11 PIDATO
A. Definisi / Pengertian Pidato
Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk disampaikan kepada
orang banyak. Contoh pidato yaitu seperti pidato kenegaraan, pidato menyambut
hari besar, pidato pembangkit semangat, pidato sambutan acara atau event, dan
lain sebagainya.
Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang
mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan
publik atau umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karir yang baik.
B. Tujuan Pidato. Pidato umumnya melakukan satu atau beberapa hal berikut ini :
1. mengantarkan pada inti acara (sambutan)
2. Mempengaruhi orang lain agar mau mengikuti kemauan kita dengan suka rela.
3. Memberi suatu pemahaman atau informasi pada orang lain.
4. Membuat orang lain senang dengan pidato yang menghibur sehingga orang lain
senang dan puas dengan ucapan yang kita sampaikan.
C. Berdasarkan pada sifat dari isi pidato, pidato dapat dibedakan menjadi :
1. Pidato Pembukaan, adalah pidato singkat yang dibawakan oleh pembaca acara
atau mc.
2. Pidato pengarahan adalah pidato untuk mengarahkan pada suatu pertemuan.
3. Pidato Sambutan, yaitu merupakan pidato yang disampaikan pada suatu acara
kegiatan atau peristiwa tertentu yang dapat dilakukan oleh beberapa orang
dengan waktu yang terbatas secara bergantian untuk mengarahkan pada inti acara.
4. Pidato Peresmian, adalah pidato yang dilakukan oleh orang yang berpengaruh
untuk meresmikan sesuatu.
5. Pidato Laporan, yakni pidato yang isinya adalah melaporkan suatu tugas atau
kegiatan.
6. Pidato Pertanggungjawaban, adalah pidato yang berisi suatu laporan
pertanggungjawaban.
D. Teknik atau metode dalam membawakan suatu pidato di depan umum :
1. Metode naskah, yaitu berpidato dengan menggunakan naskah yang telah dibuat
sebelumnya dan umumnya dipakai pada pidato-pidato resmi.
2. Metode Catatan Kecil (ekstemporan), yaitu menuliskan topik-topik pokoknya
yang dijabarkan dalam kerangka
3. Metode menghafal (memoriter), yaitu membuat suatu rencana pidato lalu
menghapalkannya kata per kata.
4. Metode serta merta (improptu), yakni membawakan pidato tanpa persiapan dan
hanya mengandalkan pengalaman dan wawasan. Biasanya dalam keadaan darurat tak
terduga banyak menggunakan tehnik serta merta.
E. Persiapan Pidato. Sebelum memberikan pidato di depan umum, ada baiknya untuk
melakukan persiapan berikut ini :
1. Wawasan pendengar pidato secara umum
2. Mengetahui lama waktu atau durasi pidato yang akan dibawakan
3. Menyusun kata-kata yang mudah dipahami dan dimengerti.
4. Mengetahui jenis pidato dan tema acara.
5. Menyiapkan bahan-bahan dan perlengkapan pidato, dsb.
F. Kerangka Susunan Pidato. Skema susunan suatu pidato yang baik :
1. Pembukaan dengan salam pembuka
2. Pendahuluan yang sedikit menggambarkan isi
3. Isi atau materi pidato secara sistematis : maksud, tujuan, sasaran, rencana,
langkah, dll.
4. Penutup (kesimpulan, harapan, pesan, salam penutup, dll)
5.
G. Membacakan Teks Pidato
Banyak orang berpendapat bahwa berpidato dengan baik hanya dapat dilakukan oleh
orang yang mempunyai bakat berpidato. Pendapat itu tidak benar karena berpidato
termasuk jenis keterampilan yang dapat dilakukanoleh setiap orang yang
mempunyai minat ditambah dengan keinginan untuk belajar dan berlatih. Dengan
kata lain, belajar dan berlatih itulah yang menentukan, bukan bakat. Sebab,
bakat itu pengaruhnya kecil sekali.
Ada pakar yang mengatakan bahwa pengaruh bakat itu hanya 10%, sedangkan sisanya
90% murni hasil belajar dan berlatih. Berpidato dapat dilakukan dengan empat
macam cara, yaitu membaca teks atau naskah, menghafal, spontanitas, dan
menjabarkan kerangka topik.
Naskah pidato merupakan sebuah informasi yang telah disusun dengan sistematik
untuk disampaikan kepada khalayak. Pembacaannya harus memerhatikan hal-hal
berikut.
1. Volume suara harus keras dan jelas. Volume suara harus dapat didengaroleh
seluruh khalayak sehingga pendengar dapat menangkap dan memahami informasi yang
disampaikan. Apalagi jika tidak menggunakan sarana pendukung seperti pengeras
suara.
2. Gunakan intonasi dengan baik dan benar. Membaca naskah pidato harus
memerhatikan intonasi dengan baik dan benar (tidak monoton). Berilah tekanan
pada kalimat-kalimat yang penting, misalnya kapan harus memberikan nada tinggi
dan nada melemah. Semuanya harus diatur agar pendengar tidak ikut terbawa
suasana acara pada saat itu.
3. Jaga komunikasi dengan pendengar. Jaga pandangan antara penglihatan Kamu
pada teks pidato dengan penglihatanmu kepada khalayak.
H. Berpidato Tanpa Teks
Penampilan seorang pembicara ketika sedang berpidato menjadi pusat perhatian
pendengar. Semua yang ada pada pembicara semuanya diperhatikan, mulai dari
pakaian, potongan rambut, sampai caranya berjalan menuju pdium. Bahkan cara
berdirinya pun tidak luput dari pengamatan pendengar.
Pandangan mata harus dilakukan secara merata menjangkau semua pendengar baik
yang di depan maupun yang di belakang, baik yang di sebelah kiri maupun yang di
sebelah kanan, pandangan yang merata itu sebaiknya harus disertai dengan senyum
ceria yang ikhlas. Gunanya adalah agar semua pendengar merasa diajak bicara.
Agar kegiatan pidato yang dilakukan menarik hati dan perhatian pendengar,
seorang pembicara harus mampu memilih metode pidato yang baik. Pada pelajaran
semester 1, kamu telah berlatih berpidato dengan menggunakan naskah.
Berpidato tanpa teks dapat dilakukan melalui dua cara, yakni dengan menghafal
naskah pidato (memoriter) terlebih dahulu atau hanya menuliskan topik-topik
pokoknya yang dijabarkan dalam kerangka (ekstemporan). Berpidato dengan cara
menghafal hanya bisa dilakukan kalau naskahnya pendek. Hal ini dapat dipahami
karena kemampuan manusia untuk menghafalkan naskah sangat terbatas.
Berpidato dengan menghafalkan naskah sebenarnya bertentangan dengan kebiasaan
sehari-hari.oleh karena itu, bila sudah sangat terpaksa, berpidato dengan cara
menghafalkan naskah harus kita hindari. Lebih baik naskah pidato kita baca
berulang-ulang saja (tidak perlu dihafalkan). Artinya, kalimat-kalimatnya tidak
perlu sama dengan naskah tetapi isinya sama. Pidato jenis ini yaitu dengan cara
menuliskan pesan pidato kemudian diingat kata demi kata. Seperti manuskrip,
memriter memungkinkan ungkapan yang tepat, rganisasi berencana, pemilihan
bahasa yang teliti, gerak dan isyarat yang diintegrasikan dengan uraian. Tetapi
karena pesan sudah tepat, maka tidak terjalin saling hubungan antara pesan
dengan pendengar, kurang langsung, memerlukan banyak waktu dalam persiapan,
kurang spontan, perhatian beralih dari kata-kata kepada usaha mengingat-ingat.
Bahaya besar timbul bila satu kata atau lebih hilang dari ingatan.Teknik
menghafal (memoriter) mempunyai keunggulan dan kelemahan.
Keunggulannya antara lain:
1. lancar kalau benar-benar hafal;
2. tidak ada yang salah kalau benar-benar hafal; dan
3. mata pembicara dapat memandang pendengar.
Kelemahan teknik menghafal antara lain:
1. pembicara cenderung berbicara cepat tanpa penghayatan;
2. tidak dapat menyesuaikan dengan situasi dan reaksi pendengar; dan
3. kalau lupa, pidatonya gagal total.
Teknik lain yang dapat digunakan adalah dengan cara membuat catatan garis besar
pidato dan menjabarkannya ke dalam kerangka (ekstemporan). Berpidato dengan
cara ini sangat dianjurkan karena sifatnya sangat fleksibel. Pembicara
dituntunoleh kerangka yang dibuatnya. Kerangka itu dikembangkan secara langsung
dan dilihat saat diperlukan saja. Pembicara juga bebas menyesuaikan dengan
reaksi dan situasi pendengar. Kalau kerangka pidato yang dibuat sudah dapat
diingat pembicara dapat tampil tanpa membawa secarik kertas. Hal ini tentu
lebih baik lagi, karena pembicara lebih konsentrasi meningkatkan kualitas
pidatonya agar lebih menarik.
Pidato dengan teknik ekstemporan mempunyai keunggulan dan
kelemahan.
Keunggulannya antara lain:
1. pokok-pokok isi pidato tak ada yang terlupakan;
2. penyampaian isi pidato runtut;
3. kemungkinan salah dan lupa kecil; dan
4. interaksi dengan pendengar sangat komunikaif.
Kelemahannya antara lain:
1. tangan cenderung kurang bebas bergerak karena memegang kertas jika tidak
hafal;
2. terkesan kurang siap karena sering melihat catatan jika tidak hafal;
3. pemakaian bahasa kurang baik.
Setiap teknik berpidato mempunyai
kelebihan dan kekurangan. Untuk itu, setiap orang mungkin berbeda pilihannya
dengan yang lain karena sangat bergantung pada kesiapan dan kemahiran dalam
mempraktikkannya. Untuk meningkatkan keterampilan berpidato tanpa teks, pada
pelajaran ini kamu akan berlatih dengan menggunakan teknik ekstemporan yakni
hanya menuliskan garis besar pembicaraan. Perhatikan langkah-langkah berikut.
1. Menentukan Tema. Tentukanlah tema pembicaraan yang akan kamu sampaikan dalam
pidato. Tema yang dipilih merupakan masalah yang aktual dan faktual serta mampu
menarik perhatian peserta pidato.
2. Mencatat Pokok-pokok Pidato. Catatlah pokok-pokok pembicaraan yang akan
disampaikan dalam pidato secara runtut, utuh, dan jelas.
3. Menyampaikan Pidato. Sekarang pikirkanlah bagaimana kamu akan menyampaikan
pidato! Pikirkan bagaimana kamu akan membuka pembicaraan saat pidato,
menyampaikan pidato, dan menutup pembicaraan dalam pidato! Penyampaian pidato
hendaknya sistematis serta menggunakan bahasa yang baik dan komunikaif.
Ada beberapa cara yang dapat
dipilih untuk membuka pidato, menyampaikan isi pidato, dan menutup pembicaraan
dalam pidato. Perhatikan uraian berikut ini!
1. Cara membuka pidato
Pembukaan pidato diucapkan setelah pembicara menyampaikan salam dan sapaan
kepada pendengar. Yang dilakukan pembicara adalah mengucapkan salam dan menyapa
pendengar dengan sapaan yang tulus, ramah, dan bersahabat. Sapaan yang lazim
digunakan antara lain: Bapak dan Ibu yang saya hormati, Saudara-saudara yang
saya banggakan atau sapaan-sapaan lainnya. Jumlah yang disapa jangan terlalu
banyak. Satu,dua, atau tiga sudah cukup. Kalau terlalu banyak, bisa menimbulkan
kebsanan. Apalagi kalau pembicara tampil berpidato pada giliran terakhir,
sedangkan pembicara-pembicara sebelumnya sudah menyebutkan sapaan-sapaan yang
sama.
Dalam setiap komunikasioperanan pembuka sangat penting. Lancar tidaknya
komunikasi banyak ditentukanoleh pembuka. Demikian pula dalam berpidato.
Pembuka pidato yang jelek dapat menimbulkan kesan permusuhan yang menghambat
kelancaran komunikasi. Sebaliknya, pembuka yang menyenangkan inilah yang
mendukung kelancaran berpidato sehingga tujuan pidato mudah dicapai.
Terdapat beberapa kiat membuka pidato, diantaranya dengan menyampaikan hal-hal
berikut.
a Mengucapkan rasa syukur
b Menceritakan pengalaman
c Menebar humor
d Memperkenalkan diri
e Menyampaikan gambaran umum
f Menyebutkan fakta pendengar
g Menyebutkan contoh nyata
h Menyampaikan kutipan
i Melibatkan peserta
j Menunjukan benda peraga
2. Cara menguraikan isi pidato
Pembicara dapat menyampaikan isi pidatonya dengan memerhatikan hal-hal berikut.
a Tujuan pidato, apakah tujuannya untuk memberitahukan, menghibur, atau mengajak.
b Suasana dan situasi pidato, resmi atau tidak resmi.
c Pendekatan yang digunakan, apakah menggunakan pendekatan intelektual, mral,
atau emsinal. Jika menggunakan pendekatan intelektual, pembicara harus
mengutamakan penalaran.
Berbagai alasan, bukti, dan contoh sangat diperlukan dalam menguraikan isi
pidato. Jika menggunakan pendekatan mral, pembicara lebih mengutamakan masalah
mral dan keagamaan. Jika menggunakan pendekatan emsinal, pembicara harus lebih
mengutamakan emsi dapat menyentuh masalah semangatnya, kebutuhannya,
lingkungannya, keramahannya, atau yang lainya, mereka mudah terhanyut dan mudah
meNoerima isi pidato.
Berdasarkan uraian di atas, pembicara sangat bijaksana kalau melihat,
mengamati, dan menganalisis tujuan, situasi, dan pendekatan yang akan digunakan
sebelum berpidato.
3. Cara menutup pidato
Ada tiga kesalahan besar yang sering dilakukan pembicara dalam menutup pidato.
Pertama, pembicara tidak tahu persis di mana harus berhenti. Kedua, ada
pembicara yang sebenarnya ingin mengakhiri pidatonya, tetapi sulit berhenti
deperti kendaraan tanpa rem. Ia berbicara apa saja, berputar-putar tak menentu.
Ketiga, kesalahan yang paling besar seakan tak beromanfaat, pembicara menutup
pidato dengan mengucapkan kalimat seperti berikut:
”Demikianlah yang bisa saya katakan pada kesempatan ini. Karena apa yang akan
saya katakan sudah saya katakan semuanya, maka saya tidak akan memperpanjang
lagi pidato saya. Karena itu saya akhiri sekian”.Penutupan pidato seperti itu
tidak bermakna apa-apa. Cara-cara menutup pidato berikut ini dapat dipilih
sesuai dengan kebutuhan atau situai dan kondisi.
a Menyingkat atau menyimpulkan.
b Memuji pendengar.
c Menyampaikan kalimat-kalimat lucu.
d Meminta pendengar untuk bertindak.
e Menyampaikan ungkapan terkenal.
f Melantunkan pantun.



13.57
LULUT ARA'S *BLOG
0 komentar:
Posting Komentar