga lebih kongkret dan menarik. Gambar ini dapat berupa table, grafik, potret, peta, dan sebagainya. Ilustrasi disajikan dengan baik bila memenuhi ciri berikut, yaitu gambar yang jelas, adanya judul utama (gambar) beserta nomor urut gambar (jika lebih dari satu), dan adanya hubungan antara gambar dan teks yang berupa pernyataan penghubung.
BAB 6
TULISAN AKADEMIK
Kompetensi Dasar
Pada akhir perkuliahan ini, diharapkan mahasiswa dapat
e. menjelaskan tulisan ilmiah;
f. menjelaskan kriteria tulisan ragam bahasa keilmuan;
g. menerapkan sikap ilmiah dalan tulisan resmi.
6.1 Pengertian
Menulis adalah keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan penyampaiannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Hasil perwujudan gagasan tersebut disebut tulisan. Dengan kata lain, tulisan merupakan perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dimengerti pembaca.
Gagasan itu dapat dituangkan dalam tulisan. Tulisan ini dimaksudkan untuk menyampaikan kepada pembaca baik bersifat tulisan informatif maupun tulisan ilmiah. Tulisan informatif menyajikan keterangan biasa, sedangkan tulisan ilmiah lebih menekankan pengetahuan ilmiah.
Gagasan yang telah ditata dalam bahasa tulis merupakan suatu tulisan yang umumya dibedakan dalam dua ragam (The Liang Gie), yaitu:
a. tulisan fiktif, yang berarti rekaan cerita untuk menimbulkan suatu perasaan pada pembaca, seperti novel, puisi, dan cerpen;
b. tulisan faktawi, yang berarti sajian kenyataan yang menyampaikan suatu pengetahuan kepada pihak pembaca.
Dalam tulisan fiktif hanya ditekankan pada penghayatan perasaan seseorang terhadap cerita yang disajikan. Akan tetapi, tulisan faktawi lebih menekankan pada penalaran seseorang dalam menyampaikan informasi yang nyata..
Ragam tulisan faktawi dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu:
a. tulisan informatif (populer), yaitu tulisan yang lebih menitikberatkan informasi biasa seperti laporan pelaksanaan kegiatan , berita, atau artikel pada media cetak/elektronik;
b. tulisan ilmiah, yaitu tulisan yang menyajikan fakta yang bersifat objektif mengenai suatu hal yang ditulis menurut prosedur ilmiah, seperti laporan berkala, tugas akhir mahasiswa, atau laporan
6.2 Jenis Tulisan Ilmiah
Tulisan ilmiah dibedakan menjadi beberapa jenis berikut.
a. Artikel
Artikel biasanya ditulis dalam jurnal/majalah seperti artikel dalam majalah Konstruksi dan Jurnal Wahana Teknik Sipil. Bahasan di dalam artikel disajikan dengan singkat dan padat serta lengkap.
b. Makalah (kertas kerja)
Makalah merupakan tulisan ilmiah mengenai pokok bahasan yang dimaksudkan untuk disampaikan dalam pertemuan ilmiah, seperti seminar dan lokakarya. Secara garis besar, penyajian dalam makalah mempunyai kesamaan dengan artikel ilmiah, yaitu judul, abstrak (bila perlu), pendahuluan, isi bahasan, simpulan, dan daftar pustaka. Di samping itu, makalah yang telah disampaikan dalam pertemuan ilmiah sering diterbitkan dalam majalah/koran. Kadang-kadang makalah tersebut terlebih dahulu diedit sesuai dengan usulan hasil diskusi.
c. Laporan
Laporan adalah tulisan ilmiah yang berisikan suatu pokok bahasan yang sesuai dengan hal yang ditugaskan kepada pelapor. Khusus laporan pengamatan, bahannya berupa hasil penerapan teori dan perencanaan dalam praktik di lapangan. Datanya diperoleh berdasarkan hasil pengamatan langsung dari lapangan atau dari nara sumber. Tugas akhir mahasiswa politeknik cenderung berbentuk laporan yang berupa rancang bangun alat, perangkat lunak, atau rencana pelaksanaan pembangunan, bahkan adakalanya berupa kajian studi kasus atau penelitian.
d. Skripsi
Skripsi adalah tulisan ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa program strata (S1) sebagai syarat menyelesaikan pendidikan untuk memperoleh gelar (seperti S.H., S.E., dan S.S.). Datanya diperoleh dari hasil studi kepustakaan dan riset. Bobot dan mutu akademisnya lebih tinggi daripada laporan. Bahan tulisan berisikan kajian yang agak mendalam.
e. Tesis
Tesis adalah tulisan ilmiah yang. wajib ditulis oleh mahasiswa program pascasarjana (S2) sebagai syarat untuk menyelesaikan pendidikan untuk memperoleh gelar magister (seperti M.T., M.Sc., dan M.Pd.). Bobot dan mutu akademisnya lebih tinggi daripada skripsi. Tesis harus memuat usulan temuan atau gagasan yang orisinal yang datanya diperoleh berdasarkan riset dan atau eksperimen.
f Disertasi
Disertasi adalah tulisan ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa strata tiga (S3) sebagai syarat menyelesaikan pendidikan untuk memperoleh gelar tingkat doktoral (seperti Dr. atau Ph. D.).
Pada dasarnya tulisan-tulisan tersebut selalu menekankan data primer maupun data skunder sebagai hasil pengukuran terhadap fakta, kerangka teori sebagai landasan pembahasan, dan memberikan simpulan sebagai akhir pembahasan.
6.3 Kriteria Tulisan Ilmiah
Madyo Ekosusilo (1995) menyebutkan beberapa ciri yang memadai sebuah tulisan ilmiah. Ciri-ciri tersebut adalah
a. logis, yakni segala keterangan ataupun informasi yang disajikan memiliki argumentasi yang dapat diterima dengan akal sehat;
b. sistematis, yakni segala yang dikemukakan disusun berdasarkan urutan yang berjenjang dan berkesinambungan;
c. obyektif, yakni segala keterangan atau informasi yang dikemukakan itu menurut apa adanya;
d. tuntas dan menyeluruh, yakni segi-segi masalah yang dikemukakan ditelaah secara lengkap/menyeluruh;
e. seksama, yakni berusaha menghindarkan diri berbagai kesalahan, betapapun kecillnya;
f. jelas, yakni segala keterangan yang dikemukakan dapat mengungkapkan maksud secara jernih;
g. terbuka, yakni sesuatu yang dikemukakan itu dapat berubah seandainya muncul pendapat baru;
h. berlaku umum, yakni simpulannya berlaku bagi semua populasinva;
i. penyajiannya memperhatikan santun bahasa dan tata tulis yang baku.
Secara umum kriteria tulisan ilmiah perlu dipertimbangkan dalam membuat tulisan akademik maupun laporan teknis. Dengan demikian, tulisan yang dihasilkan dikategorikan ke dalam tulisan yang baik.
6.4 Sikap Ilmiah
Dalam buku Penulisan Karangan Illniah, Brotowidjojo (1995) mengemukakan orang yang berjiwa ilmiah adalah orang yang memiliki sikap ilmiah. Pengejawantahan sikap itu adalah sebagai berikut.
a. Sikap ingin tahu diwujudkan dengan selalu bertanya tentang berbagai hal, seperti Mengapa demikian ? Apa saja unsur-unsurnnya? Bagaimana kalau diganti dengan komponen yang lain, dan seterusnya.
b. Sikap kritis direalisasikan dengan mencari irformasi sebanyak-banyaknya baik dengan cara bertanya kepada siapa saja yang diperkirakan mengetahui masalah maupun dengan membaca sebelum menentukan pendapat untuk ditulis.
c. Sikap terbuka dinyatakan dengan selalu bersedia mendengarkan keterangan dan argumentasi orang lain.
d. Sikap objektif diperlihatkan dengan cara menyatakan apa adanya tanpa dibarengi perasaan pribadi.
e. Sikap rela menghargai karya orang lain diwujudkan dengan mengucapkan terima kasih atas karangan orang lain, dan menganggapnya sebagai karya yang orisinal milik pengarangnya.
f. Sikap berani mempertahankan kebenaran diwujudkan dengan fakta atas hasil penelitiannya.
g. Sikap menjangkau ke depan dibuktikan dengan pandangan jauh, membuat hipotesis, dan membuktikannya, bahkan mampu menyusun suatu teori baru.
Untuk mewujudkan tulisan yang baik sikap ilmiah tersebut perlu dipertimbangkan sehingga mutu tulisan tetap terpenuhi guna menghindari sikap subjektivitas.
6.5 Rangkuman
Tulisan akademik berkaitan dengan tulisan yang menyajikan ilmu pengetahuan dan dilandasi dengan prosedur ilmiah. Kriteria tulisan dan sikap ilmiah selalu dipertimbangkan dan diterapkan dalam membuat tulisan akademik. Tulisan yang baik memenuhi kriteria berikut, yaitu logis, sistematis, obyektif, tuntas dan menyeluruh, seksama, jelas, terbuka, dan berlaku umum serta penyajiannya memperhatikan santun bahasa dan tata tulis yang baku, sedangkan sin kap ilmiah diwujudkan dengsikap ingin tahu, sikap kritis, sikap objektif, sikap rela menghargai karya orang lain, sikap berani mempertahankan kebenaran, dan sikap menjangkau ke depan
BAB 7
LAPORAN TEKNIK
Kompetensi Dasar
Pada akhir perkuliahan ini, diharapkan mahasiswa dapat
h. menjelaskan perbedaan laporan ilmiah dan informatif;
i. menjelaskan tujuan laporan;
j. menjelaskan bentuk dan fungsi laporan teknik;
k. membuat laporan berkala, insidental, singkat, dan laporan lengkap dengan cermat.
7.1 Pengertian
Laporan berarti segala sesuatu yang dilaporkan oleh pihak tertentu kepada pihak lain mengenai suatu masalah, baik secara lisan maupun tertulis, dan baik dalam kurun waktu tertentu secara rutin maupun dalam waktu tertentu saja. Laporan ini menunjukkan unsur keilmiahan dalam penyusunan laporan. Di samping itu, pengertian ini memperlihatkan cakupan jenis laporan yang demikian luas.
Sebuah laporan bertolak dari beberapa dasar, yaitu orang yang memberi laporan, pihak yang menerima laporan, dan sifat serta tujuan umum laporan. Pertama-tama, laporan melibatkan orang atau pihak yang memberi laporan. Pemberi laporan dapat berupa perseorangan, sebuah panitia yang ditugaskan untuk maksud tertentu. Laporan dapat pula di¬buat oleh perorangan atau badan kepada seseorang atau instansi yang dianggap perlu mengetahuinya walaupun tidak diminta.
Kasus yang pertama terjadi, misalnya Anda ditugaskan oleh dosennya untuk meneliti suatu objek tertentu, atau seorang pega¬wai perusahaan atau sebuah panitia dibentuk oleh sebuah perusahaan untuk meneliti suatu masalah untuk kepentingan perusahaan itu. Kasus yang kedua dijumpai bila seorang atau instansi pemerintahan dae¬rah melaporkan suatu bencana atau musibah kepada pemerintah pusat atau suatu badan sosial untuk memperoleh bantuan guna mengatasi bencana atau musibah tersebut.
Laporan bukan hanya dibuat oleh seorang atau suatu badan, tetapi laporan juga ditujukkan atau akan disampaikan kepada seseorang atau suatu badan. Yang menerima laporan itu adalah orang atau badan menerima laporan yang menugaskan, atau orang atau badan yang dianggap perlu menda¬pailkan laporan itu.
Telah disinggung di atas bahwa tujuan sebuah laporan bergantung dari situasi yang ada antara pemberi laporan dan penerima laporan. Bila pemberi laporan adalah orang yang ditugaskan untuk meneliti masalah tersebut, maka tujuannya ditentukan oleh pemberi laporan. Sebaliknya, bila pemberi laporan tidak menerima suatu tugas khusus, maka tujuan laporan terletak di tangan pembuat laporan. Pada umumnya tujuan laporan berkisar pada hal-hal berikut,yaitu untuk mengatasi suatu masalah, mengambil suatu keputusan yang lebih efektif, mengetahui kemajuan dan perkembangan suatu masalah, mengadakan pengawasan dan perbaikan, menemukan teknik-teknik baru, dan sebagainya.
Seperti halnya dengan semua jenis tulisan yang lain, sebuah laporan akan dianggap baik atau buruk bergantung dari keberhasilannya dalam memenuhi fungsinya, yaitu mempengaruhi pembaca seperti yang diha¬rapkan. Hasil yang diharapkan dapat berwujud perbaikan, perubahan, bantuan, perkembangan, penegasan sikap, pengambilan keputusan, sejalan dengan tujuan laporan itu.
Hasil yang diharapkan itu hanya mungkin dicapai bila sifat laporan itu baik. Laporan yang baik harus ditulis dalam bahasa yang baik dan jelas. Bahasa yang baik dan jelas itu dapat menimbulkan pengertian yang tepat, bukan kesan atau sugesti. Di samping itu, isinya harus di¬urutkan dan dikembangkan secara cermat sehingga dapat masuk akal. Fakta atau bahan yang disajikan pelapor pun harus dapat menimbulkan kepercayaan terutama bila laporan itu dimaksud¬kan untuk mengambil suatu tindakan tertentu.
Sebuah laporan juga mengandung sifat-sifat berikut, yaitu harus mengandung imajinasi, harus sempurna dan komplit, tidak boleh memasukkan hal-hal yang menyimpang, dan yang mengandung prasangka atau memihak.
7.2 Laporan yang Baik
Laporan itu direncanakan dan disu¬sun dengan baik. Laporan yang baik harus membawa hasil perbaikan, perubahan, per¬kembangan, penegasan sikap, penemuan kebijaksanaan ,dan pengambilan keputusan. Untuk menjamin bahwa laporan itu mencapai sasarannya perlu diperhatikan bahwa laporan tersebut a) akan dibaca, b) dipahami, c) dipercayai, dan d) harus mendorong adanya tindakan.
Untuk menjamin dan menyusun laporan dengan baik, kiranya beberapa panduan pikiran ini diperhatikan a) apa tujuan atau maksud laporan, b) informasi apa dan mana yang diinginkan, c) apa yang ingin diketahui oleh penerima laporan, d) sikap apa yang akan dikembangkan oleh pembaca dan penerima laporan, e) tindakan apa yang diharapkan pembaca dan penerima lampiran; f) bagaimana satu gagasan beralih dari satu orang kepada orang lain dengan lancar dan cepat; g) bagai¬mana pikiran pembuat laporan disajikan dalam bentuk yang kongkret; h) alternasi apa yang dapat dilakukan dalam penyusunan laporan (disain dan tata laporan).
7.3 Tujuan Laporan
Menurut tujuannya, laporan teknik disusun untuk memberi keterangan, memulai suatu tindakan, mengkordinasi proyek, menyarankan sesuatu atau tindakan, dan merekam kegiatan.
a. Memberi keterangan
Laporan ini dapat dibedakan dalam laporan khusus dan laporan berkala. Laporan berkala dibuat menurut waktu tertentu, yaitu laporan harian, mingguan, bulanan, atau tengah tahunan. Yang dimasukkan ke dalamnya bersifat rutin. Bentuk dan susunannya sudah ditentukan. Jika belum ditentukan, terlebih dahulu diidentifikasi pokok apa sajakah yang perlu dimasukkan. Laporan khusus dapat menyajikan hasil pengujian, percobaan, atau pemeriksaan. Laporan ini dapat juga menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan proyek, misalnya pengujian penyelidikan tanah atau pengujian kekeuatan baja.
b. Memulai suatu tindakan atau pekerjaan
Di sini yang harus menjadi pusat perhatian adalah tindakan atau pekerjaan dan mengapa hal itu diadakan. Kedua pokok itu dapat ditampilkann pada saran yang tercantum dalam laporan. Laporan jenis ini harus tegas, rinci, dan jelas. Tekanan diberik:an pada apa, bagaimana, siapa, bilamana, dan di mana. Semua itu termasuk dalam perincian pekerjaan atau spesifikasi. Misalnya, pada suatu ketika untuk keperluan sesuatu pembangunan (gedung, pabrik) diperlukan penyelidikan tanah. Di sini yang dimaksudkan dengan 'apa' adalah penyelidikan tanah itu. 'Bagaimana' menyangkut cara pengambilan contoh, peralatannya, serta pengujiannya. 'Siapa' menyangkut kualifikasi orang yang dapat melaksanakan; 'bilamana' berhubungan dengan waktu pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan serta pelaporan; dan 'di manal, dengan sendirinya menunjuk ke tempat yang akan diselidiki itu.
c. Mengkordinasi proyek
Mengkordinasi mempunyai arti mengatur atau menempatkan sesuatu pada tempat atau susunan yang sebaik-baiknya atau wajar. Mengkoordinasi memerlukan keterangan mutakhir. Semua itu mesti dikemukakan secara jelas tetapi padat. Hanya pokok yang berhubungan dengan tindakan yang harus dikordinasi yang perlu dimasukkan dalam laporan, sele¬bihnya supaya ditinggalkan. Misalnya, laporan untuk mengkordinasi tenaga kerja dalam sebuah proyek. Untuk itu, diperlukan data menurut kenyataan dan perkiraan yang dapat diandalkan. Pemanfaatan tenaga kerja dapat dilakukan sebaik-baiknya. Jelaslah, bahwa unsur waktu sangatlah penting. Keterlambatan dalam penyampaian data mutakhir dapat menyebabkan keke¬liruan dalam perkiraan yang akibatnya merugikan proyek.
d. Menyarankan suatu langkah atau tindakan
Yang dikehendaki pihak pemakai laporan jenis ini adalah langkah atau tindakan apakah yang harus dilakukan, mengapa harus berbuat, manfaat yang akan diperoleh dan berapakah biayanya jika pada tindakan itu memang diperlukan anggaran. Pemakai laporan tentu ingin mengetahui pula, misalnya, apakah hasil saran itu sudah pasti ataukah hanya dugaan termasuk resiko yang akan dihadapi, jika saran itu diterima ataupun ditolak. Misalnya, sebuah pabrik kertas disarankan untuk dimodernisasi dan ditingkatkan kapasitasnya. Hal ini disebabkan konsumsi kertas terus meningkat, sedangkan peralatan pabrik sudah usang sehingga diperlukan perlatan baru.
e. Merekam kegiatan
Yang termasuk dalam laporan ini adalah laporan kemajuan dan laporan akhir (final). Laporan kemajuan dibuat sesuai dengan kebutuhan, misalnya harian, mingguan, bulanan, atau triwulan. Laporan akhir menyajikan segala aspek pekerjaan dari awal hingga pekerjaan selesai.
7.4 Pendekatan Sistem Balikan
Penyusunan laporan dapat dilihat sebagai suatu sistem. Dalam hal ini kita berhadapan dengan sejumlah komponen yang merupakan kumpulan, dan tersusun menurut sebuah rencana tertentu dengan tujuan yang tergambar nyata. Tujuan itu tak lain penyampaian informasi mengenal suatu keadaan, kejadian, pengujian, penelitian, atau apa saja. Pendekatan secara sistem ini tertuju kepada komnonen masing¬-masing, bukan sebagai kesatuan yang berdiri sendiri-sendiri, dan sebagai sesuatu yang secara keseluruhan merupakan perpaduan., Sistem dapat dipandang dari hubungan antara masukan dan keluaran. Masukan ini ialah berbagai penyebab yang pengaruh-mempengaruhi, kemudian mengakibatkan timbulnya hasil. Dalam hal laporan, masukan itu berupa data dan informasi, ilustrasi, dan referensi.
Laporan tersusun karena pengorganisasian berbagai macam data dan infor¬masi, ilustrasi, dan referensi. Mengelola sistem pelaporan memberi kemungkinan pengkombinasian berbagai masukan sehingga dapat diperoleh bila maksud dan tujuan laporan yang dikehendaki. Dengan istilah yang lazim, orang menyebutnya pengoptimuman sistem. Dengan cara ini kepuasan dimaksimumkan tanpa membiarkan masukan menjadi beraneka. Efek sebesar-besarnya hanya mungkin diperoleh, jika dan tujuan laporan yang hendak disusun dihayati benar-benar, semua jenis masukan tersedia. Dalam sistem pelaporan itu, perlu adanya kemungkinan penyesuaian melalui ssstem balikan (Gambar 1).
Sumber Daya
Garis Besar Pemaparan
Tujuan Laporan Pokok Bahasan Laporan
Gambar 1. Proses pelaporan dengan sistem balikan
7.5 Jenis Laporan
Laporan dapat dibedakan sesuai dengan sudut pandang yang digunakan. Ada laporan yang berdasarkan sarana pengungkapannya, sifat, keresmiannya, waktunya, dan berdasarkan bentuknya.
a. Menurut sarananya
Pada dasarnya, laporan dilihat dari segi isi pengungkapannya terdiri dari laporan lisan dan laporan tertulis. Laporan yang disampaikan secara lisan, misalnya laporan yang dikemukakan kepada atasannya atau acara tertentu dalam suatu kegiatan. Laporan tertulis berupa laporan yang disajikan dalam tulisan, misalnya dalam artikel, makalah, laporan studi kelayakan, laporan penelitian, dan laporan rancang bangun.
b. Menurut keresmiannya
Dilihat dari segi keresmiannya, laporan terdiri dari formal dan dan nonformal. Laporan formal adalah laporan yang resmi. Laporan ini dipersiapkan dengan sungguh-sungguh oleh si pelapor, misalnya tugas akhir, laporan PKL, atau laporan survai. Laporan jenis kedua, yaitu laporan informal. Laporan ini mungkin disampaikan secara lisan dalam situasi yang tidak resmi. Hal yang dilaporkannya mungkin hanya sebagian dan tidak lengkap. Oleh karena itu, laporan informal selalu bersifat sementara.
c. Menurut waktunya
Dilihat dari segi waktu, laporan dapat disampaikan secara periodik, yaitu laporan harian, mingguan, bulanan, triwulanan, caturwulanan, tahunan, dan lima tahunan (biasa disebut laporan berkala), atau laporan insidental, baik diminta atasan maupun atas inisiatif bawahan tentang kejadian khusus atau luar biasa.
1) Laporan Harian
Laporan harian tidak hanya berisi prestasi yang dicapai, tetapi juga hambatan dan kemacetan yang dialami pada hari itu. Laporan ini penting diketahui oleh pimpinan perusahaan untuk menentukan langkah pada hari berikut¬nya.
2) Laporan Mingguan
Laporan mingguan dibuat untuk merekapi¬tulasi sesuatu yang dihasilkan selama seminggu yang bersangkutan. Laporan ini pun dibuat berdasarkan laporan agar pimpinan dapat mengambil langkah yang tepat untuk minggu berikutnya. Bentuk la¬poran mingguan mungkin cukup dengan surat atau formulir.
3) Laporan Bulanan
Laporan bulanan lazim dilakukan oleh suatu proyek. Isinya menyangkut kegiatan yang dilakukan selama bulan yang bersangkutan, hasil yang dicapai, dan hambatan yang dialami. Laporan ini pun dibuat berdasarkan laporan mingguan. Selain itu, dalam laporan bulanan biasa dicantum¬kan rencana kegiatan pada bulan berikutnya. Bentuk lapor¬an bulanan juga mungkin berupa formulir atau artikel.
4) Laporan Tahunan
Umumnya, kegiatan proyek atau kegiatan suatu instansi dilakukan selama satu tahun anggaran. Jika kegiatan tersebut belum rampung, dianjurkan lagi rencana perpanjangan kegiatan untuk tahun berikutnya. Setiap akhir tahun anggaran, pelaksana kegiatan mem¬pertanggungjawabkan tugas tersebut kepada atasannya. Berdasarkan laporan tahunan itu, pe¬mimpin proyek atau instansi di atasnya dapat menilai keber¬hasilan atau kegagalan suatu kegiatan/pekerjaan. Bentuk laporan ini umumnya berupa artikel atau naskah/buku.
Dapatlah dikatakan bahwa laporan berkala secara umum dapat berisi tentang 1) uraian peristiwa atau kejadian tahap demi tahap, 2) keadaan keuangan baik penerimaan maupun pe¬ngeluaran, 3) keadaan barang/material dan perlengkapan, termasuk pembelian, pelelangan, atau perpindahan, 4) keadaan tenaga kerja termasuk personel aktif, cuti, pensiun, pendidikan, pangkat, gaji, dan sebagainya.
d. Menurut Bentuknya
Dilihat dari bentuknya, laporan ada beberapa macam, yaitu formulir, surat, artikel, dan naskah (lengkap)
1) Laporan berbentuk formulir (berkala) merupakan suatu jenis laporan yang paling sederhana bentuknya. Formulir biasanya dibuat dalam jum¬lah besar. Pelapor hanya tinggal mencantumkan keterangan yang lengkap, terarah, dan bersistem pada kolom yang su¬dah tersedia. Penerima laporan dengan mudah dapat membaca dengan mudah.
2) Laporan berbentuk artikel (singkat) merupakan laporan yang biasanya memuat jalannya suatu pertemuan, seperti hasil survai. Isinya berupa pertanggungjawaban si pembuat. Laporan artikel bersifat mengikat sebagai dokumen resmi dari peristiwa/kejadian yang dilaporkan di dalamnya. Seperti jenis laporan yang lain, laporan ini berisi tiga bagian, yaitu a) pendahuluan, b) isi/uraian, dan c) penutup.
3) Laporan berbentuk surat (insidental)
Laporan pelaksanaan suatu kegiatan dapat pula dituang¬kan dalam surat. Hal ini ditempuh agar si pelapor dapat menginformasikan kegiatannya dengan cepat dan si pene¬rima laporan dapat segera mengetahui perkembangan ke¬giatan tersebut sehingga isinya dapat berupa langkah-langkah yang diperlukan. Cara penulisan laporan dalam surat tidak berbeda dengan penulisan informasi lainnya dalam surat resmi. Dalam surat y.mg lengkap tcrdapat bagian berikut, yaitu kepala surat, tanggal, nomor surat, lampir¬an, hal, alamat yang dituju, salam pembuka (bila ada), paragraf pembuka, paragraf isi, paragraf penutup, jabatan, tanda tangan (dan stempel), nama penanda tangan, jabatan penanda tangan, tembusan, dan inisial.
4) Laporan berbentuk naskah (buku) merupakan laporan yang dibuat berdasarkan laporan berkala, tugas, atau berdasarkan rancang bangun.
e. Menurut Isinya
Dilihat dari isinya, laporan dibedakan menjadi empat jenis, yaitu laporan ilmiah, laporan dinas (rutin), atau laporan kegiatan.
1) Laporan Ilmiah (Laporan akademik)
Laporan ilmiah merupakan laporan hasil penelitian, studi pustaka, percobaan atau penelaahan, dari suatu masalah ter¬tentu. Setelah data terkumpul sesuai dengan metode yang digu¬nakan (baik data penelitian maupun studi pustaka), ditentukan langkah-langkah yang akan ditempuh. Langkahtersebut adalah
a) mengenali dan mengelompokkan mana data primer dan mana data sekunder;
b) menentukan atau memilih bentuk laporan;
c) membuat kerangka karangan (outline);
d) memulai menulisnya sebagai draf atau konsep;
e) menyunting (membaca ulang dan memperbaiki baik menambah yang kurang ataupun mengurangi yang lebih);
f) menulisnya dalam bentuk final, baik diketik maupun dicetak;
g) membaca kembali, jika terdapat kesalahan;
h) memperbaiki bentuk fisik, seperti menjilid.
2) Laporan dinas (rutin)
Laporan ini dibuat berdasarkan waktu permintaan, misalnya harian, mingguan, bulanan, atau tahunan.
3) Laporan laporan kegiatan (Laporan teknis)
Laporan ini dibuat berdasarkan proses kegiatan yang dilaksanakan, seperti laporan KKL oleh panitia, laporan kongres, muktamar, seminar, penyuluhan, temu akademik, atau laporan kemah bakti.
7.6 Bentuk Laporan
Bentuk laporan terdiri dari laporan berupa formulir, surat, artikel (risalah), dan laporan lengkap (naskah).
7.6.1 Laporan berkala
Laporan berkala sering digunakan bentuk formulir. Formulir merupakan suatu jenis laporan yang paling sederhana. Biasanya formulir dibuat secara berkala (seperti harian, mingguan, atau bulanan). Pelapor hanya mencantumkan keterangan lengkap, terarah, dan bersistem pada kolom yang sudah ditentuk. Penerima laporan dengan mudah dapat memahami keterangan yang dimuat dalam formul¬ir .
Laporan berupa formulir ini disajikan dengan memperhatikan hal-hal berikut.
a. Judul formulir ditulis dengan huruf kapital, sedangkan pokok isian (judul kolom) ditulis dengan huruf kecil kecuali huruf awal kata yang bukan kata tugas.
b. Laporan formulir berisi judul laporan, identitas perusahaan, nomor laporan, tanggal laporan, identitas pelapor, isi laporan, tanda tangan penanggung jawab laporan.
c. Laporan berbentuk tabel atau rincian isian data.
7.6.2 Laporan Insidental
Laporan insidental biasa disajikan dalam bentuk surat. Surat-menyurat merupakan kegiatan berbahasa yang dilakukan dalam komunikasi tertulis yang melibatkan tiga komponen, yaitu penulis, isi, dan pembaca. Penulis surat dapat mencapai sasarannya secara efektif bila bahasa yang digunakan dapat mengungkapkan isi surat sesuai dengan sifat surat, kedudukan penulis, dan pembaca surat. Bahasa sebagai alat komunikasi dalam surat memegang peran yang sangat penting.
Laporan pelaksanaan suatu kegiatan, kejadian mendadak, atau kebutuhan mendesak dapat dituang¬kan dalam surat. Hal ini ditempuh agar si pelapor dapat menginformasikan kegiatannya dengan cepat dan si pene¬rima laporan dapat segera mengetahui perkembangan ke¬giatan tersebut sehingga ia segera meng¬ambil langkah-langkah yang diperlukan.
Tata cara penulisan laporan dalam surat tidak berbeda dengan penulisan informasi lainnya dalam surat-surat dinas. Dalam surat yang lengkap terdapat bagian-bagian berikut, yaitu 1) kepala surat, 2) tanggal surat, 3) nomor surat, 4) lampir¬an surat, 5) hal surat, 6) alamat yang dituju, 7) salam pembu¬ka, 8) paragraf pembuka, 9) paragraph isi, 10) paragraf penu¬tup, 11) salam penutup, 12) tanda tangan dan atau stempel, 13) nama penanda tangan, 14) jabatan penanda tangan, 15) tembusan, dan 16) inisial.
Penjelasan bagian –bagian surat tersebut dikemukakan secara singkat seperti berikut.
a. Kepala surat
Kepala surat yang lengkap terdiri dari logo, nama intitusi, alamat lengkap, nomor telepon, dan nomor faksimil. Di samping itu, kita pun dapat menambahkan bagian lain sebagai identitas institusi.
b. Tanggal
Tanggal surat ditulis secara lengkap, yaitu tanggal ditulis dengan angka, bulan ditulis dengan huruf, dan tahun ditulis dengan angka. Sebelum tanggal tidak dicantumkan nama kota karena nama kota itu sudah tercantum pada kepala surat.
c. Nomor,lampiran, dan hal
Kata nomor, lampiran, dan hal ditulis dengan diawali huruf kapital. Nomor, lampiran, dan hal dengan diikuti tanda titik dua yang ditulis secara estetik ke bawah sesuai dengan panjang pendeknya ketiga kata itu. Kata nomor dan lampiran dapat disingkat menjadi No. dan Lamp. asalkan taat asas.
Contoh penulisan yang dianjurkan Penulisan yang tidak dianjurkan
a. Lampiran : Satu berkas a. Lampiran : 1 berkas
b. Lamp. : Satu berkas b. Lamp. : 1(satu) berkas
c. Hal : Permintaan barang c. Hal : Permintaan Barang
d. Alamat surat
Penulisan alamat surat harus cermat, lengkap, dan informatif. Nama diri penerima surat diawali huruf kapital pada setiap unsurnya, bukan menggunakan huruf kapital seluruhnya. Bila nama diri yang dituju bergelar akademik sebelumnya, seperti Dr. Ir., Drs., atau memiliki pangkat, seperti kapten atau kolonel penerima, maka kata sapaan Bapak, Ibu, atau Saudara/Sdr. tidak perlu digunakan. Begitu pula, bila yang dituju jabatan seseorang kata sapaan tidak digunakan seperti dalam contoh berikut.
1. Yth. Bapak Sukoco 2. Yth. Kepala
Kepala Biro Tata Usaha Biro Tata Usaha
Departemen A Departemen A
Jalan Sarlitan 17 Jalan Sarlitan 17
Jakarta Jakarta
3. Yth. Ir. Sukoco
Jalan Sarlitan Raya 17
Jakarta
e. Penulisan salam
Dalam penulisan surat terdapat dua buah salam, yaitu salam pembuka dan penutup. Salam pembuka lazim ditulis di sebelah kiri di bawah alamat surat atau di atas kalimat pembuka isi surat. Salam penutup lazim ditulis di sebelah kanan bawah. Salam pembuka dan penutup diawali dengan huruf kapital. Khusus surat dinas di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional tidak digunakan salam pembuka dan penutup.
f. Isi surat
Secara garis besar isi surat terbagi atas tiga bagian, yaitu bagian pertama merupakan paragraf pembuka, bagian kedua merupakan paragraf isi, dan bagian ketiga merupakan paragraf penutup. Beberapa paragraf dalam surat-menyurat terdapat dalam contoh berikut.
1. Contoh paragraf pembuka
a) Sehubungan dengan pelaksanaaan pekerjaan fondasi pada proyek ….
b) Sehubungan dengan pemberitahuan dalam harian Suara Merdeka tanggal 20 Januari 2003 tentang penerimaan karyawan baru, saya ….
c) Sesuai dengan permintaan Saudara dalam surat tanggal 4 Januari 2003 No. 29/H/PU/2003, bersama ini kami kirimkan satu berkas perjanjian kerja…
2. Contoh paragraf penutup
a) Atas perhatian Bapak/Saudara, kami ucapkan terima kasih.
b) Atas perhatian dan kerja sama Bapak, kkami ucapkan terima kasih.
c) Besar harapan kami, Bapak dapat berkenan menyampaikan materi tersebut.
g. Nama pengirim
Nama pengirim surat ditulis di bawah tanda tangan. Tanda tangan dan atau stempel perusahaan/institusi diperlukan sebagai keabsahan (validasi)surat dinas.
Bahasa surat harus ditulis secara singkat dan sederhana. Hal ini berarti kata-kata yang dipergunakan harus dipilih dan disusun ke dalam susunan kalimat yang singkat. Secara umum ragam bahasa surat ditandai oleh sifat-sifat berikut.
a. Jelas
Jelas dapat dilihat melalui unsur subjek (S), predikat (P), dan objek (O), serta keterangan (K) sehingga bahasa surat terlihat memenuhi persyaratan kaidah bahasa.
b. Lugas
Lugas diartikan bahasa yang digunakan tidak menimbulkan makna ganda. Bentuk dan pilihan kata dalam susunan kalimat mempunyai makna yang sam, seperti yang diinginkan penulis. Pemakaian kata yang berulang hendaknya dihindari. Oleh karena itu, bahasa surat harus langsung pada persoalannya.
c. Ekonomis
Bahasa surat harus ekonomis selama tidak merusak kaidah ejaan, tata bahasa, atau
pilihan kata dan komposisi.
d. Komunikatif
Komunikatif adalah menyatunya pokok pikiran pembaca surat dengan penulis surat. Komunikatif dapat ditentukan oleh kelogisan dan kesisteman. Kelogisan ditentukan oleh hubungan antarbagian kalimat dan paragraf yang memperlihatkan adanya hubungan pikiran pembaca dan penulis surat. Kesisteman berarti runtutnya pokok pikiran yang dimaksudkan dalam surat. Runtutnya pikiran ini ditentukan oleh pembentukan kata dan ketepatan menggunakan ungkapan suatu kalimat yang sekaligus merupakan komponen kalimat dan paragraf.
e. Sopan
Yang dimaksud dengan sopan dalam surat adalah tata cara menghormati orang lain sesuai dengan nilai-nilai yang ada pada masyarakat. Rasa hormat ini dapat ditunjukkan melalui berbagai cara, seperti penggunaan bahasa baku, penggunaan kata ganti secara cermat, dan penggunaan kata-kata yang bernilai rasa baik.
Rincian laporan yang merupakan inti permasalahan dalam surat hendaklah ditulis secara singkat, sederhana, jelas, tuntas, dan lazim.
7.6.3 Laporan Singkat
Pada umumnya laporan singkat dibuat dalam bentuk artikel. Arikel merupakan laporan yang biasanya memuat jalannya suatu pertemuan, seperti diskusi, hasil survai, tugas lapangan (dinas luar) atau rapat. Isinya berupa pertanggungjawaban si pembuat atau penyelenggara pertemuan. Oleh karena itu, artikel (laporan singkat atau risalah) bersifat mengikat sebagai dokumen resmi dari peristiwa/kejadian yang dilaporkan di dalamnya.
Seperti jenis laporan yang lain, laporan berbentuk artikel ini berisi tiga bagian, yaitu a) pendahuluan, b) isi/uraian, dan c) penutup.
a. Pendahuluan berisi ruang lingkup, rumusan masalah, tujuan yang akan dikaji dalam laporan
b. Uraian berisi pembahasan materi yang dikaji
c. Penutup berisi simpulan.
d. Daftar pustaka
Ada hal lain yang patut diperhatikan oleh si pembuat risalah, yaitu jika ada pembicara mengatakan off the record, hal tersebut harus betul-betul dirahasiakan, tidak boleh di¬cantumkan dalam risalah. Kemudian, jika ada pernyataan yang kurang tepat, kewajiban penyusunlah untuk menyelaraskannya sehingga pernyataan menjadi sopan, halus, dan pantas.
7.6.4 Laporan Lengkap
Laporan lengkap atau naskah adalah karya ilmiah yang mendemontrasikan penalaran masahasiswa terhadap isi buku atau bab yang di laporkan. Seorang yang ditugaskan untuk meneliti suatu po¬kok persoalan tertentu, harus menyampaikan laporan yang berkaitan dengan tugas itu. la sebenarnya mengetahui banyak hal selama menjalankan tugasnya itu. Oleh sebab itu, ia bisa menceriterakan semuanya dalam suatu tulisan yang panjang lebar, tetapi semua itu tidak perlu diceriterakannya.
Dalam laporan yang ditulisnya, ia hanya menyampaikan hal-hal yang esensial dan hal-hal yang pokok yang bertalian dengan tugasnya, sehingga orang yang menerima laporan itu segera mengetahui masalahnva, dan dapat segera mengambil langkah-lang¬kah yang diperlukan. Penulis laporan harus-menyadari dan berusaha agar apa yang disampaikan itu merupakan hal-hal yang penting, bukan mengenai pengalaman-pengalaman pribadi atau hal-hal yang kurang penting bila dibandingkan dengan masalah yang dihadapi.
Laporan merupakan unsur yang sangat penting terutama dalam menyusun kebijaksanaan-kebijaksanaan. Karena luasnya organisasi, pimpinan tidak dapat menguasai keadaan secara terperinci mengenai semua hal yang terjadi pada tingkat bawah dari orga¬nisasi yang dipimpinnya. Akan tetapi, dengan bantuan laporan pimpinan atas dapat mengetahui secara terus-menerus apa yang terjadi setiap ha¬rta pada unit-unit yang paling bawah. Dengan mempertimbangkan ba¬han-bahan yang disampaikan melalui laporan, akhirnya seba¬gai pimpinan ia dapat mengambil kebijaksanaan yang tepat dan cepat.
Sebelum seseorang dibiasakan menulis laporan dalam hubungan de¬ngan tugas pekerjaannya, ia sudah harus mengenal dan menulis lapor¬an itu ketika mengikuti pendidikan. Baik laporan yang akan dibuat untuk per¬usahaan maupun laporan yang dibuat untuk kepentingan pendidikan mengandung banyak segi yang sama. Namun, ada satu segi perbedaan yang amat penting antara kedua macam laporan tersebut, yaitu lapor¬an untuk suatu dunia usaha bergantung pada satu pertanyaan, "bagai¬mana upaya laporan itu cocok dengan kebutuhan mereka yang mene¬rima laporan itu?" Sebaliknya laporan untuk kepentingan pendidikan tidak selalu dibayangi dengan pertanyaan di atas.
Sebagai pegangan mengenai pengertian laporan, kita dapat menga¬takan bahwa laporan adalah suatu cara komunikasi di mana penulis menyampaikan informasi kepada seseorang atau suatu badan karena tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Karena laporan yang di¬maksud sering mengambil bentuk tertulis, maka dapat pula dikatakan bahwa laporan merupakan suatu macam dokumen yang menyampai-kan informasi mengenai sebuah masalah yang telah atau tengah diseli¬diki dalam bentuk fakta-fakta yang diarahkan kepada pemikiran dan tindakan yang akan diambil.
Variasi laporan yang dikemukakan di atas berimplikasi terhadap sistematika penulisannya. Secara umum sistematika laporan lengkap (ilmiah) terdiri dari pelengkap pendahuluan, pendahuluan, isi laporan, dan simpulan serta lampiran.
a. Pelengkap pendahuluan terdiri dari halaman judul, kata pengantar atau prakata, daftar isi, dan daftar gambar (seperti daftar tabel, grafik, gambar nonstandar jika ada).
b. Pendahuluan berisi latar belakang masalah, pembatasan masalah, tujuan, kegunaan, atau metode.
c. Isi laporan terdiri dari beberapa pokok isi yang diungkapkan dalam beberapa bab atau subbab. Dalam bagian ini semua data diolah dan semua faktor yang membantu kejelasan masalah dibahas secara terperinci dan mendalam. Segala teori dan pendapat para ahli yang berhubungan dengan pemecahan permasalahan yang sedang dihadapi dicantumkan secara lengkap.
d. Simpulan berisi tafsiran terhadap hasil analisis data.
Selain sistematika laporan lengkap tersebut terdapat pula sistematika laporan kegiatan teknis, seperti kegiatan penyuluhan atau pelatihan. Sistematika laporan itu terdiri dari
a. pelengkap pendahuluan yang memuat halaman judul, lembar pengesahan, kata pengantar, daftar isi, dan daftar gambar;
b. pendahuluan yang memuat dasar pemikiran, tujuan, dan kegunaan.
c. Isi laporan yang memuat persiapan kegiatan berupa pelaksana dan rencana kerja, pelaksanaan kegiatan berupa uraian kegiatan, waktu pelaksanaan, pembicara, peserta, materi, keuangan, atau data pelengkap;
d. evaluasi dan tindak lanjut kegiatan yang telah dilaksanakan;
e. penutup yang memuat penegasan terhadap pelaksanaan kegiatan beserta saran;
f. lampiran yang mendukung isi laporan.
Setiap laporan ilmiah maupun laporan teknis memiliki gaya selingkung masing-masing sesuai dengan kebutuhan institusi. Gaya selingkung merupakan salah satu penciri kepribadian dan jati diri suatu tulisan. Terdapat tiga kelomok komponen yang menentukan gaya selingkung tulisan, yaitu:
a. perwajahan atau format, seperti ukuran, tata letak, atau warna;pola tulisan, dan kedalaman dan kerincian penyajian;
b. pola tulisan, seperti konsistensi istilah, lambang, penyajian ilustrasi, atau perujukan pustaka;
c. kedalaman dan kerincian penyajian, seperti pengungkapan data atau informasi, gaya bahasa, atau urutan informasi atau fakta.
7.7 Rangkuman
Laporan merupakan pertanggungungjawaban tugas yang dilaksanakan seseorang atau lembaga. Dalam laporan ini dikemukakan proses kegiatan yang dilakukan sesuai dengan tujuan, fungsi, dan bentuk laporan. Laporan yang dibuat dapat berupa laporan berkala, laporan insidental, laporan singkat, atau laporan lengkap sesuai dengan tujuan pembuatan.
.
BAB 7
MENULIS LAPORAN
Bentuk laporan terdiri dari laporan berupa formulir, surat, artikel (risalah), dan laporan lengkap (naskah).
7.1 Formulir
Formulir merupakan suatu jenis laporan yang paling sederhana. Biasanya formulir dibuat secara berkala (seperti harian, mingguan, atau bulanan). Pelapor hanya mencantumkan keterangan lengkap, terarah, dan bersistem pada kolom yang sudah ditentuk. Penerima laporan dengan mudah dapat memahami keterangan yang dimuat dalam formul¬ir .
Laporan berupa formulir ini disajikan dengan memperhatikan hal-hal berikut.
d. Judul formulir ditulis dengan huruf kapital, sedangkan pokok isian (judul kolom) ditulis dengan huruf kecil kecuali huruf awal kata yang bukan kata tugas.
e. Laporan formulir berisi judul laporan, identitas perusahaan, nomor laporan, tanggal laporan, identitas pelapor, isi laporan, tanda tangan penanggung jawab laporan.
f. Laporan berbentuk tabel atau rincian isian data.
7.2 Surat
Surat-menyurat merupakan kegiatan berbahasa yang dilakukan dalam komunikasi tertulis yang melibatkan tiga komponen, yaitu penulis, isi, dan pembaca. Penulis surat dapat mencapai sasarannya secara efektif bila bahasa yang digunakan dapat mengungkapkan isi surat sesuai dengan sifat surat, kedudukan penulis, dan pembaca surat. Bahasa sebagai alat komunikasi dalam surat memegang peran yang sangat penting.
Laporan pelaksanaan suatu kegiatan dapat pula dituang¬kan dalam surat. Hal ini ditempuh agar si pelapor dapat menginformasikan kegiatannya dengan cepat dan si pene¬rima laporan dapat segera mengetahui perkembangan ke¬giatan tersebut sehingga ia segera meng¬ambil langkah-langkah yang diperlukan.
Tata Cara penulisan laporan dalam surat tidak berbeda dengan penulisan informasi lainnya dalam surat-surat dinas.Dalam surat yang lengkap terdapat bagian-bagian berikut, yaitu 1) kepala surat, 2) tanggal surat, 3) nomor surat, 4) lampir¬an surat, 5) hal surat, 6) alamat yang dituju, 7) salam pembu¬ka, 8) paragraf pembuka, 9) paragrafisi, 10) paragraf penu¬tup, 11) salam penutup, 12) tanda tangan dan atau stempel, 13) nama penanda tangan, 14) jabatan penanda tangan, 15) tembusan, dan 16) inisial.
Penjelasan bagian –bagian surat tersebut dikemukakan secara singkat seperti berikut.
h. Kepala surat
Kepala surat yang lengkap terdiri dari logo, nama intitusi, alamat lengkap, nomor telepon, dan nomor faksimil. Di samping itu, kita pun dapat menambahkan bagian lain sebagai identitas institusi.
i. Tanggal
Tanggal surat ditulis secara lengkap, yaitu tanggal ditulis dengan angka, bulan ditulis dengan huruf, dan tahun ditulis dengan angka. Sebelum tanggal tidak dicantumkan nama kota karena nama kota itu sudah tercantum pada kepala surat.
j. Nomor,lampiran, dan hal
Kata nomor, lampiran, dan hal ditulis dengan diawali huruf kapital. Nomor, lampiran, dan hal dengan diikuti tanda titik dua yang ditulis secara estetik ke bawah sesuai dengan panjang pendeknya ketiga kata itu. Kata nomor dan lampiran dapat disingkat menjadi No. dan Lamp. asalkan taat asas.
Contoh penulisan yang dianjurkan Penulisan yang tidak dianjurkan
a. Lampiran : Satu berkas a. Lampiran : 1 berkas
b. Lamp. : Satu berkas b. Lamp. : 1(satu) berkas
c. Hal : Permintaan barang c. Hal : Permintaan Barang
k. Alamat Surat
Penulisan alamat surat harus cermat, lengkap, dan informatif. Nama diri penerima surat diawali huruf kapital pada setiap unsurnya, bukan menggunakan huruf kapital seluruhnya. Bila nama diri yang dituju bergelar akademik sebelumnya, seperti Dr. Ir., Drs., atau memiliki pangkat, seperti kapten atau kolonel penerima, maka kata sapaan Bapak, Ibu, atau Saudara/Sdr. tidak perlu digunakan. Begitu pula, bila yang dituju jabatan seseorang kata sapaan tidak digunakan seperti dalam contoh berikut.
1. Yth. Bapak Sukoco 2. Yth. Kepala
Kepala Biro Tata Usaha Biro Tata Usaha
Departemen A Departemen A
Jalan Sarlitan 17 Jalan Sarlitan 17
Jakarta Jakarta
4. Yth. Ir. Sukoco
Jalan Sarlitan Raya 17
Jakarta
l. Penulisan Salam
Dalam penulisan surat terdapat dua buah salam, yaitu salam pembuka dan penutup. Salam pembuka lazim ditulis di sebelah kiri di bawah alamat surat atau di atas kalimat pembuka isi surat. Salam penutup lazim ditulis di sebelah kanan bawah. Salam pembuka dan penutup diawali dengan huruf kapital. Khusus surat dinas di lingkungan Departemen Pendidikan Nasiobnal tidak digunakan salam pembuka dan penutup.
m. Isi Surat
Secara garis besar isi surat terbagi atas tiga bagian, yaitu bagian pertama merupakan paragraf pembuka, bagian kedua merupakan paragraf isi, dan bagian ketiga merupakan paragraf penutup. Beberapa paragraf dalam surat-menyurat terdapat dalam contoh berikut.
1. Contoh paragraf pembuka
a) Sehubungan dengan pelaksanaaan pekerjaan fondasi pada proyek ….
b) Sehubungan dengan pemberitahuan dalam harian Suara Merdeka tanggal 20 Januari 2003 tentang penerimaan karyawan baru, saya ….
c) Sesuai dengan permintaan Saudara dalam surat tanggal 4 Januari 2003 No. 29/H/PU/2003, bersama ini kami kirimkan satu berkas perjanjian kerja…
2. Contoh paragraf penutup
a) Atas perhatian Bapak/Saudara, kami ucapkan terima kasih.
b) Atas perhatian dan kerja sama Bapak, kkami ucapkan terima kasih.
c) Besar harapan kami, Bapak dapat berkenan menyampaikan materi tersebut.
n. Nama Pengirim
Nama pengirim surat ditulis di bawah tanda tangan. Tanda tangan dan atau stempel perusahaan/institusi diperlukan sebagai keabsahan surat dinas.
Bahasa surat harus ditulis secara singkat dan sederhana. Hal ini berarti kata-kata yang dipergunakan harus dipilih dan disusun ke dalam susunan kalimat yang singkat. Secara umum ragam bahasa surat ditandai oleh sifat-sifat berikut.
e. Jelas
Jelas dapat dilihat melalui unsur subjek (S), predikat (P), dan objek (O), serta keterangan (K) sehingga bahasa surat terlihat memenuhi persyaratan kaidah bahasa.
f. Lugas
Lugas diartikan bahasa yang digunakan tidak menimbulkan makna ganda. Bentuk dan pilihan kata dalam susunan kalimat mempunyai makna yang sam, seperti yang diinginkan penulis. Pemakaian kata yang berulang hendaknya dihindari. Oleh karena itu, bahasa surat harus langsung pada persoalannya.
g. Ekonomis
Bahasa surat harus ekonomis selama tidak merusak kaidah ejaan, tata bahasa, atau
pilihan kata dan komposisi.
h. Komunikatif
Komunikatif adalah menyatunya pokok pikiran pembaca surat dengan penulis surat. Komunikatif dapat ditentukan oleh kelogisan dan kesisteman. Kelogisan ditentukan oleh hubungan antarbagian kalimat dan paragraf yang memperlihatkan adanya hubungan pikiran pembaca dan penulis surat. Kesisteman berarti runtutnya pokok pikiran yang dimaksudkan dalam surat. Runtutnya pikiran ini ditentukan oleh pembentukan kata dan ketepatan menggunakan ungkapan suatu kalimat yang sekaligus merupakan komponen kalimat dan paragraf.
e. Sopan
Yang dimaksud dengan sopan dalam surat adalah tata cara menghormati orang lain sesuai dengan nilai-nilai yang ada pada masyarakat. Rasa hormat ini dapat ditunjukkan melalui berbagai cara, seperti penggunaan bahasa baku, penggunaan kata ganti secara cermat, dan penggunaan kata-kata yang bernilai rasa baik.
Rincian laporan yang merupakan inti permasalahan dalam surat hendaklah ditulis secara singkat, sederhana, jelas, tuntas, dan takzim.
7.3 Artikel (laporan singkat atau Risalah)
Arikel merupakan laporan yang biasanya memuat jalannya suatu pertemuan, seperti diskusi, hasil survai, tugas lapangan (dinas luar) atau rapat. Isinya berupa pertanggungjawaban si pembuat atau penyelenggara pertemuan. Oleh karena itu, artikel (laporan singkat atau risalah) bersifat mengikat sebagai dokumen resmi dari peristiwa/kejadian yang dilaporkan di dalamnya.
Seperti jenis laporan yang lain, laporan berbentuk artikel ini berisi tiga bagian, yaitu a) pendahuluan, b) isi/uraian, dan c) penutup.
e. Pendahuluan berisi 1) judul laporan, hari, tanggal, jam pertemuan, dan peserta yang hadir (jika perlu peserta yang tidak hadir disebutkan).
f. Uraian berisi jalannya kegiatan (pertemuan). Dalam bagian ini dirinci nama jabatan pembicara, isi pembicaraan (misalnya mungkin berupa usul, atau persetujuan).
g. Penutup berisi simpulan atau putusan yang ditetapkan dalam pertemuan. Dalam bagian penutup dapat juga disebutkan jam berakhirnya pertemuan dan rencana
pertemuan berikutnya.
Ada hal lain yang patut diperhatikan oleh si pembuat risalah, yaitu jika ada pembicara mengatakan off the record, hal tersebut harus betul-betul dirahasiakan, tidak boleh di¬cantumkan dalam risalah. Kemudian, jika ada pernyataan yang kurang tepat, kewajiban penyusunlah untuk menyelaraskannya sehingga pernyataan menjadi sopan, halus, dan pantas.
7.4 Laporan Lengkap
Laporan lengkap atau naskah adalah karya ilmiah yang mendemontrasikan penalaran masahasiswa terhadap isi buku atau bab yang di laporkan. Seorang yang ditugaskan untuk meneliti suatu po¬kok persoalan tertentu, harus menyampaikan laporan yang berkaitan dengan tugas itu. la sebenarnya mengetahui banyak hal selama menjalankan tugasnya itu. Oleh sebab itu, ia bisa menceriterakan semuanya dalam suatu tulisan yang panjang lebar, tetapi semua itu tidak perlu diceriterakannya. Dalam laporan yang ditulisnya, ia hanya menyampaikan hal-hal yang esensial dan hal-hal yang pokok yang bertalian dengan tugasnya, sehingga orang yang menerima laporan itu segera mengetahui masalahnva, dan dapat segera mengambil langkah-lang¬kah yang diperlukan. Penulis laporan harus-menyadari dan berusaha agar apa yang disampaikan itu merupakan hal-hal yang penting, bukan mengenai pengalaman-pengalaman pribadi atau hal-hal yang kurang penting bila dibandingkan dengan masalah yang dihadapi.
Laporan merupakan unsur yang sangat penting terutama dalam menyusun kebijaksanaan-kebijaksanaan. Karena luasnya organisasi, pimpinan tidak dapat menguasai keadaan secara terperinci mengenai semua hal yang ter adi pada tingkat bawah dari orga¬nisasi yang dipimpinnya. Akan tetapi, dengan bantuan laporan pimpinan atas dapat mengetahui secara terus-menerus apa yang terjadi setiap ha¬rta pada unit-unit yang paling bawah. Dengan mempertimbangkan ba¬han-bahan yang disampaikan melalui laporan, akhimya seba¬gai pimpinan ia dapat mengambil kebijaksanaan-kebijaksanaan yang tepat dan cepat.
Sebelum seseorang dibiasakan menulis laporan dalam hubungan de¬ngan tugas peker- aannya, ia sudah harus mengenal dan menulis lapor¬an-laporan itu di sekolah. Baik laporan yang akan dibuat untuk per-usahaan maupun laporan yang dibuat untuk kepentingan pendidikan mengandung banyak segi yang sama. Namun, ada satu segi perbedaan yang amat penting antara kedua macam laporan tersebut, yaitu lapor¬an untuk suatu dunia usaha bergantung pada satu pertanyaan, "bagai¬mana upaya laporan itu cocok dengan kebutuhan mereka yang mene¬rima laporan itu?" Sebaliknya laporan untuk kepentingan kelas tidak selalu dibayangi dengan pertanyaan di atas.
Sebagai pegangan mengenai pengertian laporan, kita dapat menga¬takan bahwa laporan adalah suatu cara komunikasi di mana penulis menyampaikan informasi kepada seseorang atau suatu badan karena tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Karena laporan yang di¬maksud sering mengambil bentuk tertulis, maka dapat pula dikatakan bahwa laporan merupakan suatu macam dokumen yang menyampai-kan informasi mengenai sebuah masalah yang telah atau tengah diseli¬diki, dalam bentuk fakta-fakta yang diarahkan kepada pemikiran dan tindakan yang akan diambil.
Variasi laporan yang dikemukakan di atas berimplikasi terhadap sistematika penulisannya. Secara umum sistematika laporan lengkap (ilmiah) terdiri dari pelengkap pendahuluan, pendahuluan, isi laporan, dan simpulan serta lampiran.
e. Pelengkap pendahuluan terdiri dari halaman judul, kata pengantar atau prakata, daftar isi, dan daftar gambar (seperti daftar tabel, grafik, gambar nonstandar jika ada).
f. Pendahuluan berisi latar belakang masalah, pembatasan masalah, tujuan, atau kegunaan.
g. Isi laporan terdiri dari beberapa pokok isi yang diungkapkan dalam beberapa bab atau subbab. Dalam bagian ini semua data diolah dan semua faktor yang membantu kejelasan masalah dibahas secara terperinci dan mendalam. Segala teori dan pendapat para ahli yang berhubungan dengan pemecahan permasalahan yang sedang dihadapi dicantumkan secara lengkap.
h. Simpulan berisi tafsiran terhadap hasil analisis data.
Selain sistematika laporan lengkap tersebut terdapat pula sistematika laporan kegiatan teknis, seperti kegiatan penyuluhan atau pelatihan. Sistematika laporan itu terdiri dari
g. pelengkap pendahuluan yang memuat halaman judul, lembar pengesahan, kata pengantar, daftar isi, dan daftar gambar;
h. pendahuluan yang memuat dasar pemikiran, tujuan, dan kegunaan.
i. Isi laporan yang memuat persiapan kegiatan berupa pelaksana dan rencana kerja, pelaksanaan kegiatan berupa uraian kegiatan, waktu pelaksanaan, pembicara, peserta, materi, atau data pelengkap;
j. evaluasi dan tindak lanjut kegiatan yang telah dilaksanakan;
k. penutup yang memuat penegasan terhadap pelaksanaan kegiatan beserta saran;
l. lampiran yang mendukung isi laporan.
Setiap laporan ilmiah maupun laporan teknis memiliki gaya selingkung masing-masing sesuai dengan kebutuhan institusi. Gaya selingkung merupakan salah satu penciri kepribadian dan jati diri suatu tulisan. Terdapat tiga kelomok komponen yang menentukan gaya selingkung tulisan, yaitu:
d. perwajahan atau format, seperti ukuran, tata letak, atau warna;pola tulisan, dan kedalaman dan kerincian penyajian;
e. pola tulisan, seperti konsistensi istilah, lambang, penyajian ilustrasi, atau perujukan pustaka;
f. kedalaman dan kerincian penyajian, seperti pengungkapan data atau informasi, gaya bahasa, atau urutan informasi atau fakta.
BAB 8
PENYUSUNAN USULAN
Kompetensi Dasar
Pada akhir perkuliahan ini, diharapkan mahasiswa dapat
a. menjelaskan pengertian penelitian;
b. menyebutkan sikap ilmiah dalam penelitian;
c. menjelaskan langkah penelitian;
d. membuat usulan penelitian.
8.1 Pengantar Penelitian
Penelitian memegang peranan penting dalam membantu manusia memperoleh pengetahuan baru atau memperoleh jawaban atas suatu pertanyaan atau pemecahan atas suatu masalah. Penelitian berfungsi mernbantu manusia meningkatkan kemampuannya untuk menafsirkan fenornena-fenomena masyarakat yang kompleks dan kait-mengait.
Penelitian adalah kegiatan yang teratur, terencana, dan sistematis dalam mencari jawaban atas suatu masalah. Melalui kegiatan penelitian itulah peneliti harus bersikap dan berpikir ilmiah, yakni bersikap dan berpikir skeptis, analitis, dan kritis. Dengan cara berpikir tersebut diharapkan peneliti dapat membuat dan merumuskan berbagai pertanyaan atau persoalan dengan tepat. Dengan pertanyaan atau persoalan yang tepat, peneliti akan memperoleh jawaban yang tepat dari persoalan atau masalahnya.
Sudah sewajarnya apabila penelitian harus bersifat ilniah. Sifat ilmiah ini erat hubungannya dengan metode penyirnpulan. Suatu tulisan disebut ilmiah. apabila pokok pikiran yang dikernukakan disimpulkan melalui suatu prosedur yang sistematis dengan menggunakan pembuktian yang cukup meyakinkan. Umumnya bukti yang meyakinkan tersebut berupa fakta yang diperoleh secara objektif dan telah disaring melalui berbagai proses pembuktian. Bukti tersebut didapatkan melalui penelitian yang teliti dan hati-hati.
Kegiatan penelitian merupakan proses yang berjalan secara terus-menerus. Ilmu pengetahuan modern khususnya ilmu pengetahuan sosial merupakan suatu proses yang tidak berakhir dan suatu proses yang tidak pernah berhenti. Hasil penelitian tidak akan pernah merupakan hasil yang bersifat final yang tidak dapat diganggu gugat lagi.
8.2 Pengertian Penelitian
Kebenaran ilmiah dicari dengan menggunakan metode penelitian ilmiah yang memungkinkan ditemukannya kebenaran objektif. Sehubungan dengan itu, pada dasarnya penelitian diartikan sebagai berikut.
a. Penelitian dari suatu bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta atau prinsip dengan sabar, hati-hati, dan sistematis (Supranto,1974: 13).
b. Usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan yang dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (Marzuki, 1983:5).
Menurut Soetrisno Hadi (1985:3 ), yang dimaksud dengan menernukan adalah berusaha mendapatkan sesuatu untuk mengisi kekosongan atau kekurangan, mengembangkan berarti memperluas dan menggali lebih dalam apa yang sudah ada, sedangkan menguji kebenaran dilakukan jika apa yang sudah ada masih diragukan kebenarannya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa penelitian merupakan suatu usaha menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan berdasarkan fakta atau prinsip yang dilakukan sesuai dengan prosedur ilmiah.
8.3 Asas Metodologi Ilmiah
Setiap penelitian selalu dilandasi asas metodologi ilmiah. Metodologi ilmiah ini merupakan dasar-dasar berpikir ilmiah. Asas metodologi ilmiah yang diungkapkan oleh Fuad Hasan (1983:8-23) meliputi sistem, metode, fakta, dan teori.
a, Sistem
Sistem merupakan suatu susunan yang berfungsi dan bergerak, yaitu susunan relasi yang ada dalam suatu realita. Sebagai gambaran sistem ini terlihat pada mesin kalau bekerja rnemerlukan pendinginan. Panas silinder yang ditimbulkan oleh mesin pembakar dalam dapat merusak bagian mesin apabila panas itu tidak disalurkan, biasanya dengan air yang mengalir, minyak pelumas, atau udara. Misalnya, alas beton molen akan'berfungsi dengan baik bila dalam keadaan bersih dan motor penggerak tidak rusak. Dengan contoh tersebut dapat dikatakan bahwa dalam penelaahan ilmu pengetahuan tidak terlepas dari sistem. Sistem inilah yang menunjukkan relasi antarunsur didalamnya sehingga komponen yang ada pada ilmu pengetahuan tersebut dapat berfungsi.
b. Metode
Satu hal lain yang dalam duniakeilmuan segera dilekatkan pada masalah sistem adalah metode. Dalam arti kata yang sesungguhnya, maka metode (Yunani: methodos) adalah cara atau jalan. Sehubungan dengan upaya inilah, maka metode menyangkut masalah cara kerja, yaitu cara kerja untuk mernahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.
Cabang-cabang ilmu yang memperkembangkan metodologinya (yaitu pengetahuan tentang berbagai cara kerja) disesuaikan dengan objek studi ilmu yang bersangkutan. Metodik (yaitu kumpulan metode) itu merupakan jalan atau cara yang nantinya akan ditempuh guna lebih mendalami objek studi. Dalam hubungan ini perlu dicatat bahwa suatu metode dlpilih dengan mempertimbangkan kesesuaiannya dengan objek studi dan kecenderungan untuk menempuh jalan yang sebaliknya (yaitu untuk mencocokkan objek studi dengan metode yang asal ada) sesungguhnya keliru.
Metode merupakan syarat paling hakiki bagi pengembangan dan keberhasilan ilmu pengetahuan. Metode dikatakan objektif dan benar bila sesuai dengan pokok yang ditelaah. Karena setiap cabang ilmu mempunyai objek telaahnya sendiri, maka ilmu masing-masing mempunyai metode sendiri pula. Dengan demikian, metode selalu terjalin dengan teori.
c. Fakta
Fakta merupakan pernyataan deskripsi data yang berdasarkan kejadian/kegiatan yang kongkret. Suatu fakta yang menjadi penyebab fakta lain wing dipakai istilah faktor. Kejadian khas dinyatakan sebagai fakta, sedangkan dalam wujud hasil pengukuran hal itu disebut data. Dengan demikian, fakta merupakan dasar metodologi ilmiah yang berfungsi untuk mendapatkan kongklusi yang tepat. Sebagai contoh, dalam penelitian Uji Tarik Kayu diamati kenyataan yang terjadi dalam uji tarik tersebut. Kenyataan itulah yang disebut faktor. Hasil pengukuran terhadap kenyataan itu berbentuk data.
d. Teori
Teori merupakan asas yang terpenting dari suatu i1mu pengetahuan. Tanpa teori hanya ada pengetahuan tentang serangkaian fakta saja, tetapi tidak akan ada ilmu pengetahuan. Teori dapat a) menyimpulkan generalisasi dari fakta hasil pengamatan, b) memberi kerangka orientasi untuk analisis dan klasifikasi dari fakta yang dikumpulkan dalam penelitian, c) memberi ramalan terhadap gejala baru yang akan terjadi, dan d) mengisi lowongan dalam pengetahuan kits tentang gejala-gejala yang telah atau sedang terjadi.
Untuk itu, manusia harus dengan sengaja menangkap gejala alam atau gejala masyarakat itu dengan cara yang ketat berdisiplin menurut suatu sistern dan metode yang tertentu. Sistem dan metode sangat ketat untuk mengatur pengetahuan tentang gejala-gejala alam dan masyarakat disebut metodologi ilmiah, sedangkan usaha untuk dengan sengaja menangkap gejala-gejala itu berdasarkan disiplin metodologi ilmiah dengan tujuan menemukan prinsip-prinsip baru di belakang gejala-gejala tersebut disebut penelitian.
Dalam usaha penelitian itu akal manusia mulai mengumpulkan fakta tentang gejala alam dan masyarakat dalam litigkungannya yang kongkret. Melalui proses induksi ia membuat generalisasi yang abstrak. Sebaliknya, teori hasil generalisasi itu harus lebih lanjut diterapkan secara deduktif untuk menjadi kerangka penelitian yang baru terhadap fakta yang lain untuk membuat ramalan. tentang akta baru dalam korelasi dengan adanya fakta khas tertentu atau untuk mengisi kekosongan dalam pengetahuannya.
8.4 Sikap dan Syarat Penelitian
Keberhasilan kegiatan penelitian yang dil.akukan sangat bergantung pada sikap dan cara berpikir peneliti.
a. Cara berpikir
Untuk menjadi seorang peneliti yang baik diperlukan tiga cara berikut, yaitu berpikir skeptis, analitis, dan kritis (Wasito,1993:7).
1 . Berpikir skeptis
Yang dimaksud dengan sikap ini adalah peneliti selalu menanyakan bukti (fakta) yang dapat menclukung suatu pemyatan.
2. Berpikir analitis
Betpikir analitis dimaksudkan peneliti harus selalu menganalisis setiap pernyataan atau persoalan.
3. Berpikir kritis
Peneliti harus mendasarkan pikiran dan pendapatnya pada logika serta menimbang berbagai hal secara objektif berdasarkan data dan analisis akal sehat.
b. Syarat peneliti
Di samping bersikap dan berpikir ilmiah, seorang peneliti harus pula mernenuhi syarat-syarat lain, yaitu kompeten, objektif, jujur, faktual, dan terbuka (Wasito, 1993:6).
1. Kompeten
Seorang peneliti yang balk memiliki kompetensi (kemampuan), artinya mampu menyelenggarakan penelitian dengan menggunakan metode dan teknik penelitian tertentu.
2. Objektif
Seorang peneliti yang balk bersikap objektif, artinya dapat mernisahkan pendapat pribadi dengan kenyataan.
3. Jujur
Seorang peneliti tidak nietnasukkan keinginan sendiri ke dalam data.
4. Faktual
Yang dimaksudkan dengan faktual adalah peneliti bekerja dengan menggunakan fakta.
5. Terbuka
Peneliti bersedia memberikan bukti penelitian dan siap menerima pendapat pihak lain tentang hasil penelitiannya.
Penelitian dapat bermanfaat bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (selanjutnya disebut iptek) yang pada gilirannya akan sangat berguna bagi kesejahteraan umat manusia dan kemajuan. Dapat dikatakan demikian karena iptek membantu manusia untuk menjelaskan, meramalkan, dan mengendalikan gejala yang ada di sekeliling kita.
Perkembangan iptek berjalan searah dengan penelitian. Artinya, pesatnya kemajuan iptek seimbang dengan perkembangan penelitian. Apabila penelitian tumbuh subur, maka kemajuan iptek semakin pesat. Keadaan demikian dapat terlihat jelas pada negara maju. Menyadari keadaan ini, pemerintah berusaha menggiatkan penelitian.
8.5 Langkah Penelitian
Dalam bab pendahuluan dijelaskan bahwa penelitian merupakan suatu proses, yaitu suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus, terencana, dan sangat sistemitis untuk mendapatkan pemecahan suatu masalah. Oleh karena itu, langkah yang diambil dalam penelitian haruslah serasi dan saling mendukung antarkomponennya.
Pada umumnya penelitian meliputi langkah esensial berikut, yaitu:
a. menentukan objek, yaitu menentukan ruang, lingkup dan mengidentifikasi masalah yang akan diteliti;
b. merumuskan masalah, yaitu menetapkan batasan masalah yang akan diteliti;
c. menentukan tujuan, yaitu rnenetapkan tujuan penelitian yang berhubungan dengan batasan masalah;
d. mengurnpulkan bahan, yaitu mengurnpulkan bahan yang berkaitan dengan sumber daya, seperti bahan pustaka atau data-data yang dibutuhkan;
e. mengolah bahan, yaitu melakukan analisis data berdasarkan analisis statistika (kuantitatif) atau nonstatistika (kualitatif).
f. menyimpulkan berarti menafsirkan hasil analisis data yang telah dilakukan sehingga diperoleh simpulan penelitian yang menjawab tujuan penelitian.
g. melaporkan berarti membuat laporan yang berbentuk makalah (paper), laporan singkat, artikel, tugas akhir, skripsi, atau disertasi. Sistematika penulisannya mengikuti gaya selingkung yang ditetapkan.
8.6 Penyusunan Usulan
Untuk melakukan penelitian diperlukan usulan (proposal) yang berkaitan dengan metodologi ilmiah. Usulan terdiri dari dua jenis, yaitu usulan kegiatan ilmiah dan usulan kegiatan teknis. Usulan kegitan ilmiah berhubungan dengan penelitian atau penyelidikan, sedangkan usulan kegiatan teknis berhubungan dengan kegiatan peresmian, penyelenggaraan penyuluhan, dan lain-lain.
Usulan kegiatan ilmiah merupakan suatu rencana kegiatan penelitian yang berusaha menerapkan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan yang dilakukan dengan menggunakan metodologi ilmiah. Usulan kegiatan ilmiah (penelitian) terdiri dari latar belakang masalah, perunusan masalah, tujuan. kegunaan, tinjauan pustaka/landasan teoritis, metodologi penelitian, adrninistrasi penelitian, dan daftar pustaka serta lampiran (jika ada). Usulan kegiatan teknis lebih menitikberatkan kegiatan yang bersifat seremonial. Usulan kegiatan teknis didefinisikan sebagai rencana penyelenggaraan kegiatan (seperti seminar, penyuluhan, peresmian, dan kongres). Hal-hal yang tertuang dalam usulan kegiatan teknis adalah latar belakang pemikiran, tujuan, sasaran, pelaksana, peserta, pembicara, jadwal, anggaran, penutup atau lampiran (jika ada).
Usulan penelitian berisi butir-butir berikut.
a. Latar Belakang Masal.ah
Latar belakang masalah merupakan uraian informasi sehubungan dengan timbulnya masalah penelitian. Informasi atau data mengenai timbulnya masalah penelitian tersebut perlu dicari untuk 'mengetahui kedudukan masalah dengan pasti. Apabila latar belakang masalah (Informasi tentang seluk beluk masalah) dipelajari dengan baik, penelitian dapat dilangsungkan dengan lancar dan hasilnya pun akan berarti (signifikan).
Latar belakang menginformasikan idetifikasi masalah yang akan dikaji. Bagian-bagian yang perlu dikemukakan dalam bagian ini adalah
1. menjelaskan topik yang sama atau relevan dengan topik yang akan dibahas;
2. menjelaskan kelemahan yang terdapat dalam topik yang relevan itu;
3. menjelaskan topik yang akan dikaji;
4. menjelaskan perbedaannya sehingga penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut;
5. menjelaskan kelebihan topik yang akan dikaji.
b. Perumusan Masalah
Setelah masalah penelitian ditentukan dan dipahami, langkah selanjutnya adalah membuat rumusan dengan jelas. Rumusan masalah ini harus dibuat operseional dan jelas batasannya. Kedua hal ini berguna bagi pelaksanaan penelitian nantinya. Pembatasan masalah perlu dirumuskan dengan tepat sesuai dengan topik yang dikaji. Pembatasan disajikan dalam bentuk kalimat tanya atau kalimat infonnatif (berita) dengan jelas dan padat.
c. Tujuan
Bagian. ini mencantumkan garis besar tujuan pembahasan yang akan dilakukan dalam tugas akhir, yaitu gambaran hasil yang akan dicapai, seperti ingin membuat rencana pelaksanaan pembangunan gedung berlantai lima yang aman atau ingin mengendalikan proyek dengan baik. Dalam peryajian tujuan hendaknya juga menggunakan kata-kata kongkret, seperti kata menjelaskan, menyebutkan, menerapkan, merancang, membuat, menghitung, mendesain, atau mendeskripsi. Kata-kata abstrak, seperti memahami, mengenal, mengerti, atau mengetahui, tidak digunakan dalam penyajian rincian tujuan tugas akhir.
d. Kegunaan
Dalam uraian tentang kegunaan penelitian dijelaskan manfaat dan sumbangan yang akan diberikan sehubungan dengan penelitian tersebut. Uraian kegunaan penelitian ini menjadi dasar informasi untuk mengajukan saran dan rekornendasi kepada pihak lain yang ingin mengadakan penelitian lanjutan.
e. Metode Penelitian
Me-tode penelitian mencakup alat dan prosedur yang digunakan dalam penelitian. Alat yang digunakan dalam penelitian merupakan alat pengumpulan data, sedangkan prosedur penelitian menguraikan tahapan atau urutan pelaksanaan penelitian. Oleh karena itu, pemilihan metode penelitian dilakukan berdasarkan pada teknik penentuan sampel (teknik sampling) dan teknik pengumpulan data yang digunakan.
Metode dapat disajikan dengan menjelaskan prosedur kerja dalam rancang bangun, seperti teknik pengumpulan data, prosedur perancangan atau rencana pelaksanaan, atau prosedur pengujian. Dalam penulisan tugas akhir diungkapkan penjelasan teknik pengumpulan, langkah-langkah yang dilakukan untuk merancang dan membangun suatu alat, sistem, atau modul, bahkan perlu dikemukakan prosedur pengujian (bila ada).
Dalam prosedur kerja disajikan penjelasan pengujian di laboratorium secara berurutan sehingga jelas langkah-langkah yang dikerjakan dalam rencana pelaksanaan, rancang bangun, atau dalam penelitian, misalnya mengungkapkan teknik pengumpulan data, rencana pelaksanaan, rencana perancangan, atau rencana pengujian (langkah penelitian).
Kesahihan (validity) dan keterandalan (reliability) data yang diperoleh akan terjamin apabila teknik dan alat pengumpulan data yang digunakan tepat. Data yang dikumpulkan dapat berupa data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diambil berdasarkan fakta di lapangan, sedangkann data sekunder mnerupakan data yang didapat dari pihak ketiga seperti buku, majalah, atau laporan sesuai dengan kebutuhan. Data-data tersebut dikumpulkan dengan berbagai teknik, yaitu
1. Teknik komunikasi
a. Wawancara
Wawancara (interviu) merupakan alat pengumpul data untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam proses wawancara adalah pe,wawancara, yang diwawancarai, pedoman wawancara, dan situasi wawancara.
b. Angket
Angket (kuesioner) merupakan alat pengumpul data yang biasa digunakan dalam teknik komunikasi tidak langsung. Angket berupa daftar pertanyaan yang disampaikan kepada responden untuk diisi.
b. Teknik pengamatan
Pengamatan (observasi) berarti pencatatan fenomena yang dilakukan secara sistematis dalam suatu penyelidikan. Pengamatan dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Pengamatan langsung berarti peneliti langsung mengamati objek, sedangkan pengamatan tidak langsung dilakukan melalui alat bantu lain, seperti pernotretan objek.
f. Landasan Teoretis ('Tinjauan pustaka)
Landasan teoretis dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
1. mempelajari dokumen atau hasil penelitian terdahulu dan
2. mempelajari berbagai buku sehubungan dengan masalah penelitian.
Landasan teoritis berisi teori-teori yang mendasar yang diacu dalam pembahasan masalah. Kumpulan teori itu disinkronkan dalam bentuk wacana (sehingga membentuk paragraf¬-paragraf yang berkesinambungan hingga membentuk sub-subbab/bab). Teori-teori yang dikutip dikemukakan dengan menyebutkan sumber (nama penulis yang paling belakang, tahun, dan atau halaman).
Penyajian kutipantersebut mengikuti kaidah penulisan berikut.
1. Mengutip pendapat, rumus, atau gambar dapat dilakukan dalam bentuk kutipan langsung atau tidak langsung.
2. Kutipan langsung yang diungkapkan dapat berupa pernyataan pendek (kurang dari empat baris) dan pernyataan yang panjang (lebih dari empat baris).
3. Kutipan langsung pendek ditulis di antara tanda petik dan dimasukkan langsung dalam teks sebagai wacana (tidak berdiri sendiri) serta tidak ditulis dengan huruf miring, kecuali pernyataan yang menggunakan bahasa asing.
4. Kutipan langsung panjang ditulis tersendiri sebagai paragraf atau tidak dimasukkan ke dalam teks dan tidak ditulis di antara tanda petik.
5. Kutipan tidak langsung dimasukkan ke dalam teks tanpa tanda petik baik kutipan tidak langsung yang pendek maupun yang panjang (seperti meringkas atau menyadur pernyataan yang panjang).
g. Administrasi Penelitian
Tiga faktor utama yang perlu diperhatikan dalam penyusunan administrasi penelitian adalah
1. personalia (tenaga peneliti) yang terdiri dari pemimpin penelitian, rekan peneliti (dan tenaga lapangan), atau tenaga administrasi;
2. anggaran yang dicantumkan dalam usulan penelitian, seperti honorarium, peralatan yang tidak habis pakai, bahan atau alat yang dipakai, transportasi (lokal dan antarlokal) penyelenggaraan seminar;
3. Jadwal kegiatan yang mencakup perencanaan penelitian, persiapan peralatan yang dibutuhkan, pengumpulan bahan, analisis, dan interpretasi data serta penulisan laporan.
h. Daftar Pustaka
Daftar pustaka merupakan bagian yang mutlak harus ada dalam usulan. Dengan daftar pustaka pembaca dapat mengetahui sumber acuan yang akan dipakai sebagai pijakan dalam pembahasan. Daftar pustaka diletakkan setelah bab simpulan. Kata daftar pustaka ditulis dengan huruf kapital. Semua buku yang dikutip (diacu) baik dari buku, majalah, jurnal, koran, atau internet dimasukkan dalam daftar pustaka.
Mengingat penyajian daftar pustaka beragam, misalnya pemakaian tanda baca titikk atau tanda koma sebelum judul buku, pola penulisan daftar pustaka dapat mengikuti ketentuan berikut.
1. Nama disusun balik, yaitu nama terakhir diletakkan di depan yang diikuti tanda baca koma dan setelah nama berikutnya diakhiri tanda titik. Nama penulis buku yang kedua dan ketiga (bila buku ditulis dua atau tiga orang), maka nama penulis kedua dan ketiga tidak disusun balik dan ditulis lengkap. Nama penulis (lembaga) ditulis lengkap tanpa disusun halik.
2. Tahun penerbitan diikuti tanda titik.
3. Judul buku dicetak miring dan diikuti tanda. titik. Jika judul artikel ilmiah, dari koran, majalah, jurnal, atau internet, ditulis di antara tanda petik dan diakhiri tanda titik, maka nama koran, majalah, jurnal, atau nama wehsite ditulis dengan huruf miring dan diikuti volume, nomor edisi penerbitan, atu bulan/tanggal.
4. Tempat penerbitan diikuti tanda titik dua.
5. Nama penerbit didikuti tanda titik.
6. Gelar kesarjanaan tidak ditulis dalam daftar pustaka.
7. Penyajian tiap buku menggunakan bentuk paragraf bergantung.
Berikut dikemukakan beberapa contoh penyajian daftar pustaka baik dari buku, majalah, koran. jurnal, internet, dan makalah.
1. Bahan pustaka berupa buku
Eneste, Panusuk. 2005. Buku Pintar Penyuntingan Naskah. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama. (satu penulis)
Kertonegoro, Bamtiang Djadmo dan Syamsul Arifin Siradz. 2006. Kamus Istilah Tanah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. (dua penulis)
Adikususmo, Supardjo. 1994. Kurikulum untuk Abad ke-21: Kekentalan Penguasaan ilmu sebagai Referensi. Jakarta: PT Gramedia. (kumpulan artikel)
Direktorat Jenderal Bina Marga, 1997. Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan AntarkKota. Jakarta. (Buku ditulis oleh lembaga)
Undang-Undang No.20. 2003. Sistem Pendidikan Nasional. (Dokumen resmi Indonesia).
Fessenden,R.J. dan J.S. Fessenden. 1999. Kimia Organik. Jilid 1. Terjemahan Aloysius Hadyana Pudjaatmaka. Jakarta: Erlangga. (Terjemahan)
Manic. Milan P. 2003. “Traffic Control Linux QoS Control Too “. http://ms
nis.co.yu/mps/linux-tc.html, (12 Mei 2006). (Internet)
Lambanggoro, Garup . 2008. "Studi Analisis Stabilitas pads Lereng Galian dengan Metode Elemen Hingga". Wahana Teknik Sipil. Volume 12. Nomor 3, Semarang (artikel jurnal/majalah)
Makhrus, Moh. 2008. "Mendamba Taman Bacaan di Kendal". Suara Merdeka. 14 Juli. Hlm. L (Koran)
Suara Merdeka. 2008. Penertiban Iklan Mobil. 14 Juli. Him. B. (koran)
L umintaintang, Yayah B. Mugnisjah. Teknis Penulisan Laporan Ilmiah. Makalah disampaikan dalam Penataran Penyuntingan Majalah Ilmiah. Yogyakarta, 9 – 12 Desember 1996. Kerja sama anatara PDII-LIPI, Menristek, Dikti, Ikapindo, dan UII. (makalah)
Yanuarto, Bayu. 2006. Modijikasi Unit Produksi Stadium sebagai Upaya Penghemanatan Biaya Perawatan di Pertamina Unit pengolahan IV Cilacap. Tugas akhir. Semarang: Jurusan Teknik Mesin Polines.('Tugas akhir)
Secara umum, urutan unsur bahan pertaka pada daftar pustaka adalah sebagai berikut.
1. Buku : Nama. Tahun. Judul buku. Tempat: Penerbit.
2. Jurnal : Nama.Tahun. "Judul Artikel". Nama Jurnal. Volume. Nomor.;
3. Koran : Nama., Tahun. "Judul Artikel". Nama Koran. Tanggal. Halaman.
4. Makalah:Nama. Tahun. Judul Makalah. Makalah disampaikan dalam ...nama pelatihan/seminar. Tanggal . Kerja sama.
5. Internet : Nama. Tahun. ‘Judul Artikel”. Website. (tanggal diunduh)
6. Tedemahan: Nama penulis asing.Tahun. Judul Buku. Penerjemah. tempat: Penerbit.
Pengetikan daftar pustaka dilakukan dengan cara berikut.
1. Bahan pustaka yang dicantumkan dalam daftar pustaka hanya buku, artikel, makalah, atau laporan yang dikutip dalam pembahasan tugas akhir.
2. Penulis yang sama dengan bahan pustaka berbeda, penyebutan nama penulis pada buku kedua cukup diganti dengan garis putus (---------).
3. Jarak antarbaris pada satu bahan pustaka satu spasi, sedangkan jarak antarbahan pustaka dua spasi.
8.7 Rangkuman
Penelitian merupakan suatu usaha menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan berdasarkan fakta atau prinsip yang dilakukan sesuai dengan prosedur ilmiah. Penelitian dilakukan berdasarkan fakta, teori, metode, dan sistem yang digunakan dengan memperhatikan sikap dan ketentuan penelitian.
Untuk melakukan penelitian Anda harus membuat usulan (proposal) terdih dahulu. Usulan berisi hal berikut, yaitu latar belakang masalah, perunusan masalah, tujuan. kegunaan, tinjauan pustaka/landasan teoretis, metodologi penelitian, adrninistrasi penelitian, dan daftar pustaka serta lampiran (jika ada).



19.03
LULUT ARA'S *BLOG
0 komentar:
Posting Komentar