Kayu
merupakan bahan produk alam, hutan. Kayu merupakan bahan bangunan yang
banyak disukai orang atas pertimbangan tampilan maupun kekuatan. Dari
aspek kekuatan, kayu cukup kuat dan kaku walaupun bahan kayu tidak sepadat
bahan baja atau beton. Kayu mudah dikerjakan – disambung dengan alat relatif
sederhana. Bahan kayu merupakan bahan yang dapat didaur ulang. Karena dari
bahan alami, kayu merupakan bahan bangunan ramah lingkungan.
Karena
berasal dari alam kita tak dapat mengontrol kualitas bahan kayu. Sering kita
jumpai cacat produk kayu gergajian baik yang disebabkan proses tumbuh
maupun kesalahan akibat olah dari produk kayu. Dibanding dengan bahan
beton dan baja, kayu memiliki kekurangan terkait dengan ketahanan-keawetan.
Kayu dapat membusuk karena jamur dan kandungan air yang berlebihan, lapuk
karena serangan hama dan kayu lebih mudah terbakar jika tersulut api.
Kayu merupakan bahan
yang dapat menyerap air disekitarnya (hygroscopic), dan dapat mengembang dan
menyusut sesuai kandungan air tersebut. Karenanya, kadar air kayu merupakan
salah satu syarat kualitas produk kayu gergajian. Jika dimaksudkan menerima
beban, kayu memiliki karakter kekuatan yang berbeda dari bahan baja maupun
beton terkait dengan arah beban dan pengaruh kimiawi. Karena struktur serat
kayu memiliki nilai kekuatan yang berbeda saat menerima beban. Kayu memiliki
kekuatan lebih besar saat menerima gaya sejajar dengan serat kayu dan lemah
saat menerima beban tegak lurus arah serat kayu. Ilustrasi kekuatan serat kayu
dalam menerima beban dapat ditunjukkan pada Gambar 8.1.
Produksi kayu gergajian
(lumber), batang kayu segi empat panjang (balok) yang dipakai untuk konstruksi
dimulai dari penebangan pohon di hutan alam dan hutan tanaman industri. Kayu
gelondongan (log) hasil tebang diangkut ke pabrik penggergajian. Untuk
menghasilkan produk kayu gergajian yang baik dan efisien terdapat teknologi
penggergajian yang harus diketahui dalam kaitannya dengan penyusutan kayu saat
pengeringan. Terdapat 3 metoda penggergajian, lurus (plain sawing), perempat
bagian (quarter sawing) dan penggergajian tipikal (typical sawing).
Sesuai
proses pertumbuhan kayu, kayu bagian dalam merupakan kayu yang lebih dulu
terbentuk dari kayu bagian luar. Karenanya kayu bagian dalam mengalami susut
lebih kecil dari kayu luar. Tanpa memperhitungkan susut tersebut, hasil
gergajian akan menghasilkan bentuk kurang berkualitas.
Kayu baru tebang
memiliki kadar air yang tinggi, 200% - 300%. Setelah ditebang kandungan air
tersebut berangsur berkurang karena menguap. Mulanya air bebas atau air di luar
serat (free water) yang menguap. Penguapan ini masih menyisakan 25% - 35%
kandungan air. Selanjutnya penguapan air dalam serat (bound water). Kayu dapat
di keringkan melalui udara alam bebas selama beberapa bulan atau dengan menggunakan
dapur pengering (kiln). Kayu dapat dikeringkan ke kadar sesuai permintaan.
Kadar air kayu untuk kuda - kuda biasanya harus kurang dari atau sama dengan 19
persen. Kadang diminta kadar air kayu hingga 15% (MC 15). Namun karena kayu
bersifat higroskopis, pengaruh kelembaban udara sekitar kayu akan mempengaruhi
kadar air kayu yang akan mempengaruhi kembang susut kayu dan kekuatannya.
Proses
ideal olah produk kayu selanjutnya adalah pengawetan. Pengawetan dapat
dilakukan dengan cara merendam atau mencuci dengan maksud membersihkan zat
makanan dalam kayu agar tidak diserang hama. Sedangkan cara lain adalah dengan
pemberian bahan kimia melalui perendaman dan cara coating atau pengecatan.
Pada sebuah batang kayu,
terdapat ketidak teraturan struktur serat yang disebabkan karakter tumbuh kayu
atau kesalahan proses produksi. Ketidak teraturan atau cacat yang umum adalah
mata kayu, yang merupakan sambungan cabang pada batang utama kayu. Mata kayu
ini kadang berbentuk lubang karena cabang tersambung busuk atau lapuk atau
diserang hama atau serangga. Cacat ini sudah tentu mengurangi kekuatan kayu
dalam menerima beban konstruksi.
Cacat akibat proses
produksi umumnya disebabkan oleh kesalahan penggergajian dan proses pengeringan
penyusutan. Cacat ini dapat berupa retak, crooking, bowing, twisting (baling),
cupping dan wane (tepian batang bulat) karena penggergajian yang terlalu dekat
dengan lingkaran luar kayu.
Saat
ini produk kayu sangat beragam. Produk kayu solid/asli umumnya berupa kayu
gergajian baik berupa balok maupun papan. Sedangkan produk kayu buatan dapat
merupa vinir (veneer), papan lapis, triplek/plywood/multiplek dan bahkan kayu
laminasi (glue laminated timber).
Secara
singkat peraturan ini dimaksudkan untuk memberikan acuan baku terkait dengan
aturan umum, aturan pemeriksaan dan mutu, aturan perhitungan, sambungan dan
alat sambung konstruksi kayu hingga tahap pendirian bangunan dan
persyaratannya. Pada buku tersebut juga telah dicantumkan jenis dan nama kayu
Indonesia, indeks sifat kayu dan klasifikasinya, kekuatan dan keawetannya.
Penggolongan
kayu dapat ditinjau dari aspek fisik, mekanik dan keawetan. Secara fisik
terdapat klasifikasi kayu lunak dan kayu keras. Kayu keras biasanya memiliki
berat satuan (berat jenis) lebih tinggi dari kayu lunak. Klasifikasi fisik lain
adalah terkait dengan kelurusan dan mutu muka kayu. Terdapat mutu kayu di
perdagangan A, B dan C yang merupakan penggolongan kayu secara visual terkait
dengan kualitas muka (cacat atau tidak) arah - pola serat dan kelurusan batang.
Kadang klasifikasi ini menerangkan kadar air dari produk kayu.
§ Kayu mutu kering udara
1.
Besar mata kayu maksimum
1/6 lebar kecil tampang / 3,5 cm
2.
Tak boleh mengandung
kayu gubal lebih dari 1/10 tinggi balok
3.
Miring arah serat
maksimum adalah 1/7
4.
Retak arah radial
maksimum 1/3 tebal dan arah lingkaran tumbuh 1/4 tebal kayu
§ Kayu mutu kering udara 15% - 30%
1.
Besar mata kayu maksimum
1/4 lebar kecil tampang / 5 cm
2.
Tak boleh mengandung
kayu gubal lebih dari 1/10 tinggi balok
3.
Miring arah serat
maksimum adalah 1/10
4.
Retak arah radial
maksimum ¼ tebal dan arah lingkaran tumbuh 1/5 tebal kayu
§ Konsekuensi dari kelas visual B harus memperhitungkan reduksi
kekuatan dari mutu A dengan faktor pengali sebesar 0.75 (PKKI, 1961, pasal 5)
Sebagaimana di kemukakan
pada sifat umum kayu, kayu akan lebih kuat jika menerima beban sejajar dengan
arah serat dari pada menerima beban tegak lurus serat. Ini karena struktur
serat kayu yang berlubang. Semakin rapat serat, kayu umumnya memiliki kekuatan
yang lebih dari kayu dengan serat tidak rapat. Kerapatan ini umumnya ditandai
dengan berat kayu persatuan volume / berat jenis kayu. Ilustrasi arah kekuatan
kayu dapat ditunjukkan pada Gambar 8.7. dan Gambar 8.8.
Angka kekuatan kayu
dinyatakan dapan besaran tegangan, gaya yang dapat diterima per satuan luas.
Terhadap arah serat, terdapat kekuatan kayu sejajar (//) serat dan kekuatan
kayu tegak lurus (⊥) serat yang masing - masing memilki besaran
yang berbeda. Terdapat pula dua macam besaran tegangan kayu, tegangan
absolute / uji lab dan tegangan ijin untuk perancangan konstruksi. Tegangan
ijin tersebut telah memperhitungkan angka keamanan sebesar 5 - 10. Dalam buku
Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI - NI - 5) tahun 1961, kayu di
Indonesia diklasifikasikan ke dalam kelas kuat I (yang paling kuat), II, III,
IV (paling lemah). Tabel 8.1, menunjukkan kelas berat jenis kayu dan besaran
kuat kayu.
Berdasarkan pemakaian,
kondisinya dan perlakuannya, kayu dibedakan atas kelas awet I (yang paling
awet) – V (yang paling tidak awet). Kondisi kayu dimaksud adalah
lingkungan/tempat kayu digunakan sebagai batang struktur. Sedangkan
perlakuan meliputi pelapisan/tindakan lain agar kayu terhindar/terlindungi
dari kadar air dan ancaman serangga. Tabel kelas awet dan kondisinya dapat
dikemukakan dalam Tabel 8.2.
Hampir semua sistem
struktur yang menggunakan kayu sebagai material dasar dapat dikelompokkan
ke dalam elemen linear yang membentang dua arah. Susunan hirarki sistem
struktur ini adalah khusus.
RANGKA RINGAN.
Sistem struktur joists
ringan pada Gambar 8.9(a) adalah konstruksi kayu yang paling banyak
digunakan pada saat ini. Sistem joists lanta terutama sangat berguna untuk
beban hidup ringan yang terdistribusi merata dan untuk bentang yang tidak
besar. Kondisi demikian umumnya dijumpai pada konstruksi rumah. Joists
pada umumnya menggunakan tumpuan sederhana karena untuk membuat tumpuan
vang dapat menahan momen diperlukan konstruksi khusus. Pada umumnya,
lantai dianggap tidak monolit dengan joists kecuali apabila digunakan
konstruksi khusus yang menyatukannya.
Sistem tumpuan vertikal
yang umum digunakan adalah dinding pemikul beban yang dapat terbuat dari
bata atau dari susunan elemen kayu (plywood). Dalam hal yang terakhir ini,
tahanan lateral pada susunan struktur secara keseluruhan terhadap beban
horizontal diperoleh dengan menyusun dinding berlapisan plywood yang
berfungsi sebagai bidangbidang geser. Struktur demikian pada umumnya
dibatasi hanya sampai tiga atau empat lantai. Pembatasan ini tidak hanya
karena alasan kapasitas pikul bebannya, tetapi juga karena persyaratan
keamanan terhadap kebakaran yang umum diberikan pada peraturan-peraturan
mengenai gedung. Karena setiap elemen pada sistem struktur ini diletakkan
di tempatnya secara individual, maka banvak fleksibilitas dalam
penggunaan sistem tersebut, termasuk juga dalam merencanakan hubungan di
antara elemen-elemennya.
ELEMEN KULIT BERTEGANGAN
(STRESSED SKIN ELEMENTS).
Elemen kulit bertegangan
tentu saja berkaitan dengan sistem joists standar [lihat Gambar 8.9(b)].
Pada elemen-elemen ini, kayu lapis disatukan dengan balok memanjang
sehingga sistem ini dapat. berlaku secara integral dalam molekul lentur.
Dengan demikian, sistem yang diperoleh akan bersifat sebagai plat.
Kekakuan sistem ini juga
meningkat karena adanya penyatuan tersebut. Dengan demikian, tinggi
struktural akan lebih kecil dibandingkan dengan sistem joist standar.
Elemen kulit bertegangan ini pada umumnya dibuat tidak di lokasi, dan
dibawa ke lokasi sebagai modul-modul. Kegunaannya akan semakin meningkat
apabila modul-modul ini dapat dipakai secara berulang. Elemen demikian
dapat digunakan pada berbagai struktur, termasuk juga sistem plat lipat
berbentang besar.
BALOK BOKS.
Perilaku yang diberikan
oleh kotak balok dari kayu lapis [lihat Gambar 8.9(c)] memungkinkan
penggunaannya untuk berbagai ukuran bentang dan kondisi pembebanan. Sistem
yang demikian sangat berguna pada situasi bentang besar atau apabila ada
kondisi beban yang khusus. Balok boks dapat secara efisien mempunyai
bentang lebih besar daripada balok homogen maupun balok
berlapis. KONSTRUKSI KAYU BERAT Sebelum sistem joists ringan banyak
digunakan, sistem balok kayu berat dengan papan transversal telah banyak
digunakan [lihat Gambar 8.9(e)]. Balok kayu berlapisan sekarang banyak
digunakan sebagai alternatif dari balok homogen. Sistem demikian dapat
mempunyai kapasitas pikul beban dan bentang lebih besar daripada sistem
joist. Sebagai contoh, dengan balok berlapisan, bentang yang relatif besar
adalah mungkin karena tinggi elemen struktur dapat dengan mudah kita
peroleh dengan menambah lapisan. Elemen demikian umumnya bertumpuan
sederhana, tetapi kita dapat juga memperoleh, tumpuan yang mampu memikul
momen dengan menggunakan konstruksi khusus.
RANGKA BATANG
Rangka batang kayu
merupakan sistem berbentang satu arah yang paling banyak digunakan karena
dapat dengan mudah menggunakan banyak variasi dalam konfigurasi dan ukuran
batang. Rangka batang dapat dibuat tidak secara besar-besaran, tetapi
dapat dibuat secara khusus untuk kondisi beban dan bentang tertentu.
Sekalipun demikian, kita juga. membuat rangka batang secara besar-besaran
(mass production). Rangka batang demikian umumnya digunakan pada situasi
bentang tidak besar dan beban ringan. Rangka batang tnissed rafter pada
Gambar 8.9(g) misalnya, banyak digunakan sebagai konstruksi atap pada
bangunan rumah. Sistem yang terlihat pada Gambar 8.9(b) analog dengan
balok baja web terbuka dan berguna untuk situasi bentang besar (khususnya
untuk atap). Sistem penumpu vertikal pada struktur ini umumnya berupa
dinding batu atau kolom kayu. Tahanan terhadap beban lateral pada struktur
ini umumnya diperoleh dengan menggunakan dinding tersebut sebagai
bidang geser. Apabila bukan dinding, melainkan kolom yang digunakan,
pengekang (bracing) dapat pula digunakan untuk meningkatkan kestabilan
struktur terhadap beban lateral. Peningkatan kestabilan dengan menggunakan
titik hubung kaku dapat saja digunakan untuk struktur rendah, tetapi hal
ini jarang dilakukan.
PLAT LIPAT DAN PANEL
PELENGKUNG
Banyak struktur plat
lengkung atau plat datar yang umumnya berupa elemen berbentang satu, yang
dapat dibuat dari kayu. Kebanyakan struktur tersebut menggunakan kayu
lapis. Gambar 8.9(j) dan (k) mengilustrasikan dua contoh struktur itu.
PELENGKUNG
Bentuk pelengkung
standar dapat dibuat dari kayu. Elemen berlapisan paling sering digunakan.
Hampir semua bentuk pelengkung dapat dibuat dengan menggunakan kayu.
Bentang yang relatif panjang dapat saja diperoleh. Struktur-struktur ini
umumnya berguna sebagai atap saja. Kebanyakan bersendi dua atau tiga, dan
tidak dijepit.
LAMELLA
Konstruksi lamella
merupakan suatu cara untuk membuat permukaan lengkung tunggal atau ganda
dari potongan-potongan kecil kayu [lihat Gambar 8.9(l)]. Konstruksi yang
menarik ini dapat digunakan untuk membuat permukaan silindris berbentang
besar, juga untuk struktur kubah. Sistem ini sangat banyak digunakan,
terutama pada struktur atap.
UKURAN ELEMEN
Gambar 8.10
mengilustrasikan kira-kira batas-batas bentang untuk berbagai jenis
struktur kayu. Bentang "maksimum" yang diperlihatkan
pada diagram ini bukanlah bentang maksimum yang mungkin, melainkan batas
bentang terbesar yang umum dijumpai. Batasan bentang minimum menunjukkan
bentang terkecil yang masih ekonomis. Juga diperlihatkan kira-kira
batas-batas tinggi untuk berbagai bentang setiap sistem. Angka yang kecil
menunjukkan tinggi minimum yang umum untuk sistem yang bersangkutan dan
angka lainnya menunjukkan tinggi maksimumnya. Tinggi sekitar L/20,
misalnya, mengandung arti bahwa elemen struktur yang bentangnya 16 ft (4,9
m) harus mempunyai tinggi sekitar 16 ft/20 = 0,8 ft (0,24 m).
Kolom kayu pada umumnya
mempunyai perbandingan tebal terhadap tinggi (t/h) bervariasi antara
1 : 25 untuk kolom yang dibebani tidak besar dan relatif pendek, atau
sekitar 1 : 10 untuk kolom yang dibebani besar pada gedung
bertingkat, Dinding yang dibuat dari elemen-elemen kayu mempunyai
perbandingan t/h bervariasi dari I : 30 sampai I : 15.
Paku merupakan alat
sambung yang umum dipakai dalam konstruksi maupun struktur kayu. Ini
karena alat sambung ini cukup mudah pemasangannya. Paku tersedia dalam
berbagai bentuk, dari paku polos hingga paku ulir. Spesifikasi produk paku
dapat dikenali dari panjang paku dan diameter paku. Ilustrasi produk paku
ditunjukkan pada Gambar 8.11.
terhadap karat dan noda.
Dengan begitu tampilan paku dapat dipertahankan. Namun adanya coating
tersebut menyebabkan kuat cabut paku berkurang karena kehalusan coating
tersebut.
Ujung Paku. Ujung paku
dengan bagian runcing yang relatif panjang umumnya memiliki kuat cabut
yang lebih besar. Namun ujung yang runcing bulat tersebut sering
menyebabkan pecahnya kayu terpaku. Ujung yang tumpul dapat mengurangi
pecah pada kayu, namun karena ujung tumpung tersebut merusak serat, maka
kuat cabut paku pun akan berkurang pula.
Kepala paku. Kepala paku
badap berbentuk datar bulat, oval maupun kepala benam (counter sunk)
umumnya cukup kuat menahan tarikan langsung. Besar kepala paku ini umumnya
sebanding dengan diameter paku. Paku kepala benam dimaksudkan untuk
dipasang masuk – terbenam dalam kayu.
Pembenaman Paku. Paku
yang dibenam dengan arah tegak lurus serat akan memiliki kuat cabut yang
lebih baik dari yang dibenam searah serat . Demikian halnya dengan
pengaruh kelembaban. Setelah dibenam dan mengalami perubahan kelembaban,
paku umumnya memiliki kuat cabut yang lebih besar dari pada dicabut
langsung setelah pembenaman. Jarak Pemasangan Paku. Jarak paku dengan
ujung kayu, jarak antar kayu, dan jarak paku terhadap tepi kayu harus
diselenggarakan untuk mencegah pecahnya kayu. Secara umum, paku tak
diperkenankan dipasang kurang dari setengah tebal kayu terhadap tepi kayu,
dan tak boleh kurang dari tebal kayu terhadap ujung. Namun untuk paku yang
lebih kecil dapat dipasang kurang dari jarak tersebut.
Kuat cabut paku
Gaya cabut maksimum yang
dapat ditahan oleh paku yang ditanam
tegak lurus terhadap
serat dapat dihitung dengan pendekatan rumus berikut.
P = 54.12 G5/2 DL
(Metric: kg)
P = 7.85 G5/2 DL
(British: pound) (8.1)
Dimana : P = Gaya
cabut paku maksimum
L = kedalaman paku dalam
kayu (mm, inc.)
G = Berat jenis kayu
pada kadar air 12 %
D = Diameter paku (mm,
inch.)
Kuat lateral paku
Pada batang struktur,
pemasangan paku umumnya dimaksudkan untuk menerima beban beban tegak
lurus/lateral terhadap panjang paku. Pemasangan alat sambung tersebut
dapat dijumpai pada struktur kuda-kuda papan kayu. Kuat lateral paku yang
dipasang tegak lurus serat dengan arah gaya lateral searah serat dapat
didekati dengan rumus berikut
P = K D2 (8.2)
Dimana: P = Beban
lateral per paku
D = Diameter paku
K = Koefisien yang
tergantung dari karakteristik jenis kayu.
b) Alat sambung sekerup
Sekrup hampir memiliki
fungsi sama dengan paku, tetapi karena memiliki ulir maka memiliki kuat
cabut yang lebih baik dari paku. Terdapat tiga bentuk pokok sekerup yaitu
sekerup kepala datar, sekerup kepala oval dan sekerup kepala bundar. Dari
tiga bentuk tersebut, sekerup kepala datarlah yang paling banyak ada di
pasaran. Sekerup kepala oval dan bundar dipasang untuk maksud tampilan–selera.
Bagian utama sekerup terdiri dari kepala, bagian benam, bagian ulir dan
inti ulir. Diameter inti ulir biasanya adalah 2/3 dari diameter benam.
Sekerup dapat dibuat dari baja, alloy, maupun kuningan diberi
lapisan/coating nikel, krom atau cadmium.
Ragam produk sekerup
dapat ditunjukkan pada Gambar 8.12 berikut.
Kuat Cabut Sekerup
Kuat cabut sekerup yang
dipasang tegak lurus terhadap arah serat (Gambar 8.13) dapat dihitung
dengan rumus sebagai berikut.
P = 108.25 G2 DL (Metric
unit: Kg, cm )
P = 15.70 G2 DL (British
unit: inch–pound)
Dimana:
P = Beban cabut sekerup
(N, Lb)
G = Berat jenis kayu
pada kondisi kadar air 12 % kering oven
D = Diameter sekerup
terbenam / shank diameter (mm, in.),
L = Panjang tanam
(mm,in.)
Kuat lateral sekerup
Kuat lateral sekerup
yang dipasang tegak lurus serat dengan arah gaya lateral searah serat dapat
didekati dengan rumus yang sama dengan kuat lateral paku (persamaan 8.2)
Sekerup Lag (Lag Screw)
Sekerup lag, seperti
sekerup namun memiliki ukuran yang lebih besar dan berkepala segi delapan
untuk engkol. Saat ini banyak dipakai karena kemudahan pemasangan pada
batang struktur kayu dibanding dengan sambungan baut–mur. Umumnya sekerup
lag ini berukuran diameter dari 5.1 – 25.4 mm (0.2 – 1.0 inch) dan panjang
dari 25.4 – 406 mm (1.0 – 16 inch).
Kuat Cabut Sekerup Lag.
Kuat cabut sekerup lag
dapat dihitung dengan formula sebagai berikut.
P = 125.4 G3/2 D3/4L
(Metric unit: Kg, cm )
P = 8,100 G3/2 D3/4L
(British unit: inch–pound) (8.4)
Dimana: P = Beban cabut
sekerup (N, Lb)
G = Berat jenis kayu
pada kondisi kadar air 12 % kering oven
D = Diameter sekerup
terbenam / shank diameter (mm, in.)
L = Panjang tanam
(mm,in.)
Kuat lateral sekerup lag
dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut.
P = c1 c2 K D2 (8.5)
Dimana: P= Beban lateral
per sekerup
D= Diameter sekerup
K= Koefisien yang
tergantung karakteristik jenis kayu
(lihat Tabel 8.4)
C1= Faktor pengali
akibat ketebalan batang apit tersambung
C2= Faktor pengali
akibat pembenamam sekrup lag
(lihat Tabel 8.6)
Walaupun sambungan ini
sebenarnya malah memperlemah kayu, namun karena kemudahannya, sambungan
ini banyak diterapkan pada konstruksi kayu sederhana di Indonesia utamanya
untuk rangka kuda-kuda atap. Kekuatan sambungan ini mengandalkan kekuatan
geseran dan atau kuat tekan / tarik kayu pada penyelenggaraan
sambungan. Kekuatan tarikan atau tekanan pada sambungan bibir lurus di
atas ditentukan oleh geseran dan kuat desak tampang sambungan gigi.
Dua kekuatan tersebut harus dipilih yang paling lemah untuk
persyaratan kekuatan struktur.
P geser = τ ijin a b
(8.6)
Dimana : τ ijin =
Kuat / tegangan geser ijin kayu tersambung
b = lebar kayu
a = panjang tampang
tergeser
P desak =
ijin b t (8.7)
Dimana :
ijin = Kuat / tegangan ijin desak kayu tersambung
b = lebar kayu
t = tebal tampang terdesak
Hampir sama dengan
sambungan gigi, sambungan baut tergantung desak baut pada kayu, geser baut
atau kayu. Desak baut sangat dipengaruhi oleh panjang kayu tersambung dan
panjang baut. Dengan panjangnya, maka terjadi lenturan baut yang
menyebabkan desakan batang baut pada kayu tidak merata. Berdasarkan NI-5
PKKI (1961) gaya per baut pada kelas kayu tersambung dapat dihitung rumus
sebagai berikut :
Kayu kelas I:
Sambungan tampang 1
untuk λb = bmin / d = 4.8
S = 50 d b1 (1 – 0.6 Sin
α)
S = 240 d2 (1 – 0.35 Sin
α)
Sambungan tampang 2
untuk λb = bmin / d = 3.8
S = 125 d b3 (1 – 0.6
Sin α)
S = 250 d b1 (1 – 0.6
Sin α)
S = 480 d2 (1 – 0.35 Sin
α)
Kayu kelas II:
Sambungan tampang 1
untuk λb = bmin / d = 5.4
S = 40 d b1 (1 – 0.6 Sin
α)
S = 215 d2 (1 – 0.35 Sin
α)
Sambungan tampang 2
untuk λb = bmin / d = 4.3
S = 100 d b3 (1 – 0.6
Sin α)
S = 200 d b1 (1 – 0.6
Sin α)
S = 430 d2 (1 – 0.35 Sin
α)
Kayu kelas III:
Sambungan tampang 1
untuk λb = bmin / d = 6.8
S = 25 d b1 (1 – 0.6 Sin
α)
S = 170 d2 (1 – 0.35 Sin
α)
Sambungan tampang 2
untuk λb = bmin / d = 5.7
S = 60 d b3 (1 – 0.6 Sin
α)
S = 120 d b1 (1 – 0.6
Sin α)
S = 340 d2 (1 – 0.35 Sin
α)
Dimana : S =
Kekuatan per baut dalam kg
α = Sudut arah gaya
terhadap arah serat
b1 = Tebal kayu tepi
(cm)
b3 = Tebal tengah (cm)
d = Diameter baut (cm)
Masing kelas kayu
tersebut di ambil harga terkecil untuk mendapat jumlah baut dalam satu
sambungan. Untuk pemasangan baut, disyaratkan pula jarak antar baut dalam
satu sambungan. Dengan memperhatikan sketsa ilustrasi sambungan seperti
Gambar 8.17, ketentuan jarak baut utama yang sering digunakan dapat dikemukakan
sebagai berikut. Ilustrasi secara lengkap diterakan dalam PKKI – NI (1961)
• Jarak antar baut
searah gaya dan serat = 5 φ baut
• Jarak antar baut tegak
lurus gaya dan serat = 3 φ baut
• Jarak baut denga tepi
kayu tegak lurus gaya dan serat = 2 φ baut
• Jarak baut dengan
ujung kayu searah gaya dan serat = 5 φ baut
• Jarak antar baut
searah gaya – tegak lurus serat = 3 φ baut
Produk alat sambung ini
merupakan alat sambung yang memiliki perilaku lebih baik dibanding alat sambung
baut. Namun karena pemasangannya agak rumit dan memerlukan peralatan
mesin, alat sambung ini jarang diselenggarakan di Indonesia. Produk
sambung ini terdiri dari cincin dan dirangkai dengan baut.
Dalam penyambungan, alat
ini mengandalkan kuat desak kayu ke arah sejajar maupun arah tegak lurus
serat. Seperti halnya alat sambung baut, jenis kayu yang disambung akan
memberikan kekuatan yang berbeda. Produk alat sambung ini memiliki sifat
lebih baik dari pada sambungan baut maupun paku. Ini karena alat sambung
ini mendistribusikan gaya baik tekan maupun tarik menjadi gaya desak
kayu yang lebih merata dinading alat sambung baut dan alat sambung paku.
Jumlah alat sambung yang
dibutuhkan dalam satu sambungan dapat dihitung dengan membagi kekuatan
satu alat sambung pada jenis kayu tertentu. Tabel 8.7 menampilkan besaran
kekuatan per alat sambung terendah untuk pendekatan perhitungan.
Alat sambung ini sering
disebut sebagai alat sambung rangka batang (truss). Alat sambung ini
menjadi populer untuk maksud menyambung struktur batang pada rangka
batang, rangka usuk (rafter) atau sambungan batang struktur berupa papan
kayu. Plat sambung umumnya berupa plat baja ringan yang digalvanis untuk
menahan karat, dengan lebar/luasan tertentu sehingga dapat menahan beban
pada kayu tersambung.
Prinsip alat sambungan
ini memindahkan beban melalui gerigi, tonjolan (plug) dan paku yang ada
pada plat. Jenis produk ini ditunjukkan pada Gambar 8.21. Untuk pemasangan
plat, menanam gerigi dalam kayu tersambung, memerlukan alat penekan
hidrolis atau penekan lain yang menghasilkan gaya besar.
setempat atau pondasi
dinding menerus dari bahan pasangan batu atau beton. Pemasangan kolom
kayu selain memerlukan jangkar (anchor) ke pondasi
diperlukan penyekat
resapan dari tanah, baik berupa beton kedap atau pelat baja agar kayu
terhindar dari penyebab lapuk/busuk. Jika dipasang plat kaki keliling,
harus terdapat lubang pengering, untuk menjaga adanya air tertangkap pada
kaki kolom tersebut. Terlebih jika kolom tersebut berada diluar bangunan
yang dapat terekspose dengan hujan dan/atau kelembaban yang berlebihan.
Kaki kolom sederhana dengan penahan hanya di dua sisi seperti pada Gambar
8.23 sangat disarankan untuk memungkinkan adanya drainase pada kaki kolom.
Kolom kayu dapat berupa
kolom tunggal, kolom gabungan dan kolom dari produk kayu laminasi seperti
ditunjukkan pada Gambar 8.24. Kolom gabungan dapat disusun dari dua batang
kayu atau berupa papan yang membentuk bangun persegi. Bentuk lain adalah
berupa kolom dari kayu laminasi. Kayu Laminasi merupakan kayu buatan yang
tersusun dan direkatkan dari kayu tipis.
Batang struktur kolom
dapat menerima beban dari balok, balok loteng, maupun beban rangka atap.
Untuk dapat menahan beban di atasnya dan terhindar dari tekuk sangat
disarankan dan sebisa mungkin menghindari pengurangan tampang efektif
kolom. Sambungan gigi umumnya mengurangi tampang efektif kolom
yang relatif besar sehingga tidak disarankan penggunaannya. Penggunaan
klos sambung mungkin akan cukup baik, namun akan menjadi mahal karena
menambah volume kayu yang
tidak sedikit. Penyelenggaraan sambungan yang mendekati ideal dapat
menggunakan pelat sambung seperti yang ditunjukkan pada Gambar 8.25.
Dengan penggunaaan alat sambung kolom dengan balok tersebut, pengurangan
tampang kolom yang terjadi hanya akibat lubang baut.
Pada bangunan gedung,
struktur balok dapat berupa balok loteng balok atap, maupun gording.
Struktur balok kayu dapat berupa kayu solid gergajian, kayu laminasi, atau
bentuk kayu buatan lainnya. Untuk penyambungan, batang balok dengan balok
perlu menghindari sambungan yang menerima momen yang relatif besar.
Karenanya sambungan balok umumnya dilakukan tepat di atas struktur dudukan
atau mendekati titik dudukan. Dengan begitu momen yang terjadi pada
sambungan relatif kecil.
Balok sering dibebani
penggantung plafon atau komponen konstruksi lain di bawahnya. Agar
pembebanan tersebut tidak merusak struktur, pengantung dipasang di atas
separoh tinggi balok untuk menghindari sobek batang balok akibat
pembebanan tersebut. Penyelenggaraan beugel untuk penggantung sangat
disarankan untuk maksud tersebut.
Pada dudukan dan
sambungan antar balok secara tegak lurus, hindarkan pengurangan tampang,
sehingga bahaya sobek pada balok kayu tidak terjadi. Gambar 8.30 merupakan
contoh sambungan antara balok, balok anak lantai disambungkan pada balok
utama/induk dari kayu laminasi. Penyambung pada balok diletakkan di bagian
atas untuk menghindari sobek
Kayu merupakan bahan
yang higroskopis, mudah mengembang atau menyusut oleh kadar air. Pada
pembuatan sambungan dengan bahan lain, misal plat baja, hindarkan sobek
batang struktur akibat sifat kembang dan susut kayu. Hal ini karena angka
muai baja dan kayu saling berkebalikan. Salah satu cara menghindari sobek
akibat kembang dan susut kayu adalah dengan cara memisah/memecah plat baja
seperti yang ditunjukkan Gambar 8.31. Cara lain adalah dengan membiarkan
tampang bagian atas tidak terkekang, yakni dengan menggunakan plat sadel
seperti Gambar 8.32.
Struktur rangka batang
kayu umum digunakan pada bangunan rumah tinggal, perkantoran, bangunan
pertokoan, hingga jembatan. Rangka batang merupakan struktur rangka yang
disusun batang membentuk bangun segitiga dengan simpul / titik sambung,
dapat menerima beban struktur. Dengan susunan tersebut diperolehlah
struktur yang relatif ringan dan kuat pada bentangan yang lebih
panjang. Pemakaian rangka batang untuk struktur kayu
memungkinkan terbentuknya ruang terbuka yang luas dan partisi/penyekat
ruang dapat dirubah tanpa harus mempertimbangkan integritas struktural
dari bangunan. Alasan penyelenggaaran rangka batang antara lain:
(1) Sangat
bervariasibentuknya,
(2) Dapat menampilkan
keindahan khusus,
(3) dapat
melayani bentang relatif panjang,
(4) memungkinkan
kemudahan penyelenggaraan sistem instalasi layanan bangunan, misal
listrik, plumbing, maupun langitlangit,
(5) kompatibel terhadap
elemen struktur lain, misal beton, pasangan maupun baja.
Disamping digunakan
penyambung tradisional, sambungan gigi, paku maupun baut, penyambung plat
fabrikasi telah banyak pula digunakan, lebih-lebih untuk rangka batang
fabrikasi. Produk alat sambung terakhir merupakan alat sambung yang dapat
memberikan konsistensi hasil sambungan baik kekuatan dan kemudahan penyelenggaraan
secara masal. Penyambung plat ini mengandalkan gigi dan tonjolan pada plat
untuk memindahkan gaya dari dan ke batang kayu yang disambung.
Gambar
8.35 merupakan contoh penggunaan plat sambung pada struktur rangka
batang kayu.
Rangka batang kayu lemah
secara lateral, sehingga sangat mungkin mengalami deformasi secara lateral
yang merusak sambungan pada saat mobilisasi dan atau saat ereksi
konstruksi. Karenanya tata cara penyimpanan, mobilisasi hingga ereksi
sangat memegang peranan penting agar plat sambung tersebut berfungsi baik
sebagai elemen penyambung struktur rangka batang kayu. Untuk penyimpanan
maupun penempatan, rangka batang kayu seharusnya diletakkan secara rata
dengan ganjal atau dengan cara berdiri dan dilengkapi dengan penyokong
(Gambar 8.36).
Di negara maju, rangka
batang kayu yang dibuat di pabrik telah dilengkapi dengan fasilitas
penggantung dilengkapi dengan petunjuk untuk mengangkat baik saat
mobilisasi maupun saat ereksi konstruksi. Terdapat beberapa cara, antara
lain: sudut tali pengangkat < 60 derajat, gunakan batang pembentang,
pengaku rangka untuk panjang rangka lebih dari 18 meter. Cara pengangkatan
struktur rangka ditunjukkan pada Gambar 8.37 berikut:
Sebelum abad 20, kayu
menjadi bahan bangunan utama bahkan sebagai bahan struktur jalan kereta
dan jembatan. Jembatan terdiri dari struktur bawah dan struktur atas.
Struktur bawah terdiri dari abutment, tiang dan struktur lain untuk
menyangga struktur atas yang terdiri dari balok jembatan dan lantai
jembatan.
Bentuk penyusun struktur
dapat berupa kayu gelondong/log, kayu gergajian, hingga kayu laminasi atau
kayu buatan lainnya. Hingga produk glulam tersebar, ketersediaan ukuran
kayu menjadi kendala penyelenggaraan kayu untuk jembatam. Kalaupun ada,
jembatan kayu merupakan jembatan sementara dengan umur pakai dibawah 10
tahun.
Struktur kayu laminasi
telah membantu kapabilitas bentangan struktur yang diperlukan untuk
jembatan. Gelegar laminasi ukuran 0.60 m x 1.80 m mampu mendukung suatu
sistem deck laminasi hingga bentangan 12 m – 30 m bahkan lebih. Balok
laminasi dapat membentuk suatu deck/ lantai jembatan yang solid dan jika
dirangkai dengan batang tarik pengekang dapat membentuk suatu deck
laminasi bertegangan tarik. Kayu laminasi lengkung dapat dipakai untuk
memproduksi beragam jembatan yang indah.
Struktur pelengkung kayu
telah banyak diselenggarakan untuk mendapatkan ruang cukup lapang pada
bangunan tempat ibadah, bangunan rekreasi hingga hanggar terlebih
saat teknologi kayu laminasi/glulam ditemukan. Struktur ini disusun
dari struktur tarikan di bagian bawah dan struktur tekan di bagian
pelengkung atas. Struktur bagian bawah bisa berbentuk lengkung atau lurus.
Jika lurus maka atap bangunan akan membentuk seperti payung. Sedangkan
jika bagian bawah lengkung simetris dan berpusat pada satu pusat, maka
atap dome akan menyerupai bola.



09.48
LULUT ARA'S *BLOG
0 komentar:
Posting Komentar