Kamis, 27 Oktober 2011

Ada Apa Setelah Ramadhan ? ? ?


Ada Apa Setelah Ramadhan?

Ada kenaikan tarif listrik dan BBM? Akan terjadi perang antara Indonesia dan Malaysia? Atau presiden SBY akan lengser dari jabatannya karena banyaknya tekanan dan kritikan? Bukan, bukan itu. Saya tidak akan membahas masalah yang berbau politik di tulisan ini. Yang akan saya angkat di tulisan ini adalah amalan apa yang berpahala besar dan bisa meningkatkan ketakwaan setelah Ramadhan.
Tulisan ini mungkin ‘kurang cocok’ bagi mereka yang menghidupkan Ramadhan dengan berpuasa di siang harinya dan menghidupkan malam harinya dengan membaca Al-Quran, shalat, dan amalan ketaatan lainnya. Dan mungkin juga ‘kurang pas’ bagi mereka yang selama sebulan penuh di bulan suci itu konsisten meninggalkan perkara-perkara yang dilarang: menjauhi ghibah, menjaga mata dari memandang apa yang diharamkan Allah, bahkan meninggalkan pula perkara-perkara yang dibenci (makruh) dan sia-sia.
Tulisan ini saya tujukan untuk saya pribadi dan juga untuk mereka yang merasa kurang maksimal memanfaatkan Ramadhan, entah karena kesibukan bekerja siang malam, atau justru karena ‘kesibukan’ tidur sepanjang siang dan malam di bulan itu. Atau bukan hanya kurang maksimal dalam beramal, melainkan malah bergelimang dosa baik besar maupun kecil.
Bagi yang merasa seperti itu keadaannya, tak usah putus asa. Setelah Ramadhan usai, bukan berarti kesempatan untuk mendulang pahala dan rahmat Allah yang sangat luas sudah tertutup. Berikut ini beberapa pintu kebaikan yang bisa kita masuki seusai Ramadhan. Dengan memasukinya, insya Allah, bisa meningkatkan atau memperbaiki kedudukan kita di sisi Allah dan membukakan pintu rahmat-Nya:
1. Puasa 6 hari bulan Syawwal.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seolah-olah berpuasa sepanjang masa. “ (HR. Muslim dari Abu Ayyub رضي الله عنه)
Dengan menggenapkan puasa Ramadhan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal  mudah-mudahan bisa menjadi penebus kesia-siaan yang dilakukan di Ramadhan. Sebab, disebutkan pahalanya seolah-olah sama dengan pahala berpuasa setahun penuh. Setelah itu bisa dilanjutkan dengan berpuasa:
2. Puasa 3 hari setiap bulan
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Berpuasa tiga hari setiap bulan seperti puasa sepanjang masa seluruhnya. “ (HR.Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash رضي الله عنهما). Bagi yang masih memiliki kemampuan bisa juga melaksanakan puasa berikutnya:
3. Puasa Senin Kamis
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Ditampakkan amalan-amalan (kepada Allah) di hari Senin dan Kamis. Karena itu aku menyukai seandainya amalanku ditampakkan sedangkan aku dalam keadaan berpuasa. “ (HR.Tirmidzi dari Abu Hurairah رضي الله عنه).  Bagi yang merasa memiliki kemampuan lebih, bisa juga berpuasa yang lebih berat dari ini:
4. Puasa Nabi Daud
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda kepada Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash رضي الله عنهما , “Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari, itulah puasa Nabi Daud, dan itulah puasa yang paling utama. “ Maka aku (Abdullah) berkata, “Aku masih sanggup untuk berpuasa yang lebih utama dari itu. “ Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tidak ada yang lebih utama dibandingkan itu (puasa Nabi Daud). ” (HR.Bukhari dan Muslim)
5. Shalat malam
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berbagilah makanan, dan shalatlah di malam hari tatkala manusia tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat. “ (HR.Tirmidzi dari Abdullah bin Salamرضي الله عنه)
Nabi صلى الله عليه وسلم juga bersabda, “Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah salat malam. “ (HR.Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه)
>>>Apa maksud dari shalat malam?
Yang dimaksudkan shalat malam di sini yaitu yang juga dinamakan sebagai shalat tahajjud dan juga termasuk di dalamnya shalat witir. Bagi yang selama Ramadhan tidak maksimal dalam menjalankan shalat malam (yang dinamakan tarawih), bisa melaksanakan shalat itu setelah Ramadhan ini.
>>>Berapa rakaat shalat malam?
Bagi yang sanggup, bisa melaksanakan shalat sebanyak-banyaknya: sebelas rakaat atau lebih. Sedangkan bagi yang tak sanggup, hendaknya tetap shalat walaupun hanya satu rakaat witir. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “ Shalat Witir itu hak atas setiap muslim. Siapa yang ingin witir dengan lima rakaat maka hendaklah ia melakukannya, siapa yang ingin witir dengan tiga rakaat maka hendaklah ia melakukannya, siapa yang ingin witir dengan satu rakaat maka hendaklah ia melakukannya. “ (HR. Abu Daud dan lain-lain).
>>>Kapan waktunya?
Kalau sanggup shalat di akhir malam, itu sangat bagus. Sebab, itu waktu terbaik untuk shalat dan berdoa. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya shalat akhir malam itu disaksikan (oleh para Malaikat) dan itu lebih utama. “ (HR.Muslim dari Jabir رضي الله عنه )
Nabi صلى الله عليه وسلم juga bersabda, “Rabb kita turun setiap malam ke langit dunia tatkala tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan doanya. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku beri permintaannya. Dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, Aku ampuni dia. ” (HR.Muslim dari Abu Hurairah  رضي الله عنه)
Jika tak sanggup di akhir malam, hendaknya sesuai kemampuan kita, apakah mau di akhir malam, pertengahannya atau di awalnya. Ibunda kita, Aisyah رضي الله عنها berkata, “Pada setiap malam Rasulullah صلى الله عليه وسلم shalat witir, di awal malam, pertengahannya, dan akhirnya. Lalu witir beliau pun berhenti tatkala masuk waktu sahur. ” (HR.Bukhari dan Muslim)
Dan begitu pula wasiat Nabi صلى الله عليه وسلم  kepada Abu Hurairah رضي الله عنه , ia berkata, “Kekasihku, Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah mewasiatkan kepadaku tiga perkara: (agar aku) berpuasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha, dan agar aku melaksanakan witir sebelum tidur. ” (HR.Bukhari dan Muslim)
>>>Mengapa Nabi صلى الله عليه وسلم sangat menekankan umatnya untuk shalat witir?
Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata, “Witir itu tidaklah wajib sebagaimana shalat fardhu, akan tetapi itu adalah shalat yang disunnahkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم , beliau berkata, “Sesungguhnya Allah itu witir/ganjil (satu), mencintai witir, maka shalat witirlah wahai ahli Quran! ” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Masih banyak lagi amalan-amalan yang bisa menjadi penebus kelalaian kita selama Ramadhan. Itu semua ada dalam ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi yang banyak. Tinggal kita ‘bongkar’ saja, lalu berusaha semaksimal mungkin melaksanakannya.
Dengan penjelasan tadi, sekali lagi kita yakin bahwa pintu rahmat Allah dan pahala-Nya yang melimpah tidaklah tertutup seusai Ramadhan. Dia masih membuka tangan-Nya. Dia masih membentangkan tangan-Nya setelah Ramadhan ini. Itulah bentuk kasih Allah kepada kita. Itulah bentuk sayang Allah kepada kita semua.
Maka, untuk apa putus asa? Maka, untuk apa habis harapan? Kalau begitu, jangan sia-siakan peluang ini, segera raihlah rahmat-Nya!
Jakarta, 4 Syawwal 1431/13 September 2010
Direvisi 2 Syawwal 1432/1 September 2011
Maraji’ :
1. Riyadhushshalihin
2. Subulussalam

lulut_laraseta@yahoo.co.id

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Premium Blogger Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lulut Laraseta, Indonesia