Rabu, 19 Oktober 2011

PENGONDISIAN UDARA


PENGONDISIAN  UDARA

A  Pengenalan Pengkondisian Udara
Pada tahun 1500, Leonardo de Vinci membuat suatu sistem ventilasi udara untuk sejumlah ruangan. Sistem ventilasi itu menggunakan kipas yang digerakkan oleh tenaga air. Hal ini mungkin merupakan percobaan pertama untuk mengkondisikan suatu ruangan tertutup secara otomatis. Percobaan lainnya yang tercacat adalah di India, yang disebut “Punka”. Punka adalah kipas besar yang dipasang di langit-langit suatu ruangan dan digerakkan dengan tarikan tali secara manual. Beberapa model berikutnya digerakkan oleh mesin.
Walaupun pada kenyataannya, konsep dasar tentang pengkondisian udara tidak dimengerti bahkan tidak dipikirkan oleh berjuta-juta orang yang menikmati hasil nyaman yang dihasilkannya. Namun, hal itu telah diterima sebagai bagian dari kehidupan setiap orang. Oleh karena itu teknik pengkondisian udara memerlukan definisi.
Pengkondisian udara didefinisikan sebagai proses pengaturan panas, kebersihan dan sirkulasi udara, serta kandungan uap air yang diidealkan dengan kenyamanan tubuh (body comfort) manusia untuk menunjang kenyamanan beraktifitas.
Dengan adanya pengkondisian udara, ini memungkinkan kita untuk merubah kondisi udara didalam ruangan tertutup. Oleh karena manusia modern menghabiskan sebagian hidupnya didalam ruangan tertutup, maka pengkondisian udara menjadi suatu hal yang penting dan dapat menghasilkan sesuatu hasil yang lebih menguntungkan bagi manusia dibanding keadaan cuaca di luar.
2.2  Tinjauan Umum Sistem Refrigerasi
Proses pemindahan panas dari satu tempat ketempat lain melalui perubahan wujud suatu zat cairan (liquid) disebut pendinginan atau refrigerasi. Pada yang lebih khusus yaitu proses penurunan dan pemeliharaan suhu pada suatu tempat atau material dibawah temperature sekitarnya. Sistem refrigerasi secara umum dikelompokan dalam beberapa jenis, diantaranya:
1.        Vapor compression refrigeration system (siklus kompresi uap).
2.        Absorption system (siklus penyerapan).
3.        Steam – jet refrigeration system (siklus jet uap).
4.        Air cycle refrigeration system (siklus udara).
5.        Vortex tube refrigeration system (siklus tabung vortex).
6.        Magnetic refrigeration system (siklus magnet).
7.        Thermoelectric.
Sistem kompresi uap merupakan sistem pendinginan yang banyak digunakan dalam konstruksi mesin air conditioner. Siklus dari refrigeran diumpamakan dimulai dari evaporator, refrigeran yang bertekanan rendah akan mengambil panas dari beban panas di sekitar evaporator. Substansi pengambil panas tersebut mudah mendidih pada temperature dan tekanan rendah. Refrigeran di dalam pipa evaporator akan mendidih dan berubah wujud menjadi gas dengan membawa kalor dari produk. Refrigeran yang berbentuk gas dengan tekanan dan temperature rendah kemudian akan masuk ke dalam kompresor karena dihisap oleh kompresor.
Refrigeran lalu dikompresikan oleh kompresor, sehingga refrigeran yang keluar dari kompresor menjadi gas dengan tekanan dan temperature yang tinggi. Refrigeran kemudian masuk ke kondensor, di dalam kondensor panas refrigeran yang diambil dari evaporator dan panas dari kompresi akan dibuang ke udara sekitar. Substansi pengambil panas dari kondensor dapat berupa udara, air, atau campuran antara udara dan air. Perubahan refrigeran akan terjadi dalam kondensor karena pembuangan kalor, refrigeran akan berubah wujud dari uap menjadi cair dengan suhu dan tekanan yang tinggi.
Refrigeran kemudian mengalir ke alat pengatur, pada alat ini refrigeran dipaksa melewati lubang yang kecil, sehingga temperature dan tekanan refrigeran menjadi turun. Refrigeran yang telah melalui alat ini akan menyembur seperti kabut ke dalam evaporator, hal ini diperlukan oleh sistem agar refrigeran mudah menguap di evaporator. Alat pengatur refrigeran berupa katup ekspansi, sesuai dengan namanya berfungsi untuk mengatur dan membatasi cairan refrigeran yang masuk ke dalam evaporator. Siklus ini akan terus berlangsung secara terusmenerus dan berulangulang di dalam sistem selama kompresor masih bekerja.

Expansi

Kondensor
Pelepasan panas
Evaporator
Penyerapan panas
Kompresor
Energi
masuk
Gambar 2.1 Sistem Kompresi Uap







Sumber : www.trane.com

2.2.1  Komponen Utama Sistem Refrigerasi Kompresi
Komponen utama pada sistem refrigerasi terdiri atas kompresor, liquid receiver, kondensor, filterdryer, sight glass, katup ekspansi, evaporator , liquid accumulator, komponen tersebut  yaitu:
1. Kompresor
Dalam sistem pendingin mekanik, kompresor adalah alat yang sangat diperlukan untuk menjalankan sistem. Alat ini sering disebut sebagai “Jantung/pusat” dari suatu sistem pendingin mekanik. Cara bekerjanya seperti pada jantung manusia. Kompresor berfungsi mengkompresikan rerfrigeran yang mengandung sejumlah panas dari evaporator, menaikkan temperature sampai mencapai titik saturasinya, titik tersebut lebih tinggi dari pada media pendinginnya. Prinsip kerja “tekan–isap”, dapat mensirkulasikan refrigeran ke seluruh bagian yang dialiri refrigeran dari sistem refrigerasi. Menurut letak dari motor penggeraknya kompresor dapat dibagi menjadi tiga macam, antara lain kompresor hermetik, kompresor semi hermetik dan kompresor open type. Akan tetapi pada AC sentral kebanyakan menggunakan kompresor jenis semi hermetik.

                                                         

 


                     
Gambar 2.2 Kompresor Semi Hermetik
Sember : www.trane.com
2. Kondensor
Kondensor sesuai dengan namanya Condenser yang artinya alat untuk mengkondensasikan atau mengembunkan bahan pendingin gas dari kompresor dengan suhu tinggi dan tekanan tinggi. Kondensor berfungsi untuk membuang kalor dan mengubah wujud bahan pendingin dari gas menjadi cair. Akibat dari hilangnya panas yang dikandung uap refrigeran, maka uap refrigeran berubah wujud jadi cairan kembali.
Kondensor diletakkan di sisi tekanan tinggi dari sistem yaitu antara kompresor dengan alat pengatur bahan pendingin. Kondensor ditempatkan diluar ruangan yang akan dikondisikan, agar dapat membuang panasnya keluar kepada zat yang mendinginkannya. Dari media yang digunakan untuk mendinginkan kondensor dibagi tiga macam yaitu kondensor pendingin udara, kondensor pendingin air, kondensor pendingin campuran udara dan air.

 








Gambar 2.3 Kondensor Pendingin Udara
Sumber : Hasil Observasi Lapangan
3. Filter – Dryer
Kotoran yang terdapat dalam sistem refrigerasi seperti sisa solder, jelaga, butiran logam kecil, endapan, karat besi dan material yang tidak diperlukan harus disaring. Di dalam sistem diperlukan saringan (filter) untuk menyaring substansi yang mengganggu bekerjanya sistem.
Inlet
Replaceable core type
Sealed type
Core
Outlet
Inlet
Outlet
Gambar 2.4 Filter-Dryer





Sumber : www.trane.com
Pada sistem, pengering ditempatkan pada sisi tekanan tinggi, yaitu pada saluran cairan (liquid line) di dekat alat pengatur bahan pendingin. Pengering (dryer) berfungsi untuk menyerap uap air yang ada di dalam sistem. Di dalam pengering terdapat bahan pengering (dessicant) yang menyerap uap air, asam, hasil uraian minyak pelumas, endapan lumpur dan bahan yang tidak diperlukan di dalam sistem.
4. Sight Glass
Inlet
Sight glass
Outlet
Gambar 2.5 Sight glass
Sight glass berfungsi untuk mengetahui wujud refrigeran dan level serta kondisi dalam sistem dengan melihat langsung. Pemasangan sight glass ditempatkan di sisi tekanan tinggi dari sistem, yaitu antara kompresor dan alat kont rol refrigeran.



Sumber : www.trane.com
5. Alat Pengatur Refrigeran
Alat pengatur refrigeran merupakan komponen pada sistem  refrigerasi yang berfungsi untuk mengatur refrigeran yang mengalir di dalam sistem. Alat pengatur refrigeran bekerja berdasarkan perubahan temperature, perubahan  jumlah tekanan dan berdasarkan gabungan dari ketiga perubahan tersebut. Pemakaian alat pengatur yang banyak digunakan sistem refrigerasi adalah pipa kapiler (capillary tube) dan katup ekspansi thermostatik atau TXV (thermostatic expansion valve).
Gambar 2.6 Thermal Expansion Valve






Sumber : www.trane.com
6. Evaporator
Evaporator adalah salah satu komponen utama dari sistem pendingin, cairan refrigeran mengalir dan berfungsi sebagai penyerap panas dari produk yang didinginkan sambil berubah wujud.

Refrigerant Vapor

Liquid/Vapor Refrigerant
Air flow
Liquid/Vapor Refrigerant
Refrigerant
Vapor
Suction
Header
Liquid
Distributor
Air flow
Gambar 2.7 Evaporator dengan Sirip-Sirip














    
Fungsi evaporator yaitu untuk menyerap panas dari udara, panas dari produk dan panas benda lain di sekitarnya, sehingga udara atau produk tersebut menjadi dingin. Hal tersebut disebabkan oleh penguapan bahan refrigeran di dalam evaporator. Kompresor terus bekerja menghisap bahan pendingin gas yang keluar dari saluran hisap evaporator, sehingga tekanan dalam evaporator menjadi vakum dan rendah. Berdasarkan prinsip kerjanya evaporator dibagi menjadi dua macam, yaitu evaporator banjir (flooded evaporator) dan evaporator kering (dry or direct expansion evaporator). Evaporator kering, menurut bentuk atau konstruksinya terdiri dari tiga macam yaitu evaporator dengan permukaan plat (plate surface type), evaporator dengan pipa terbuka (bare tube evaporator) dan evaporator dengan sirip–sirip (finned tube evaporator).
2.3  Tinjauan Umum Tentang Air Conditioning
Berdasarkan fungsi utamanya, air conditioning (AC) dibedakan menjadi dua jenis, yaitu : AC Comfort (untuk kenyamanan manusia) dan AC industri (untuk perangkat industri dan penelitian) (ASHRAE HANDBOOK, 1987).
Sesuai namanya, AC Comfort dipergunakan untuk keperluan kenyamanan manusia, seperti di perumahan, perkantoran, pertokoan, supermarket, sekolah, bioskop, gelanggang olahraga, dan tempat-tempat lainnya yang ditempati oleh manusia. Sedangkan AC industri dipergunakan untuk keperluan-keperluan khusus di industri seperti untuk pendinginan peralatan, bahan-bahan bio kimia, mesin-mesin dan keperluan-keperluan industri lainnya yang memerlukan penanganan khusus baik skala kecil maupun besar.
Pada tempat-tempat seperti ruang computer (computer room), ruang pusat data (data centre), ruang telekomunikasi (telecommunication equipment), ruang terkondisi bersih (clean room) ruang obat-obatan (pharmaceutical manufacturing), dan ruang pengujian (test room) terdapat peralatan-peralatan elektronik yang sensitive dan memiliki respon yang sangat tinggi, sehingga memerlukan pengaturan suhu, kelembaban, dan kebersihan udara yang sesuai dengan spesifikasi dan tingkat akurasi yang tinggi. Oleh sebab itu, pengkondisian udara untuk industri pada tempat-tempat seperti yang disebutkan diatas lebih dikenal dengan sebutan AC Presisi (Precision Air Conditioning).
Ada beberapa perbedaan mendasar antara AC presisi dengan AC Comfort yaitu sensible heat ratio, keakuratan dalam pengontrolan temperature dan kelembaban, kualitas udara yang disirkulasikan, serta jam operasi dari unit. Berikut ini penjelasan dari keempat perbedaan tersebut :
1.   Sensible Heat Ratio (SHR)
AC Comfort mengkondisikan ruangan dengan memfokuskan pada kenyamanan manusia yang memiliki panas laten. Berbeda dengan AC presisi yang mengkondisikan ruangan alat-alat elektronik dan computer yang tidak memiliki panas laten. Sehingga sensible heat ratio dari AC presisi akan lebih tinggi dari pada  AC Comfort.
AC Comfort memiliki sensible heat ratio antara 0,6 – 0,7. Berarti 60 sampai 70% dari kerja unit digunakan untuk menurunkan temperature, dan 30 – 40% digunakan untuk menurunkan kelembaban. Ruangan data centre membutuhkan 0,8 – 0,9 sensible heat ratio untuk proses pendinginan yang efektif dan efisien. Berarti 80 – 90% dari kerja unit AC presisi digunakan untuk proses pendinginan dan 10 – 20%

untuk mengurangi kelembaban. Hal ini berarti AC presisi didesain untuk lebih fokus pada pengambilan panas daripada proses pengambilan uap air.
Laten
Laten

Sensible Heat Ratio
Laten
Laten
Sensible
Sensible
General Office
Computer Room
1,0
0,65
0,9
1,0
 







Gambar 2.8 Perbandingan SHR General Office dengan Computer Room

Sumber : www.liebert.com
2.   Keakuratan dalam pengontrolan temperature dan kelembaban ruangan
Dalam AC presisi, tidak hanya temperatur yang dikontrol, tapi kelembaban juga harus dikontrol sesuai dengan spesifikasi perangkat yang dikondisikan. Oleh karena itu, dalam sebuah AC presisi dilengkapi dengan humidifier dan heater. hal ini dilakukan karena bila ruangan terlalu lembab, maka akan terjadi pengembunan pada PCB alat elektronik dan computer, sedangkan bila terlalu kering maka akan menempel debu-debu halus yang bermuatan statis, dan lama kelamaan akan terjadi hubungan singkat pada Card. Berbeda dengan AC Comfort,  dimana pengontrolan dilakukan hanya terhadap temperature saja, sedangkan kelembaban relative (relative humidity) akan berubah ketika terjadi proses cooling tanpa ada pengontrolan kelembaban secara langsung.
3.   Kualitas udara yang disirkulasikan
AC presisi beroperasi dengan aliran udara yang tinggi, biasanya 160 cfm/kW atau lebih besar. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan distribusi udara yang bergerak melalui ruangan. Peralatan teknologi modern biasanya membutuhkan sekitar 160 cfm aliran udara untuk setiap kW konsumsi daya listrik, sehingga jumlah supply udara dingin ini harus tersedia di saluran inlet peralatan. Jika tidak, hal ini dapat menyebabkan peralatan dalam ruangan menjadi overheat. Distribusi udara (cfm/kW) yang tinggi pada AC Presisi juga menyebabkan lebih banyak udara yang bergerak melalui air filler sehinga menghasilkan suatu lingkungan bersih. Hal ini penting karena bila ada debu-debu halus yang bermuatan statis yang menempel pada peralatan komputer dan elektronik, maka lama kelamaan akan terjadi hubungan singkat pada Card.
AC Comfort beroperasi dengan distribusi udara yang lebih rendah yaitu 85–115 cfm/kW. Distribusi udara yang rendah dapat mengakibatkan zat pencemar lebih banyak naik di udara.
4.   Jam operasi unit
Ruangan-ruangan seperti data centre dan ruang telekomunikasi harus bekerja selama 24 jam. Oleh Karena itu, AC Presisi dirancang agar dapat beroperasi selama 24 jam tanpa henti. Kecuali bila terjadi kerusakan dan dilakukan perbaikan. Idealnya suatu ruangan data centre harus memiliki AC back-up untuk menanggulangi hal tersebut. Berbeda dengan AC Comfort  yang bekerja hanya ketika ada orang dalam ruangan yang dikondisikan.
2.3.1  Tipe Mesin Air Conditioner
Ada banyak tipe mesin AC, namun secara garis besar dapat kita bagi sebagai berikut:

2.3.1.1   Air Conditioner Unit
1. Tipe paket tunggal, dikenal sebagai tipe jendela (windows type). Pada tipe ini seluruh bagian AC ada dalam satu wadah. AC tipe ini dipasang dengan cara meletakkan mesin langsung menembus dinding. Jadi, dinding dilubangi sebesar AC tersebut. Karena seluruh komponen menjadi satu, AC ini agak sedikit bising (apalagi bila sudah lama tidak diservis).
 


           


Gambar 2.9 AC Window
Sumber : www.trane.com
2. Tipe paket terpisah, dikenal sebagai tipe split (split type). Sesuai namanya, AC ini mempunyai dua bagian terpisah yaitu unit dalam ruang (indoor unit) dan unit luar ruang (outdoor unit). Unit luar ruang berisi kipas, kompresor, dan kondensor untuk membuang pangs, sedang unit dalam ruang berisi evaporator dan kipas untuk mengambil pangs dari udara dalam ruangan. Antara unit dalam ruang dan luar ruang dihubungkan dengan pipa untuk bolak-balik refrigeran. Karena hanya pipa tersebut yang perlu menembus dinding, maka pelubangan cukup kecil saja. Selain itu, karena unit luar ruang yang cenderung bising ada di luar, maka kebisingan dapat dihindari. Tipe terpisah ini dapat berupa tipe split tunggal (single split unit, cassette unit luar ruang melayani satu unit dalam ruang) dan dapat berupa tipe split ganda (multi split type, cassette unit luar ruang melayani beberapa unit dalam ruang). Selain itu, berdasarkan pemasangannya, tipe terpisah ini masih dapat dibagi lagi menjadi:
a. Tipe langit-langit/dinding (ceiling/wall type)  indoor unit dipasang di dinding bagian atas.
 






Gambar 2.10  Wall Type
Sumber : www.trane.com
b. Tipe lantai (floor type) indoor unit diletakkan di lantai. Tipe lantai ada yang berbentuk seperti almari, ada juga yang sebenarnya sama dengan tipe langit-langit tetapi dipasang di lantai.


 





Gambar 2.11  Floor Type
Sumber : www.trane.com
c. Tipe kaset (cassette type) indoor unit dipasang di langit­-langit, menghadap ke bawah.
 









Gambar 2.12 Cassette Type
Sumber : www.trane.com

2.3.1.2   AC Sentral
AC tipe besar yang dikendalikan secara terpusat untuk melayani satu gedung besar, baik yang berpembagian ruang sederhana seperti toko grosir besar, maupun berpembagian ruang rumit seperti bangunan tinggi perhotelan dan perkantoran.
AC sentral melibatkan sistem jaringan distribusi udara (ducting) untuk mencatu udara sejuk ke dalam ruang dan mengambil kembali untuk diolah kembali. Lubang tempat udara dari sistem AC yang masuk ke dalam ruangan disebut difuser (diffuser), sedangkan lubang tempat udara kembali dari dalam ruangan ke jaringan disebut gril (grill).

Berikut ini adalah bagian-bagian dari AC sentral :
1. Unit Pendingin (Chiller)
Pada unit pendingin atau chiller yang menganut sistem kompresi uap, komponennya terdiri dari kompresor, kondensor, alat ekspansi dan evaporator. Pada chiller biasanya tipe kondensornya adalah water-cooled condenser. Air untuk mendinginkan kondensor dialirkan melalui pipa yang kemudian outputnya didinginkan kembali secara evaporative cooling pada cooling tower.

 






Gambar 2.13 Unit Pendingin (Chiller)
Sumber : Hasil Observasi Lapangan
Pada komponen evaporator, jika sistemnya indirect cooling maka fluida yang didinginkan tidak langsung udara, melainkan air yang dialirkan melalui sistem pemipaan. Air yang mengalami pendinginan pada evaporator dialirkan menuju system penanganan udara (AHU) menuju koil pendingin.
2. AHU (Air Handling Unit)
AHU adalah sebuah unit yang berfungsi sebagai pengatur udara yang akan dimasukkan ke dalam ruangan melalui saluran udara (duct). Untuk unit penyejuk udara AC, aliran udara pada Unit Kumparan Fan Coil Units (FCU) atau Air Handling Unit (AHU) dapat diukur dengan menggunakan anemometer. Suhu dry bulb dan wet bulb diukur pada jalur masuk dan keluar di AHU atau di FCU.

 





Gambar 2.14  Air Handling Unit (AHU )
Sumber : www.aircon.co.id
Ada beberapa komponen yang terdapat dalam AHU diantaranya :
a. Kipas atau Fan
Fungsi utama kipas/fan adalah untuk menggerakkan udara dari dan ke ruangan. Pada sistem pengkondisian udara, udara yang digerakkan terdiri dari :
1.  Keseluruhan udara luar
2.  Keseluruhan udara di dalam ruangan (biasa disebut udara resirkulasi)
3.  Kombinasi udara luar dan udara dalam ruangan






Gambar 2.15 Jenis Centrifugal Fan
Sumber : BEE India, 2004
Kipas mendorong udara dari luar atau dari dalam ruangan, tetapi pada sistem umumnya kipas mendorong udara dari kedua sumber pada saat yang sama. Oleh karena udara yang mengalir dengan deras menyebabkan rasa tidak nyaman dan udara yang bergerak lambat akan memperlambat pengeluaran panas dari badan, maka jumlah udara yang disediakan kipas harus diatur. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan memilih sebuah fan yang dapat menyediakan sejumlah udara yang memadahi dan juga mengatur kecepatan kipas sehingga arus aliran udara di dalam ruangan bersirkulasi dengan baik.
b. Cooling Coil
Cooling coil  berfungsi untuk mendinginkan udara yang akan disirkulasikan menuju ke ruangan. Udara yang berasal dari luar ataupun dari ruangan dilewatkan ke permukaan koil pendingin yang selanjutnya udara didinginkan guna tercapainya udara ruangan yang diinginkan. Jika di dalam ruangan udara terlalu lembab (kandungan uap airnya tinggi), uap air dikeluarkan secara otomatis saat udara didinginkan oleh Cooling Coil.
 











Gambar 2.16 Cooling Coil
Sumber : www.aircon.co.id

c. Saringan udara (Filter)
Saringan udara diletakkan didepan koil untuk mencegah adanya debu serta partikel secara berlebihan, karena debu serta partikel akan menutupi permukaan koil. Saringan dibuat dari berbagai bahan seperti pintalan kaca sampai plastik komposit. Jenis lain bekerja menurut prinsip elektrostatika dan benar-benar dapat menarik serta menangkap debu dan partikelnya secara listrik.
 





Gambar 2.17 Saringan Udara (Filter)
Sumber : www.aircon.co.id
d.  Humidifier.
Proses cooling secara bersamaan akan terjadi pula proses dehumidifying, sehingga lama–kelamaan kandungan uap air udara ruangan yang dikondisikan tidak sesuai dengan keperluan. Oleh karena itu diperlukan usaha untuk menambah kandungan uap air. Metode penambahan uap air dalam sistem digambarkan sebagai berikut:
Inlet air to Humidifier
Outlet air  from Humidifier
Gambar 2.18 Proses Humidifying


 





Sumber : www.trane.com
Proses ini disebut humidifying yaitu proses penambahan kandungan uap air di udara pada ruangan yang dikondisikan dengan bantuan alat yang disebut humidifier. Proses humidifIing terjadi bila kelembaban ruangan lebih rendah dari setpoint yang telah ditentukan. Humidifier merupakan komponen yang berfungsi untuk menghasilkan uap air untuk menaikkan kelembaban udara ruangan (relative humidity). Uap yang dihembuskan ke dalam ruangan melalui evaporator. Humidifier bekerja jika kelembaban udara ruangan di bawah setpoint dan di luar batas sensitivity yang ditentukan, dengan skema seperti berikut ini:
Udara  sebelum masuk evaporator
Evaporator
Udara  setelah keluar evaporator
33 oF, 90 % RH
91 oF, 53 % RH
Uap air dari humidifier
Gambar 2.19 Skema Proses Humidifying








Sumber : www.trane.com
3. Saluran Udara (Duct)
Saluran ini berfungsi untuk  mengarahkan udara dari kipas menuju ke ruangan-ruangan.




Gambar 2.20  Bentuk Saluran Udara
Sumber : www.trane.com
Lubang saluran masuk membantu mendistribusikan udara secara merata ke ruangan. Sebagian lubang saluran masuk “mendorong” udara, sebagian lagi mengarahkannya menjadi aliran cepat dan lainnya menyebabkan kombinasi kedua hal diatas. Oleh karena lubang saluran itu dapat menyebabkan aliran bertekanan dan juga deras, lubang iu juga dapat berfungsi sebagai alat kontrol arah aliran udara yang disebabkan kipas. Kontrol arah, lokasi dan jumlah lubang saluran masuk di ruangan berperan dalam menentukan aliran udara yang nyaman atau tidak nyaman.
Dimensi duct dapat dihitung dengan menginterpolasikan jumlah udara (cfm) yang masuk ke ruangan terhadap tabel ukuran duct. Jumlah udara yang masuk dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
          Sensible load (btu / hr)
cfm =                                                                                                     
                      1,08x(Δt)
          Sensible load (btu / hr)
cfm =                                                                                                     
                      68x(ΔtWb)
Keterangan,
Cfm              :  Jumlah udara yang mengalir ke ruangan (ft³/min)
Sensible load :  Beban sensible ruangan (Btu/hr)
Laten load       :  Beban laten ruangan (Btu/hr)
1,08               :  Constanta
68                  :  Constanta
Δt                  :  Perbedaan temperature luar dengan temperature ruangan (°F)
ΔtWb              : Perbedaan temperature bola basah luar dengan temperature bola basah ruangan (°F)

Prinsip kerja secara sederhana pada unit penanganan udara ini adalah menyedot udara dari ruangan (return air) yang kemudian dicampur dengan udara segar dari lingkungan (fresh air) dengan komposisi yang bisa diubah-ubah sesuai keinginan. Campuran udara tersebut masuk menuju AHU melewati filter, fan sentrifugal dan koil pendingin. Setelah itu udara yang telah mengalami penurunan temperature didistribusikan secara merata ke setiap ruangan melewati saluran udara (ducting) yang telah dirancang terlebih dahulu sehingga lokasi yang jauh sekalipun bisa terjangkau.



 







Gambar 2.21 Bentuk Saluran Udara Balik
Sumber : Hasil Observasi Lapangan
Beberapa kelemahan dari sistem ini adalah jika satu komponen mengalami kerusakan dan sistem AC sentral tidak hidup maka semua ruangan tidak akan merasakan udara sejuk. Selain itu jika temperatur udara terlalu rendah atau dingin maka pengaturannya harus pada termostat di koil pendingin pada komponen AHU.
4. Cooling Tower
Salah satu komponen  pada AC sentral selain chiller, AHU, dan ducting adalah cooling tower atau menara pendingin. Fungsi utamanya sebagai alat untuk mendinginkan air panas dari kondensor dengan cara dikontakkan langsung dengan udara secara konveksi paksa menggunakan fan atau kipas.




 







Gambar 2.22  Cooling Tower dan pemipaan menuju chiller
Sumber : Hasil Observasi Lapangan
Proses yang terjadi pada chiller atau unit pendingin untuk system AC sentral dengan sistem kompresi uap terdiri dari proses kompresi, kondensasi, ekspansi dan evaporasi. Proses ini terjadi dalam satu siklus tertutup yang menggunakan fluida kerja berupa refrigerant yang mengalir dalam sistem pemipaan yang terhubung dari satu komponen ke komponen lainnya.
Kondensor pada chiller biasanya berbentuk water-cooled condenser yang menggunakan air untuk proses pendinginan refrigeran. Secara umum bentuk konstruksinya berupa shell & tube dimana air mengalir memasuki shell / tabung dan uap refrigeran superheat mengalir dalam pipa yang berada di dalam tabung sehingga terjadi proses pertukaran kalor. Uap refrigeran superheat berubah wujud menjadi cair yang memiliki tekanan tinggi mengalir menuju alat ekspansi, sementara air yang keluar memiliki temperature yang lebih tinggi. Karena air ini akan digunakan lagi untuk proses pendinginan kondensor maka tentu saja temperaturnya harus diturunkan kembali atau didinginkan pada cooling tower.
Langkah pertama adalah memompa air panas tersebut menuju cooling tower melewati sistem pemipaan yang pada ujungnya memiliki banyak nozzle untuk tahap spraying atau semburan. Air panas yang keluar dari nozzle secara langsung sementara itu udara atmosfer dialirkan melalui atau berlawanan dengan arah jatuhnya air panas karena pengaruh fan/blower yang terpasang pada cooling tower. Untuk menguapkan 1 kg air diperlukan kira-kira 600 kcl dengan mengeluarkan kalor laten, dengan mengungkapkan sebagian dari air maka bagian besar dari air pendingin dapat didinginkan, jadi misalnya 1% dari air dapat di uapkan , air dapat diturunkan suhunya sebesar 6 oC dengan menara pendingin. Sistem ini sangat efektif dalam proses pendinginan air karena suhu kondensasinya sangat rendah mendekati suhu wet-bulb udara. Air yang sudah mengalami penurunan temperature ditampung dalam bak/basin untuk kemudian dipompa kembali menuju kondensor yang berada di dalam chiller. Pada cooling tower juga dipasang katup make up water yang dihubungkan ke sumber air terdekat untuk menambah kapasitas air pendingin jika terjadi kehilangan air ketika proses evaporative cooling tersebut.
Pompa memiliki dua kegunaan utama yaitu :
1.     Memindahkan cairan dari satu tempat ke tempat lainnya (misalnya air dari reservoir bawah tanah ke tangki penyimpan air).
2.     Mensirkulasikan cairan sekitar sistem (misalnya air pendingin atau pelumas yang melewati mesin-mesin dan peralatan)
Kerja yang ditampilkan oleh sebuah pompa merupakan fungsi dari head total dan berat cairan yang dipompa dalam jangka waktu yang diberikan.
 





Gambar 2.23  make up tank
Sumber : Hasil Observasi Lapangan
Prestasi menara pendingin biasanya dinyatakan dalam “range” dan “approach”, dimana range adalah penurunan suhu air yang melewati cooling tower dan approach adalah selisih antara udara suhu udara wet-bulb dan suhu air yang keluar. Perpindahan kalor yang terjadi pada cooling tower berlangsung dari air ke udara tak jenuh. Ada dua penyebab terjadinya perpindahan kalor yaitu perbedaan suhu dan perbedaan tekanan parsial antara air dan udara.
Suhu pengembunan yang rendah pada cooling tower membuat sistem ini lebih hemat energi jika digunakan untuk sistem refrigerasi pada skala besar seperti chiller. Salah satu kekurangannya adalah bahwa sistem ini tidak praktis karena jarak yang jauh antara chiller dan cooling tower sehingga memerlukan sistem pemipaan yang relatif panjang. Selain itu juga biaya perawatan cooling tower cukup tinggi dibandingkan sistem lainnya.
Persyaratan bagi menara Pendingin (cooling tower), adalah kondisi nominal dari menara pendingin berdasarkan kapasitas menara pendingin 1 ton refrigrasi distandarisasikan menurut “The Japanese Cooling tower Industry Association”, sebagai berikut :
1 ton refrigrasi 390 kcal/jam pada kondisi :
                          temperature bola basah 27o C
                          temperature air masuk   37o C
                          temperature air keluar    32o C
                          volume aliran air           13 liter/menit.
Harga standar tersebut diatas menentukan prestasi menara pendingin.
Cooling tower adalah sistem pendingin dengan media air yang disirkulasikan dalam sistem AC sentral jenis chiller, air yang disirkulasikan berfungsi mendinginkan kondensor atau mesin proses produksi, air yang menjadi panas didinginkan dalam cooling tower.
Masalah yang sering terjadi dalam cooling tower system adalah sebagai berikut :
a. Pembentukan kerak
1.     Kerak calcite/aragonite/CaCO3 terjadi karena adanya Ca - hardness dan alkalinity.
2.     Kerak magnesium – silikat terjadi karena adanya Mg – hardness dan Silika.
3.     Kerak silika terjadi karena adanya kandungan silika dalam air.
4.     Kerak phosphat/Ca3 ( PO4 )2, terjadi karena adanya penggunaan bahan kimia yang mengandung phosphat secara tidak tepat.
Mineral – mineral Pembentuk Kerak
Calcite                                              (CaCO3)
Aragonite                                (CaCO3)
Anhydrite                                 (CaSO4)
Gypsum                                   (CaSO4*2H2O)
Calcium Posphate                             Ca3(PO4)2
Hydroxypatite                                    Ca5(PO4)3(OH)
Silica                                       (SiO2)
Magnesium Silicate                          MgSiO3
Brucite                                              Mg(OH)2
b. Korosi
Korosi adalah pengikisan logam yang disebabkan reaksi kimia dengan lingkungan sekitarnya.
Macam – macam korosi :
1.     General corrosion : korosi secara umum, korosi ini mengikis logam dalam jangka waktu yang sangat lama . Terjadinya korosi dapat terdeteksi dari hasil analisa air.
2.     Pitting corrosion : korosi yang disebabkan adanya akumulasi kerak yang tidak merata di logam. Pitting corrosion dapat menyebabkan lubang pada logam, cloride sangat mempercepat pitting corrosion.
Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu dilakukan suatu perawatan sebagai berikut :
a. Pengolahan Fisika
1. Sand filter fungsi untuk menghilangkan kekeruhan dalam air.
2.  Carbon filter fungsi untuk menghilangkan kekeruhan , warna , rasa dalam air.


b. Proses softening/demineralisasi
Proses softening adalah penghilangan semua mineral–mineral dalam air               dengan anion cation exchange.
Ca – H   +       R – Na                           Ca – R                 +       Na – H
Mg – H                                                  Mg – R
c. Bleed Off
Pembuangan melalui pipa bleed off untuk menjaga pemekatan air (Cycle Of  Concentration) dalam cooling tetap dibawah control limit, sehingga terjadiya pengendapan dan korosi akan dapat dihindari.
Ca – R   +       Na+                                R – Na                 +       Ca+
Mg – R                                                  Mg+

c.       Proses regenerasi meliputi :
1. Backwash                 Pencucian resin  dengan aliran balik.
    Waktu = 15 – 20 menit
2. Regenerasi         mereaksikan resin dengan larutan garam , untuk    mengembalikan kemampuan residalam total hardness lagi.
Waktu = 30 – 45 menit
Konsentrasi larutan garam = 10 – 15 %
Kebutuhan garam = 200 gram/liter resin.
3. Rinsing         pencucian kembali resin dari sisa garam.
2.4  Bahan Pendingin (Refrigeran)
Refrigeran adalah suatu zat  yang mudah berubah wujudnya dari gas menjadi cair atau sebaliknya. Substansi ini mengambil panas di evaporator lalu membuangnya di kondensor. Pemilihan refrigeran untuk sistem pendinginan harus disesuaikan dengan penggunaannya, agar diperoleh hasil maksimal, dasar pemilihan refrigeran sebagai berikut:
1.     Temperature pembekuan lebih rendah dari temperatur operasional, sehingga tidak terjadi pembekuan refrigeran saat beroperasi.
2.     Temperature kritis yang lebih tinggi.
Daerah refrigeran bekerja harus jauh dari kritis, artinya temperatur dari refrigeran lebih jauh dari temperatur pengembunan yang normal untuk mencegah kebutuhan tenaga yang lebih tinggi.
3.     Tekanan penguapan tidak terlalu rendah atau mendekati vakum.
Tekanan penguapan sebaiknya diatas tekanan atmosfir, sehingga mencegah kebocoran udara dalam sistem selama operasional.
4.     Tekanan pengembunan yang rendah.
Dengan keadaan pengembunan yang rendah ini, mengijinkan untuk menggunakan material yang ringan dengan pipa yang murah.
5.     Laten Heat harus tinggi pada temperatur penguapan.
Artinya tiap satuan berat refrigeran yang bersirkulasi dalam sistem mempunyai efek pendinginan yang tinggi, sehingga jumlah refrigeran yang dibutuhkan untuk pendinginan yang sama cukup kecil.
6.     Perpindahan panas yang tinggi.
Meliputi rapat massa, panas jenis, kondukfitas, dan viskositas.
7.     Mempunyai Oil Effect.
Dapat bercampur dengan mineral lubricant oil yang digunakan untuk pelumasan bagian - bagian yang bergerak.
8.     Keadaan kimia stabil, dapat bekerja pada tekanan dan temperature keseluruhan kondisi kerja, tidak korosif dengan air, dapat bercampur dengan minyak pelumas kompresor, tetapi tidak mempengaruhi atau merusak minyak pelumas.
9.     Murah, tidak mudah terbakar dan mudah didapat, tidak berbahaya, tidak berbau pada segala keadaan, tidak beracun, yang akan merusak tubuh manusia seperti mata, hidung, kulit, dan lain – lainnya.
10.            Kekuatan dielektrik yang tinggi.
Karakteristik ini sangat penting untuk sistem pendinginan yang menggunakan hermetic compressor, di mana uap refrigeran berhubungan langsung dengan gulungan kawat.

Beberapa jenis refrigeran yang digunakan pada beberapa sistem refrigerasi dan tata udara, diantaranya:
-       R – 11 Trichlorofluoromethane.
-       R – 12 Dichlorodifluoromethane. 
-       R – 22 Chlorodifluoromethane.
-       R – 134a Tetrafluoroethane.
-       R – 717 Ammonia.
-       R – 113 Trichloro.
-       R – 500
-       R – 501
-       R – 502
-       R – 503, dll.


 Gambar 2.24 Tabung R-22







Sumber : www.trane.com
Dari berbagai jenis refrigeran tersebut memiliki karakteristik dan sifat–sifat yang berbeda. Bahan refrigeran jenis R–22 memiliki titik didih – 41,4 °F atau – 40,8 °C pada satu atmosfer. Tekanan penguapan 28,3  Psig pada 5 °F dan tekanan kondensasi 158,2 Psig pada 86 °F. Kalor laten uap 100,6 BTU/lb pada titik didih. Bahan pendingin jenis R–22 mempunyai banyak sifat kelebihan dari pada bahan refrigeran jenis R–12. Penggunaan refrigeran R–22 lebih bagus untuk suhu yang tidak terlalu dingin dan juga mudah didapatkan (Handoko, 1981: 133).
2.5  Diagram Psikometrik
Psikometrik adalah ilmu yang mempelajari sifat-sifat termodinamika dari udara basah. Secara umum digunakan untuk mengilustrasikan dan menganalisa perubahan sifat termal dan karakteristik dari proses dan siklus sistem penyegaran udara (air conditioning).
Pada bagian ini akan dijelaskan bagian-bagian dari tabel psikometrik yang sederhana secara grafik. Secara umum tabel psikometrik digunakan untuk menggambarkan :

1.     Kondisi udara
2.     Proses pengaturan udara (Air Handling)
3.     Proses tata udara (Air Conditioning)
 tWb (Temp wet bulb)
Density
 t Sat (temp jenuh)
RH (Relative Humidity)
 tDb (Temp dry bulb)
Enthalpy (h)
W
 









Gambar 2.25  Grafik Psikometrik
Sumber : Buku Penyegaran Udara, 2002
Keterangan :
     t = tDb     :  Suhu biasa untuk udara yang diukur thermometer
     tWb          :  Suhu bola basah yang diukur thermometer
     tSat          : Suhu jenuh udara, saat kelembaban relative (RH) maksimum 100%, (t Sat = t = tDb = tWb).
     W             :        Kandungan uap air di dalam udara, angka yang menunjukkan adanya sekian massa uap air dalam satuan massa udara.
     RH           : Kelembaban relatif, presentase kandungan uap air dalam udara per kandungan maksimal pada suhu (t) yang sama.
     h               : Enthalpy udara, kandungan energi per massa udara.
     Density     : Volume spesifik udara, volume per massa udara.
2.6  Diagram Mooler (Diagram P-H)
Diagram mooler menunjukkan karakteristik dari gas refrigeran, sehingga dapat menyatakan hubungan antara tekanan (P) pada ordinat dan enthalpy (H) pada absisa dari siklus refrigerasi. Diagram tersebut dinamai diagram tekanan- enthalpy atau diagram P-H.
D
D
B
A
1
2
3
5
4
P
H
 









Gambar 2.26.  Diagram P-H
Sumber : Buku Penyegaran Udara, 2002
Keterangan,
A   =  Keadaan refrigeran setelah mengalami proses ekspansi dari katup ekspansi dan masuk evaporator.
  = Keadaan pada titik A-A1 terjadi proses penyerapan panas sebagian oleh refrigeran.
B   =  Keadaan refrigeran setelah mengalami proses penguapan dalam evaporator dengan menyerap panas dari sekelilingnya.
  =  Keadaan refrigeran setelah mengalami proses pemanasan lanjut sebelum masuk kedalam kompresor.
  = Keadaan refrigeran setelah mengalami proses kompresi  dalam kompresor.
D   =  Kejadian refrigeran setelah mengalami proses kondensasi sehingga mencapai keadaan saturated liquid.
  = Keadaan refrigeran setelah mengalami proses pendinginan lanjut (sub cooling)
1   =  Proses penyerapan panas di evaporator
2   =  Proses super heating
3   =  Proses kompresi di kompresor
4   = Proses kondensasi di kondensor
5   =  Proses sub cooling.
2.7  Perhitungan Beban Pendinginan
Beban pendinginan dimaksudkan sebagai jumlah kalor yang harus dibuang dari ruangan yang dikondisikan yang harus diserap atau ditanggulangi oleh unit mesin pendingin.
Berdasarkan sumbernya, beban pendinginan terdiri atas dua bagian, yaitu :
1.     Beban pendinginan dari luar ruangan, meliputi :
a.     Beban pendinginan melalui diding
b.    Beban pendinginan melalui lantai
c.      Beban pendinginan melalui atap
d.    Beban pendinginan melalui pintu
e.      Beban pendinginan melalui infiltrasi

2.     Beban pendinginan dari dalam ruangan meliputi :
a.     Beban pendinginan dari penghuni
b.    Beban pendinginan dari peralatan yang digunakan.

lighting
human
computer & equipment
solar radiation
conductive
heat gains
 









Gambar 2.27 Sumber Beban Pendingin
Sumber : www.liebert.com
Beban panas konduksi, beban panas ini biasa juga disebut sebagai beban panas yang terjadi secara konduksi karena adanya perbedaan temperature ruang pendingin dengan temperature sekitarnya, seperti melalui dinding, atap, lantai dan pintu.
Besarnya beban panas akan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain : jenis isolasi, struktur dinding, luas dinding luar, dan perbedaan temperature antara ruang pendingin dengan temperature udara luar.
Besarnya beban panas yang mengalir melalui dinding, atap, lantai dan pintu dapat dihitung dengan persamaan :
Q = A x U x (t 0 – t1)                              (Dossat 1961:147)

Keterangan :
     Q  =  jumlah beban panas yang mengalir melalui dinding (Btu/hr)
     A  =  luas permukaan dinding (ft²)
     U  =  koefisien perpindahan panas total dinding (Btu/hr.ft².°F)
     t0  =  temperature udara luar (°F)
     t1  =  temperature udara ruangan pendingin (°F)
untuk mencari harga U dapat dihitung dengan persamaan :
                                    (Dossat 1961:149)
               

Keterangan,
     x          =   tebal bahan isolasi (inch)
     k1,2,3…,n         =          konduktifitas panas dari material (Btu.in/hr.ft².°F)
     fi          =   koefisien konveksi lapisan film udara pada dinding bagian dalam (Btu/hr.ft².°F)
     fo         =   koefisien konveksi lapisan film udara pada dinding bagian luar (btu/hr.ft².°F)
Untuk x/k dapat di ganti dengan I/C (Dossat 1978:193) dimana C adalah panas spesifik dari material (BTU.in/hr.ft².°F).



0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Premium Blogger Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lulut Laraseta, Indonesia