Ada
Apa Setelah Ramadhan?
Ada kenaikan tarif listrik dan
BBM? Akan terjadi perang antara Indonesia dan Malaysia? Atau presiden SBY akan
lengser dari jabatannya karena banyaknya tekanan dan kritikan? Bukan, bukan
itu. Saya tidak akan membahas masalah yang berbau politik di tulisan ini. Yang
akan saya angkat di tulisan ini adalah amalan apa yang berpahala besar dan bisa
meningkatkan ketakwaan setelah Ramadhan.
Tulisan ini mungkin ‘kurang
cocok’ bagi mereka yang menghidupkan Ramadhan dengan berpuasa di siang harinya
dan menghidupkan malam harinya dengan membaca Al-Quran, shalat, dan amalan
ketaatan lainnya. Dan mungkin juga ‘kurang pas’ bagi mereka yang selama sebulan
penuh di bulan suci itu konsisten meninggalkan perkara-perkara yang dilarang:
menjauhi ghibah, menjaga mata dari memandang apa yang diharamkan Allah, bahkan
meninggalkan pula perkara-perkara yang dibenci (makruh) dan sia-sia.
Tulisan ini saya tujukan untuk
saya pribadi dan juga untuk mereka yang merasa kurang maksimal memanfaatkan
Ramadhan, entah karena kesibukan bekerja siang malam, atau justru karena
‘kesibukan’ tidur sepanjang siang dan malam di bulan itu. Atau bukan hanya
kurang maksimal dalam beramal, melainkan malah bergelimang dosa baik besar
maupun kecil.
Bagi yang merasa seperti itu
keadaannya, tak usah putus asa. Setelah Ramadhan usai, bukan berarti kesempatan
untuk mendulang pahala dan rahmat Allah yang sangat luas sudah tertutup.
Berikut ini beberapa pintu kebaikan yang bisa kita masuki seusai Ramadhan.
Dengan memasukinya, insya Allah, bisa meningkatkan atau memperbaiki kedudukan
kita di sisi Allah dan membukakan pintu rahmat-Nya:
1. Puasa 6 hari bulan Syawwal.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan
Syawwal, maka ia seolah-olah berpuasa sepanjang masa. “ (HR. Muslim dari Abu
Ayyub رضي الله عنه)
Dengan menggenapkan puasa
Ramadhan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal mudah-mudahan bisa
menjadi penebus kesia-siaan yang dilakukan di Ramadhan. Sebab, disebutkan
pahalanya seolah-olah sama dengan pahala berpuasa setahun penuh. Setelah itu
bisa dilanjutkan dengan berpuasa:
2. Puasa 3 hari setiap bulan
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Berpuasa tiga hari setiap bulan seperti puasa sepanjang masa seluruhnya. “
(HR.Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash رضي الله عنهما). Bagi
yang masih memiliki kemampuan bisa juga melaksanakan puasa berikutnya:
3. Puasa Senin Kamis
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Ditampakkan amalan-amalan (kepada Allah) di hari Senin dan Kamis. Karena itu
aku menyukai seandainya amalanku ditampakkan sedangkan aku dalam keadaan
berpuasa. “ (HR.Tirmidzi dari Abu Hurairah رضي الله عنه). Bagi yang
merasa memiliki kemampuan lebih, bisa juga berpuasa yang lebih berat dari ini:
4. Puasa Nabi Daud
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda
kepada Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash رضي الله عنهما , “Berpuasalah sehari dan
berbukalah sehari, itulah puasa Nabi Daud, dan itulah puasa yang paling utama.
“ Maka aku (Abdullah) berkata, “Aku masih sanggup untuk berpuasa yang lebih
utama dari itu. “ Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tidak ada yang lebih
utama dibandingkan itu (puasa Nabi Daud). ” (HR.Bukhari dan Muslim)
5. Shalat malam
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berbagilah makanan, dan shalatlah di malam
hari tatkala manusia tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat. “
(HR.Tirmidzi dari Abdullah bin Salamرضي الله عنه)
Nabi صلى الله عليه وسلم juga
bersabda, “Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah salat malam. “
(HR.Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه)
>>>Apa maksud dari
shalat malam?
Yang dimaksudkan shalat malam di
sini yaitu yang juga dinamakan sebagai shalat tahajjud dan juga termasuk di
dalamnya shalat witir. Bagi yang selama Ramadhan tidak maksimal dalam
menjalankan shalat malam (yang dinamakan tarawih), bisa melaksanakan shalat itu
setelah Ramadhan ini.
>>>Berapa rakaat shalat
malam?
Bagi yang sanggup, bisa
melaksanakan shalat sebanyak-banyaknya: sebelas rakaat atau lebih. Sedangkan
bagi yang tak sanggup, hendaknya tetap shalat walaupun hanya satu rakaat witir.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “ Shalat Witir itu hak atas setiap muslim.
Siapa yang ingin witir dengan lima rakaat maka hendaklah ia melakukannya, siapa
yang ingin witir dengan tiga rakaat maka hendaklah ia melakukannya, siapa yang
ingin witir dengan satu rakaat maka hendaklah ia melakukannya. “ (HR. Abu Daud
dan lain-lain).
>>>Kapan waktunya?
Kalau sanggup shalat di akhir
malam, itu sangat bagus. Sebab, itu waktu terbaik untuk shalat dan berdoa. Nabi
صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya shalat akhir malam itu disaksikan
(oleh para Malaikat) dan itu lebih utama. “ (HR.Muslim dari Jabir رضي الله عنه
)
Nabi صلى الله عليه وسلم juga
bersabda, “Rabb kita turun setiap malam ke langit dunia tatkala tersisa
sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku
kabulkan doanya. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku beri permintaannya. Dan
siapa yang meminta ampun kepada-Ku, Aku ampuni dia. ” (HR.Muslim dari Abu
Hurairah رضي الله عنه)
Jika tak sanggup di akhir malam,
hendaknya sesuai kemampuan kita, apakah mau di akhir malam, pertengahannya atau
di awalnya. Ibunda kita, Aisyah رضي الله عنها berkata, “Pada setiap malam
Rasulullah صلى الله عليه وسلم shalat witir, di awal malam, pertengahannya, dan
akhirnya. Lalu witir beliau pun berhenti tatkala masuk waktu sahur. ”
(HR.Bukhari dan Muslim)
Dan begitu pula wasiat Nabi صلى
الله عليه وسلم kepada Abu Hurairah رضي الله عنه , ia berkata, “Kekasihku,
Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah mewasiatkan kepadaku tiga perkara: (agar
aku) berpuasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha, dan agar aku melaksanakan
witir sebelum tidur. ” (HR.Bukhari dan Muslim)
>>>Mengapa Nabi صلى الله
عليه وسلم sangat menekankan umatnya untuk shalat witir?
Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه
berkata, “Witir itu tidaklah wajib sebagaimana shalat fardhu, akan tetapi itu
adalah shalat yang disunnahkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم , beliau berkata,
“Sesungguhnya Allah itu witir/ganjil (satu), mencintai witir, maka shalat
witirlah wahai ahli Quran! ” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Masih banyak lagi amalan-amalan
yang bisa menjadi penebus kelalaian kita selama Ramadhan. Itu semua ada dalam
ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi yang banyak. Tinggal kita ‘bongkar’
saja, lalu berusaha semaksimal mungkin melaksanakannya.
Dengan penjelasan tadi, sekali
lagi kita yakin bahwa pintu rahmat Allah dan pahala-Nya yang melimpah tidaklah
tertutup seusai Ramadhan. Dia masih membuka tangan-Nya. Dia masih membentangkan
tangan-Nya setelah Ramadhan ini. Itulah bentuk kasih Allah kepada kita. Itulah
bentuk sayang Allah kepada kita semua.
Maka, untuk apa putus asa? Maka,
untuk apa habis harapan? Kalau begitu, jangan sia-siakan peluang ini, segera
raihlah rahmat-Nya!
Jakarta, 4 Syawwal 1431/13
September 2010
Direvisi 2 Syawwal 1432/1
September 2011
Maraji’ :
1. Riyadhushshalihin
2. Subulussalam



06.58
LULUT ARA'S *BLOG
0 komentar:
Posting Komentar